
"Sialan!" umpat Yugo kasar.
Ia pun berjalan cepat ke arah vila keluarga mereka yang tak jauh dari perkebunan teh.
Ia mengganti baju nya dengan kaos oblong berwarna abu abu. Kulit sawo matang Yugo mengkilat terkena sinar matahari.
Yugo berbadan tinggi, body atletis. Macho sekali. Ia juga tampan tidak kalah tampan dengan adik nya Dimas.
Ia menatap kesal pada lembaran kertas nya yang basah. Ia berusaha mengeringkan nya sambil terus mengumpat.
Visual Yugo.
......🌺🌺🌺......
Aku masih belum sadar siapa yang barusan ku temui.
Kakak nya Dimas?
What?!! jadi dia yang di maksud papa. Oh tidak. Hancur masa depan ku. Tuhan pliss jangan sampai aku berjodoh dengan dia.
Dimas membawa sepeda nya di hadapan ku.
"Ayo" ajak nya.
"Sudah sore, mending kita pulang deh" ajak ku. Karena perjalanan kami cukup jauh, bahkan kami sampai ke luar kota.
"Ih, kok pulang, masih jam 3 pun" protes Dimas sembari terus mengajak ku untuk bersepeda.
Aku pun akhirnya menurut saja.
Maharani menatap kepergian kami. Adit lalu, datang dengan sepeda nya untuk mengajak Maharani.
Maharani pun menurut. Roni dan Bimo masing masing membawa sepeda sendiri.
Pemandangan kebun teh yang sangat indah.
Ku pejamkan mata ku lalu tangan ku bentangkan.
"Pegangan lid, nanti jatuh" ujar Dimas.
Sementara dari kejauhan Yugo memperhatikan tingkah adik dan teman teman nya itu dari balik jendela kaca transparan nya vila.
Yugo mengesap kopi hangat nya.
"Dasar bocah ingusan!" gumam nya.
Ponsel Yugo berdering. Ia langsung mengangkat telepon dari Feby kekasih nya.
"Hay sayang, ada apa? rindu yah?" seru Yugo.
"Ih ge er, kamu lagi apa, masih lama kah di sana?" tanya Feby.
"Gak kok, besok juga sudah kembali, cuma ngecek ajja" jawab Yugo.
Obrolan mereka berlanjut hingga setengah jam berlalu.
......🌺🌺🌺......
Puas berkeliling dan berfoto foto aku mengajak pulang. Hari sudah semakin sore. Mungkin kami akan sampai di kota malam.
Dimas menurut.
Selama perjalanannya aku tertidur.
__ADS_1
Dimas tersenyum melihat ku tertidur.
"Tidur ajja cantik" seru Dimas.
Maharani hanya diam. Ia merasa terabaikan jika ada aku di sisi Dimas.
Kami mengantar Maharani dulu , baru kami kembali ke sekolah untuk mengambil mobil ku.
Aku pun membawa mobil pulang, Dimas mengikuti ku dari belakang.
Baru masuk putra sudah ada di depan pintu menungguku.
"Dari mana saja? kenapa rok mu kotor begitu" tanya nya.
"Pulang sekolah tadi kami jalan jalan" jawab ku.
"Ya sudah masuk lah, mandi, bau asem" ujar nya sambil mengacak rambut ku.
"Iyaa" jawab ku.
Rumah terlihat sepi. Tidak terlihat papa di ruang tengah seperti biasa nya.
"Mereka ke undangan" seru putra tanpa aku bertanya.
Seperti nya dia tau apa yang aku pikirkan.
Aku segera ke kamar. Bersih bersih diri. Lelah sekali rasa nya tapi yah lumayan menyenangkan lah.
Ku letakkan ransel pada tempat nya, membuka satu persatu pakaian sekolah ku yang kotor. Mengambil handuk dan melangkah perlahan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku berendam di bathtub.
Tiba tiba aku teringat kakak nya Dimas yang menyebalkan. Ih laki laki seram begitu, kok bisa ya papa mau menantu seperti nya. Membayangkan nya saja aku bergidik ngeri.
