Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 46.


__ADS_3

Aku menggigit kuku ku sembari berpikir.


Jam istirahat tiba. Aku memberanikan diri menarik tangan Maharani, memaksa nya mengikuti ku.


Ia menepis kasar tangan ku saat sampai di tujuan.


"Ada apa!!!" teriak nya.


"Aku tidak sebodoh itu Rani, aku tau kau yang melempari ku kertas itu, jujur saja. Aku sengaja pura pura tidak tau, agar kau mau jujur" pekik ku.


Maharani tersenyum aneh. Ia menatap ku tajam.


"Terus apa mau mu?" tanya nya.


"Akui saja" kata ku.


"Yah, benar, aku yang melempari mu kertas itu, aku menyuruh orang lain untuk menulis itu." kata Maharani.


"Aku tidak peduli itu tulisan siapa, aku mau tanya, kenapa kau lakukan itu pada ku?" kata ku.


Maharani masih membalas menatap ku tajam.


"Aku khawatir, jangan pernah mengungkit masa lalu, jika ingin selamat" ujar nya.


"Mai juga teman mu kan. Apa salah nya untuk mencari keadilan dan mengungkap kebenaran, aku tau kau adalah saksi kejadian itu, lalu kenapa kau diam saja selama ini" pekik ku.


"Aku..... aku tidak tau apa apa" seru Rani berbohong.


"Kau mungkin bisa membohongi semua orang tapi tidak dengan ku, aku akan mengungkapkan semua nya" tegas ku.


Maharani terlihat panik dan khawatir.


"Jangan, Mereka orang kuat di sekolah ini, bahkan kepala sekolah menutupi kasus ini. Berita ini Cukup menjadi konsumsi di sekolah saja" kata Rani.


"Cerita kan pada ku semua nya, setelah itu aku tidak akan pernah mengganggu mu lagi" pancing ku.


Rani terlihat ragu namun setelah aku meyakinkan nya, ia akhir nya mau untuk bercerita.


"Kejadian itu saat kami masih kelas 1, semua orang mengenal Maisaroh dan Maimunah, mereka selalu jadi topik pembicaraan di sekolah ini karena mereka saudara kembar yang berbeda.

__ADS_1


Maisaroh mencolok dengan kecantikan dan kepintaran nya di banyak bidang. Sementara Maimunah berbeda sekali dengan Maisaroh. Maimunah seorang yang lemah, ia kerap menjadi bahan bullian di sekolah, karena wajah nya yang berbeda. Hmm maaf, dia mirip monster. Ia juga tidak pandai dalam pelajaran.


Maimunah memiliki mata yang besar dan taring di gigi nya. Awal dia masuk sekolah saja banyak yang takut melihat wajah nya. Tapi bagaimana pun juga dia adalah saudara kembar nya Maisaroh.


Karena lelah di bulli akhir nya Maimunah jarang masuk sekolah dan memutuskan untuk operasi plastik.


Ia ingin mempunyai wajah cantik yang sama persis dengan kembaran nya itu. Operasi nya memang berhasil, ia sangat mirip dengan Maisaroh. Bahkan terlihat seperti kembar identik.


Selesai operasi Maimunah pun masuk sekolah, seantero sekolah heboh di buat nya. Mereka bahkan susah membedakan mana Maimunah dan yang mana Maisaroh, mereka benar benar kembar sekarang.


Lama kelamaan akhir nya kami semua dapat membedakan mereka. Maisaroh akhir nya memotong pendek rambut nya agar mereka bisa membedakan. Meski mereka tidak akur, Maisaroh tidak keberatan dengan keputusan saudara nya.


Tiba suatu saat perundungan terjadi lagi di sekolah. Maimunah menjadi sasaran empuk kakak kelas yang jahil. Aku melihat semua nya. Karena aku berteman dengan Mai.


Kejadian paling memalukan saat itu adalah ketika mereka membuka pakaian Mai dan membuat video, Mai malu setengah mati.


Aku ada saat itu, tapi aku takut dan bersembunyi. Tapi mereka menemukan ku, aku di ancam akan di perlakukan yang sama jika aku melapor ke pihak sekolah.


