Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Tugas.


__ADS_3

"Kenapa diam? aku keren yah?" seru nya kepedean.


Ih, aku menatap nya sambil mengejek, memelet kan lidah ku.


"Udah ah, makasi udah cerita tentang Naira" jawab ku.


Yugo tersenyum menang.


"Setidaknya sekarang kamu bisa mengucapkan terima kasih" ujar Yugo.


Aku berdiri hendak kembali ke kamar ku.


Tapi tapi yugo menahan tangan ku.


Aku menoleh ke arah nya.


"Ada apa lagi?" tanya ku.


Yugo menggeleng.


"Terus kenapa menahan ku?" ujar ku.


"Tidak bisa kah kita seperti pasangan yang lain? aku juga ingin merasakan menjadi seorang suami yang sesungguhnya" seru Yugo tiba tiba.


Aku kembali duduk.


"Ini resiko karena telah memaksa menikahi ku, aku butuh waktu, maaf membuat mu menunggu, jika kamu tidak sabar, kamu bisa mencari yang lain, setidak nya aku sudah berusaha dan mencoba menuruti apa kata papa, jadi jika kamu ingin pisah dan jalani lah kehidupan pernikahan normal seperti yang lain nya" jawab ku.


Yugo kecewa dengan jawaban ku.


"Tidak, aku tidak akan berhenti sampai di sini, jika pun kau tidak mau, aku bisa cari wanita lain tanpa menceraikan mu, aku bisa punya istri 2, kau tidak akan bisa kemana mana sementara aku bersenang senang dengan yang lain. Haha" senyum licik yugo mulai beraksi.


Aku mengerutkan kening ku.


"Aku tidak tertarik dengan cinta dan kamu, silahkan saja jika bisa" jawab ku sambil menepis tangan nya.


Yugo yang kesal akhirnya tidur dalam kesendirian lagi. Ia tidak menyangka istrinya akan sekeras ini. Tidak mampu ia jangkau hati dan raga nya. Harus kah yugo mencari yang lain?


.......🌺🌺🌺.......


Aku sedang sibuk sendiri mengerjakan tugas kuliah ku di perpustakaan umum. Ku bawa laptop dan berkas lain.


Otak ku rasa nya penuh.


Setelah rampung separuh tugas aku keluar untuk menyegarkan kembali otak ku.


Ku beli jajanan di sekitar.


Dari jauh aku lihat yugo berjalan beriringan bersama seorang gadis cantik.


Senyum ku mengembang.


"Dia pikir aku akan cemburu? dasar kekanak Kanakan" Batin ku.


Ku lanjutkan makan cemilan dan es milo yang aku pesan.

__ADS_1


"Lidya?" sapa seseorang di belakang ku.


Aku menoleh. "Eh bimo, sini ngopi dulu, biar nda stress" jawab ku.


"Haha memang nya kamu sedang stress?" ujar bimo.


"Lumayan sih karena semua tugas ini" jawab ku.


"Oh, sabar ajja, jalani, nikmati proses nya" ujar bimo.


"Nikmati proses apaan, ini mah bukan tugas lagi nama nya tapi....


belum sempat aku lanjut kan bicara ku yugo datang seorang diri menghampiri ku. Sedang wanita tadi sudah tidak kelihatan.


"Oh jadi ini kelakuan mu di luar, berduaan dengan cowo lain?" bentak yugo.


Aku sampai malu di buat nya.


"Ya ampun, yugo jangan gila, ini bimo teman ku sejak sekolah dulu, sama kayak dimas. Bisa bisa nya kau berkata seperti itu!" balas ku.


"Maaf mas yugo, kami tidak sengaja bertemu kok, kami gak janjian untuk bertemu di sini, tanya ajja sama kang somai ini" bela bimo.


"Ayo pulang sekarang!" bentak yugo sambil menarik tangan ku.


Aku terpaksa mengikuti nya agar kejadian memalukan ini segera berakhir.


Aku minta maaf ke bimo dan pamit pulang.


Aku menghempaskan kan tangan yugo sebelum masuk ke dalam mobil.


"Kau lupa, kau sudah menikah, gak baik berduaan begitu di luar sana, meski pun itu teman mu, bagaimana pun juga dia itu cowok" balas yugo.


