Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bertemu kawan lama


__ADS_3

Aku telah sampai di terminal. Yugo menjemput ku. Ia telah lama menunggu.


Aku sedikit berlari menghampiri nya.


Kami bertemu dan berpelukan erat melepaskan kerinduan yang mendalam.


"Aku merindukan mu sayang" ucap yugo.


Aku tersenyum.


"Sama, aku juga" jawab ku.


Kami pun kembali pulang ke kontrakan.


Keesokan harinya.


Kami makan siang di luar merayakan selesai nya kkn ku, kami bertemu seseorang.


"Lidya!" pekik seseorang.


Aku menoleh. Dunia terbalik sekarang. Aku terlihat lusuh dan dia terlihat cantik, anggun dan menawan.


Maharani . Yah dia Maharani, sahabat lama ku, sekaligus sepupu ku. Ku persilahkan ia duduk dan berkenalan dengan yugo.


"Aku Maharani, sepupu lidya" ucap Maharani membuat ku terkejut.


Karena setau ku tante sifa tidak mau mengungkapkan kebenaran bahwa ia adalah ibu kandung nya Maharani.


"Gak usah kaget gitu deh lid, aku sudah tau semua nya kok, tentang tante sifa yang ternyata ibu kandung ku dan kamu adalah sepupu ku karena ibu kita bersaudara. Dunia emang sempit yah" ujar nya.


Aku hanya tersenyum.


"Kamu apa kabar?" tanya ku.


"Alhamdulillah baik, kamu sudah berhijab sekarang, ah cantik nya" puji Maharani.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya ku.


"Sama pacar ku, tuh" tunjuk nya.


Aku pun menoleh untuk melihat siapa pacar nya Maharani.


"Kamu serius sama dia?" tanya ku khawatir.


"Lah emang nya kenapa? aku bertemu lagi dengan nya setelah pindah kampus" seru Maharani.


Orang itu melambaikan tangan nya ke arah ku.

__ADS_1


Aku mengenal nya. Dia roni. Teman kami semasa SMA dulu.


Maharani lalu menyuruh roni pindah tempat ke tempat kami.


Kami pun berkumpul ber 4.


"Eh kabar Maisaroh bagaimana?" tanya ku.


"Masih di lapas kan, sudah lama sekali aku tidak melihat nya, kasian dia menghabiskan masa muda nya di sana karena satu kesalahan fatal" jawab Maharani.


"Sama, aku juga lama tidak menjenguk nya. Masih mending karena dia kena pasal pidana di bawah umur, Tapi tetap saja itu bukan waktu yang sebentar" seru ku.


kasus pembunuhan itu sendiri menurut pasal 338 KUHP ancaman pidananya 15 tahun untuk orang dewasa sedangkan untuk anak yang melakukan delik tersebut maka dikurangi ½ dari ancaman pidana orang dewasa yakni 7,5 tahun.


Mata Maharani menatap ku heran. Ia menatap ku dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti tidak percaya.


"Apa yang terjadi pada mu lidya?" tanya Maharani.


"Maksud nya?" tanya ku balik.


"Kamu baik baik saja kan?" tanya nya lagi.


"Iya aku baik baik saja kok" jawab ku.


"Tunggu tunggu, kayak ada yang gak biasa deh, pasti terjadi sesuatu sama kamu kan, ayo cerita, kamu gak biasa begini" paksa Maharani.


Aku akhirnya menceritakan perihal aku keguguran dan konflik panjang dengan papa Sehingga aku terusir dari rumah karena memilih hidup bersama suamiku.


"Tapi aku baik baik saja kok sekarang" jawab ku.


Roni asik ngobrol juga dengan yugo. Mereka baru berkenalan.


"Eh ngomong-ngomong kenapa kamu di sini? bukan kah kamu tinggal bersama om rado di kota xxx" tanya ku.


"Mereka ada di sini kok. Mama dan om rado sekeluarga, Kami sedang liburan" jawab Maharani.


"Roni ikut?" tanya ku.


"Gak, kebetulan dia jg libur selesai kkn jadi dia pulang kampung kembali kesini, kan orang tua nya di sini" jawab Maharani.


"Ohh begitu yah. Hmm gak nyangka deh kalian bisa bersama" ujar ku.


"Haha jodoh kan kita gak tau. Aku juga gak nyangka kamu bakal nikah sama kak yugo, kakak nya dimas" jawab roni.


"Buruan deh nikah" seru ku pada mereka.


"Sabar bun, selesai kan kuliah dulu baru kami nikah" jawab Maharani.

__ADS_1


Selepas makan kami inisiatif menjenguk Maisaroh di lapas. Sudah lama kami tidak melihat nya.


Yugo menunggu di depan sambil duduk-duduk bersama roni. Aku dan Maharani masuk ke dalam ngobrol dengan Maisaroh.


Tidak banyak yang berubah. Maisaroh tetap cantik hanya saja ia terlihat pucat dan kurusan. Mungkin karena jarang terkena matahari?


"Ku pikir kalian sudah melupakan aku" seru Maisaroh.


"Maafkan kami, sekarang kami di sibukkan oleh tugas kuliah, dan aku juga sudah tinggal jauh, tidak tinggal di kota ini lagi" ucap Maharani hati hati.


Benar saja, Maharani tidak menjenguk nya selama ia pindah rumah.


Aku pun hanya sesekali menjenguk. Satu tahun sekali ketika hari raya. Teman macam apa aku ini.


"Sabar yah, gak lama lagi kok kamu bebas, nanti kita rayakan kebebasan mu" ujar ku.


"Ah jangan menjanjikan aku sesuatu, kelak kita juga punya kehidupan masing masing, sekarang saja kalian jarang sekali terlihat" ujar Maisaroh lesu.


"Maafkan kami mai" ujar ku sembari menceritakan kejadian apa saja yang menimpa ku selama ini.


Maisaroh melihat ku prihatin.


"Sabar yah, siapa yang berani menyakiti mu, sini aku bunuh, aku kan psikopat hahaha" tawa Maisaroh saat ini tidak terlihat lucu justru menyeramkan.


"Ihh dasar psyco" celetuk ku.


"Haha berarti kalian teman nya psyco dong, kok kalian masih mau berteman dengan psikopat seperti ku?" tanya mai.


"Itu kan masa lalu mai, kami berharap kamu bisa berubah jadi orang yang lebih baik lagu setelah keluar dari sini, kami tetap teman mu apa pun yang terjadi" seru ku.


"Haha, waktu kalian sudah habis tu, aku masuk dulu yah, jangan khawatir, aku baik baik saja di sini" ucap nya sembari berdiri karena waktu kami sudah habis untuk ngobrol dengan nya.


Mai kembali di bawa masuk ke dalam sel.


Aku dan Maharani pun pulang. Maharani pulang ke hotel tempat keluarga nya menginap selama liburan.


Sedangkan aku dan teman yugo pulang kembali ke rumah kontrakan kami.


Baru masuk ke dalam rumah yugo langsung memeluk ku erat sekali seperti takut kehilangan.


"Main yuk" ajak nya tiba tiba, Aku tersenyum simpul.


"Bentar yah" jawab ku sambil mengunci pintu.


"Mau nya sekarang" ujar yugo manja seperti anak kecil minta sesuatu.


"Iya iya" jawab ku sambil mengikuti nya ke kamar.

__ADS_1


Memang sudah kama sekali kami tidak bermanja-manja seperti ini. 2 bulan lama nya yugo menahan diri tanpa aku.


Kata nya saat nya balas dendam. Haha sedikit geli aku mendengar nya.


__ADS_2