Aku tidak ingat mereka ada berapa orang saat itu.


Sejak itu aku dan Mai tidak banyak bicara. Aku yang ketakutan pun menghindari nya.


Kakak kelas kami tertawa lega.


Tapi aku sempat merekam kejahatan mereka, aku hanya takut. Jika aku lapor kan , itu akan membuat ku menjadi buronan mereka. Aku takut sekali, harus nya kau tau posisi ku saat ini. Tapi kau malah mengejar informasi dari ku" jelas Maharani.


"Apa kau masih menyimpan bukti video penyerangan mereka?" tanya ku.


"Iya" jawab nya singkat lalu mengambil handphone yang ada di saku nya dan memperlihat kan nya pada ku.


"Apa ada cerita lain, ku dengar nilai mu merosot jauh?" ujar ku.


"Hmm, sebenar nya, aku menjual peringkat ku" jawab nya.


"Maksud nya?", tanya ku bingung.


"Aku peringkat pertama sejak kelas 1. Tapi di kelas 2 ini Maisaroh lah yang memimpin peringkat, harus nya aku peringkat 2, di kelas. Tapi seseorang membeli peringkat ku. Aku dengan suka rela menjual nya karena aku butuh uang. Untuk biaya sekolah ku. Aku tidak keberatan tidak peringkat, aku bahkan mundur menjauh dari 10 besar di kelas. Jangan katakan pada siapa pun rahasia ini.


Anak itu kasihan, dia di marahi orang tua nya jika tidak dapat peringkat. Aku pun berusaha membuat nya menduduki peringkat yang seharusnya milik ku, dia mendesak agar aku bisa membuat nya peringkat pertama di kelas tapi aku menolak karena tidak ada yang bisa menggeser tempat Maisaroh di kelas ini" jelas nya.

__ADS_1


"Apa? haha, kau memang penuh misteri ya Ran, ada ya orang kayak begitu" ujar ku.


"Ok aku mengerti, aku akan berusaha kau tidak terlibat apa pun Masalah ini. Terima kasih atas cerita dan bukti nya. Maaf menanyakan peringkat mu yang menurun, harus nya itu privasi bagi mu" kata ku lagi.


Aku tersenyum puas mendengar cerita dan bukti dari Rani.


Aku menatap langit, akhir nya terungkap juga.


Ku hembuskan nafas lega.


Aku pun mengajak Rani turun kembali.


Baru sampai ke koridor sekitar kelas Maisaroh menarik lengan ku menuju kantin.


"Gak lapar? lama banget introgasi nya" kata nya.


Kami pun ke kantin. Sambil makan soto ayam ku cerita kan detail apa yang di sampaikan Rani kecuali tentang peringkat nya.


Maisaroh pun bersemangat untuk segera melapor ke pihak sekolah.


"Kau tidak takut?" tanya ku pada Maisaroh.


"Tidak sama sekali, siapa yang berani pada ku di sekolah ini?" seru nya penuh percaya diri.


"Gadis gadis cantik lagi cerita apa sih, jadi pengen ikut nimbrung" ujar Dimas, Adit pun menyusul dari belakang.


Aku hanya tersenyum ringan pada Dimas.


Maisaroh melihat Adit yang masih berdiri.


"Gak ikut duduk? jam istirahat tinggal 10 menit lagi loh" tawar Maisaroh pada Adit.


Ia pun duduk tanpa memesan apa pun.


Dimas selalu saja ada bahan cerita, anak nya asik. Maka nya aku lebih banyak ngobrol dengan dimas sekarang dari pada Adit.


"Kenapa Lo diam diam Bae" kata Maisaroh lagi, ia melihat gelagat Adit yang tidak biasa.


"Gpp kok", jawab nya singkat sambil terus memperhatikan aku yang asik ngobrol sama Dimas.

__ADS_1


Maisaroh tersenyum ringan dan mencolek Adit. Ketahuan banget ekspresi Adit yang cemburu di mata Maisaroh.


__ADS_2