
Aku telah sampai kembali ke Indonesia.
Papa dengan sigap menjemput ku di bandara kota kelahiran ku, karena kata nya malam ini adalah hari pertunangan ku dengan yugo. Singkat sekali. Belum sembuh sedih hati ku karena putra sakit sekarang terpaksa harus bertunangan dengan orang yang tidak aku sukai.
Yugo kan punya pacar, kok dia mau menerima pertunangan ini?
"Yugo punya pacar kenapa memaksa nya tunangan dengan ku?" ujar ku ke papa yang berada di samping ku.
"Pacar? hahaha, pacaran tidak menjamin kamu berjodoh dengan nya kan? maka nya papa melarang mu untuk pacaran" jawab papa.
"Jahat banget sih kalian, tidak memikirkan perasaan orang lain" protes ku.
"Hey, ini juga buat kebaikan kamu, kenapa kamu jadi peduli dengan pacar nya si yugo?" seru papa.
Aku menggeleng kan kepala ku.
"Karena aku wanita, meski aku tidak pernah mengalami nya, tapi pasti sakit dan sedih sekali jika di tinggal nikah!" pekik ku.
"Diam lah, turuti saja apa kata papa!" bentak papa.
Papa keterlaluan. Lihat saja, akan ku buat suami pilihan papa itu menderita hidup bersama ku! batin ku.
Aku memandang ke luar kaca mobil sambil tersenyum kecut dan sinis.
......🌺🌺🌺......
Aku sudah sampai di rumah sekarang. Lelah sekali rasa nya.
Halaman rumah sudah di hias sedemikian rupa untuk acara pertunangan mendadak nanti malam. Huft tidak bisa kah aku kabur entah kemana?
Tumben pakai rumah bukan gedung hotel?
Tapi jika di lihat, rumah kan sudah mewah kayak hotel.
"Ciehh yang mau tunangan, ah tidak terasa non lidya udah dewasa, bibi jadi sedih, dulu masih kecil selalu bibi gendong kesana kemari" ujar bi Minah sedih.
"Ih apaan sih bi, nda suka deh, aku gak suka sama calon nya!" jawab ku.
"Haha gpp non nanti juga suka dengan sendirinya kayak bibi dulu di jodohkan sama orang tua bibi, langgeng nih sampai sekarang" ujar bibi.
Aku tersenyum kecut lagi. Tetap saja, ini jaman modern bukan jamannya bi Minah atau Siti Nurbaya lagi.
Sore itu aku mandi, bersihkan diri dari penat nya perjalanan panjang seharian.
Mendadak tunangan. Lucu sekali ini. Konyol, menurut ku. Apa sih yang papa kejar dengan buru buru ingin aku menikah. Menikah bukan akhir dari segalanya tapi awal hidup baru yang entah itu kelak bahagia atau gak tergantung dengan siapa kita menikah. Huft. Aku bahkan lelah untuk sekedar mengeluh.
Selepas Maghrib Mua profesional datang merias wajah ku. Maafkan aku putra. Tidak, ini belum menikah. Hanya tunangan yang bisa kapan saja aku batalkan. Aku tersenyum sendiri.
__ADS_1
Selepas isya acara pun di mulai. Aku tidak menyangka ini bukan lah pertunangan biasa tapi sekaligus acara lamaran? pantas saja acara nya di rumah.
Papa tidak bilang apa apa soal ini.
Aku Melihat yugo memakai kemeja rapi dengan celana formal nya. Pertanyaan besar bersarang di kepala ku, kenapa dia mau?
Aku tidak melihat dimas di mana pun, dia pasti sedih, tapi aku tidak bisa berbuat apa apa.
"Hey!" seseorang mengejutkan aku dari belakang.
"Astagfirullah, dimas!!!" pekik ku sambil memukul nya.
Ia tertawa melihat ekspresi kaget ku.
"Wah cantik banget sih" puji nya.
"Apaan sih, gak lucu" protes ku.