Berganti pakaian. Dan rebahan di tempat tidur.
......🌺🌺🌺......
Jumat.
Libur masa tenang sebelum ujian.
Akhir nya kegiatan belajar mengajar aktif di sekolah berakhir juga.
Bertepatan dengan sidang skripsi nya Yugo. Sebentar lagi kuliah nya selesai.
"Lidya" panggil papa. Saat aku sedang asik membaca di tepi kolam.
"Yah" sahut ku.
"Apa kamu sudah siap?" tanya papa.
"Siap apa? ujian?, Insya Allah" Jawab ku.
"Bukan itu, siap menikah?" tanya papa
"Pah, ujian saja belum, tolong jangan ganggu aku, aku harus fokus untuk ujian. Bagaimana jika aku gagal karena papa terus meracuni pikiran ku dan membuat ku stress" ujar ku.
"Baik lah, papa tidak akan mengganggu mu sampai ujian mu selesai" seru papa pasrah.
"Bagaimana mas?" bisik mama.
Papa hanya menggeleng.
"Anak itu keras, tidak mudah menaklukkan nya, dia benar benar mengikuti sifat keras kepala ku" jawab papa.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara lain?" tanya mama lagi.
"Entah lah" jawab papa sembari mereka menjauh untuk mendiskusikan masa depan ku dan putra.
Putra pun datang di panggil oleh mama.
"Putra, ada yang mau mama bicarakan" seru mama.
"Iya mah" putra pun duduk di samping mama nya.
Mama memberikan sebuah kertas.
Putra terkejut.
"Apa kau akan terus tetap egois seperti itu, jika dia tau, dia akan terluka lebih dalam, sebaik nya kamu segera berangkat ke laur negri setelah lulus nanti" seru mama.
Putra menunduk. Mama memeluk putra sambil menangis.
"Maafin mama, mama sayang sama putra" seru nya.
Bergetar tangan putra menerima surat itu. Mata nya berkaca kaca. Berkecamuk hati nya. Menangis dalam diam.
"Baik lah, putra akan bicara pada nya" jawab putra.
Menjelang malam.
"Lidya" putra mengetuk pintu kamar ku.
"Ya, masuk lah" jawab ku.
Putra pun masuk.
"Lidya, untuk kebaikan kita bersama, sebaik nya lupakan perasaan di antara kita, menikah lah dengan pria pilihan papa" seru nya.
Sungguh saat ini sakit sekali hati ku mendengar nya.
"Maksud mu apa, kemarin kamu perjuangan kita di depan papa, sekarang kamu menyerah gitu ajja? hanya segitu kesungguhan mu?" pekik ku.
"Tenang lah, kita harus mengalah demi kebaikan semua, aku juga akan jauh dari mu, siapa yang akan menjaga mu ketika aku jauh nanti? aku akan segera ke luar negeri dan itu akan sangat lama" seru putra.
Air mata ku mengalir.
Putra mengelap air mata ku.
"Jangan sedih, semua Allah yang atur, sebesar apa pun rencana kita ,rencana nya pasti lebih baik" seru nya.
Aku tidak bisa berkata kata. Hanya air mata ku saja yang keluar. Semudah itu putra membuat keputusan. Semudah itu dia melepaskan aku.
"Ingat ,aku akan tetap menjadi kakak terbaik mu, ada atau tiada, jauh atau pun dekat aku tetap kakak mu" seru putra. Suara nya bergetar menahan tangis yang ia tahan.
"Jangan tinggalkan aku" teriak ku saat putra melangkah keluar kamar ku.
Putra berhenti sesaat tanpa menoleh ke arah ku.
"Aku tidak pernah meninggalkan mu" seru nya sembari melangkah menjauh dari ku.
Segera ia masuk ke kamar nya dan menangis dalam kesendirian.
Ku lap air mata ku.
Aku gak boleh cengeng, putra sudah cukup menjaga ku.
Ku lanjut kan belajar meski pikiran dan hati ku sedang tidak baik baik saja.
Putra termenung, ini keputusan berat bagi nya.
__ADS_1