"Aku muak sama kamu, aku gak pernah protes apa pun yang kau lakukan di luar sana. Aku sudah stress dengan tugas kuliah ku, jangan nambah lagi hal hal yang gak penting seperti ini!" jawab ku.


"Gak penting kata mu?!" pekik yugo.


Yugo langsung memeluk ku, erat sekali hingga aku sesak nafas di buat nya.


"Apa yang kau lakukan!" pekik ku.


"Aku cemburu, maaf aku mencintaimu lidya wijaya, maafkan aku" ucap nya lembut tepat di telinga ku.


Aku tidak tau harus berkata apa. Emosi ku yang tadi mulai reda. Gerimis turun di saat yang tidak tepat. Menambah suasana menjadi semakin drama, Yugo membuka jaket nya dan memayungi ku dengan jaket itu, ia lalu mengantar ku segera masuk ke dalam mobil agar tidak terkena hujan. Gerimis berubah menjadi hujan lebat, sejak tadi memang Langit gelap, mendung.


Setelah itu yugo yang setengah basah pun segera masuk ke dalam mobil.


Aku jadi tidak tega melihat nya kebasahan seperti itu. Ah jangan luluh lidya, batin ku.


Kami pun pulang bersama. Kali ini supir tidak menjemput ku karena Yugo sendiri yang mengantar ku pulang.


Lokasi yang lumayan jauh membuat kami semakin kedinginan.


"Kamu gpp?" tanya ku saat ku lihat wajah yugo yang berubah pucat.


"Gpp kok, cuma kedinginan, butuh kehangatan eakk. hihi" canda nya.

__ADS_1


"Masih sempat bercanda di saat seperti ini?" ujar ku.


"Aman sayang" ucap nya.


Aku terdiam, ini kali pertama yugo memanggil ku sayang. Setelah lebih sebulan pernikahan.


Dan dia juga pria pertama yang memanggil ku seperti itu.


Seperti ada yang menggelitik di otak ku setelah mendengar itu. Rasa aneh itu muncul lagi.


Tidak terasa kami telah sampai di villa. Penjaga villa menyambut kami.


"Waduh, kok hujan hujan pak" ujar bi sumi saat melihat yugo kehujanan.


"Lagi drama india bi, biar keliatan romantis dalam hujan ahhaha" canda yugo.


Bi sumi langsung senyum senyum sendiri mendengar nya. Bi sumi lalu memberikan kami handuk.


"Seperti nya aku harus mandi deh, biar gak masuk angin, kamu mau ikut?" tanya nya.


"Ikut kemana?" jawab ku.


"Mandi bareng" ucap nya genit sambil mengedipkan satu mata nya membuat ku ilfil.


"Ih dasar om mesum" balas ku.


"Haha, berarti kamu istri om mesum dong" seru nya.


"Udah sana, pergi mandi" ku dorong tubuhnya masuk ke dalam kamar nya.


Aku pun masuk ke dalam kamar ku. Hanya berganti pakaian, aku tidak mandi.


Ku rebahkan diri ke atas kasur empuk villa ini. Sebenarnya ini kamar yugo. Tapi dia memilih tidur di kamar tamu.


Tidak lama kemudian kamar ku di ketuk dan bibi datang membawa perlengkapan yugo seperti baju dan segala nya ke kamar ini.


"Eh, tunggu deh bi, ada apa ini, kok kayak orang pindahan?" tanya ku.


"Iya memang pindahan non, pak Yugo pindah kembali ke kamar ini, bibi seneng deh, gak baik loh pisah kamar gitu non, kalo akur begini kan enak di pandang" seru bibi.


Akur?


Huft, padahal aku sudah nyaman tidur sendiri.


Yugo datang hanya memakai handuk. Ia lalu mengunci pintu.


"Hay istri ku" sapa nya sembari mengambil pakaian yang akan dia pakai.


Aku menatap nya jijik.


Ia bahkan tidak malu membuka handuk nya di hadapan ku.


Aku refleks berteriak dan menutup mata ku.


Yugo tertawa melihat tingkah ku.

__ADS_1


__ADS_2