"Loh, siapa yang bilang lucu sih, sebentar lagi ada yang akan jadi kakak ipar ku, huhu jangan lupa nanti main ke kamar ku yah, hahahaha" tawa nya bercanda membuat sebagian orang melihat kami.
Lagi lagi aku memukul dimas.
"Kamu gpp aku sama kakak kamu?" tanya ku hati hati.
"Awalnya gak sih, aku sampai bertengkar hebat dengan nya dan kedua orang tua ku, aku protes harus nya aku yang menikah dengan mu bukan yugo si brengsek itu" jawab Dimas.
"Aku gak bisa menentang mereka, aku hanya lah anak kentang di banding Yugo yang selalu mereka banggakan" seru nya lesu.
Dimas bisa berbesar hati melihat orang yang ia sukai menjadi milik kakak nya sendiri?
Aku tertegun melihat ketegaran nya.
"Lidya kok masih di sini? acara akan Segera di mulai" seru papa sembari menarik tangan ku untuk mengikuti nya.
Aku berbalik sesaat melihat dimas dengan wajah terpaksa ku.
Dimas tersenyum sembari melambaikan tangan nya.
Semua mengalir begitu saja.
Saat orang tua yugo memberi ku cincin pertunangan itu. Aku bahkan tidak bisa menolak sama sekali. Papa mengancam ku.
Tanpa mama dan putra acara lamaran ini berlangsung lancar tanpa hambatan.
Aku harus bertanya ke yugo. Bukan kah ia juga menentang perjodohan ini. Kenapa sekarang dia mau?
Setelah acara selesai aku berlari ke arah yugo yang hendak pergi pulang bersama keluarga nya.
__ADS_1
"Hey, kita perlu bicara!" pekik ku.
Sontak membuat keluarga yugo berbalik arah memandang ku.
"Wah, seperti nya tunangan yugo ini sudah tidak sabar untuk ngobrol dengan calon suami nya" seru pak eric.
Aku jadi salah tingkah sendiri di buat nya. Bukan itu maksud mi, mereka salah paham.
"Bukan begitu om" protes ku.
"Ada apa?" tanya yugo.
Aku jadi terdiam karena hampir semua mata keluarga nya yang datang memandang ku termasuk dimas. Menunggu jawaban dari Yugo untuk ku.
"Ya sudah, seperti nya tidak ada yang perlu kita bicara kan, ayo mah pah kita pulang" ajak yugo.
"Masuk lah lidya, di luar dingin, ganti gaun mu" seru papa.
Aku mendesah kesal.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Ponsel ku berdering dan aku menerima panggilan itu dari mama.
"Assalamualaikum mah, ada apa?" tanya ku
"Alhamdulillah Operasi nya putra berhasil, tinggal tunggu masa pemulihan" seru mama bahagia.
"Benar kah, Alhamdulillah, terima kasih kabar nya ma" jawab ku, air mata haru ku pun turun dengan sendirinya.
"Mama dengar dari papa kamu barusan kamu tunangan? Alhamdulillah, itu juga kabar baik" seru mama.
Aku terdiam. Ku lap air mata ku dengan jari tangan.
"Jaga putra baik baik, Assalamualaikum" jawab ku sembari menutup telepon.
Aku enggan menjelaskan perihal pertunangan ini. Pasti papa juga sudah cerita semua nya.
Aku meneguk minuman di ruang pesta yang sudah sepi penghuni nya ini. Ku buka paksa gaun itu di ruang tamu. Hingga sekarang hanya memakai dalaman. Tangtop dan celana pendek sepaha. Ku letakkan ke sembarang tempat gaun itu. Bi minah geleng kepala melihat tingkah ku.
Ini bukan cita cita ku , menikah muda. Konyol.
Aku harus menemui feby, pacar nya yugo. Untuk mengajak bekerja sama dengan ku, menghancurkan rencana pernikahan ini.
Aku tidak ingin menikah karena terpaksa.
Aku bahkan tidak berpikir untuk menikah di usia dini. 18 tahun. Aku masih 18 tahun meski pun bulan depan sudah 19 tahun.
__ADS_1