Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Tersesat.


__ADS_3

Maharani keluar tenda hendak kemana dia seorang diri.


"ran mau kemana?" teriak ku.


Maharani tidak menghiraukan ku. Ia tetap berjalan jauh masuk ke dalam hutan?


"Sudah lah, biarkan saja dia" seru Mai.


Mai menarik lengan ku untuk duduk kembali.


Aku pun menuruti Mai.


Dimas dan Adit menghampiri kami.


"Hay gadis gadis, lagi apa di sini" seru Dimas.


Aku dan Mai langsung terdiam.


"Eh, lagi duduk duduk ajja" jawab Mai.


Kami pun menghabiskan malam dengan ngobrol sambil ngemil.


Malam semakin larut.


Kami semua tertidur. Aku tiba tiba terbangun mendengar suara jeritan, aku tersadar Maharani belum kembali ke tenda.


Kulihat Mai tertidur pulas.


Aku tidak tega membangunkan nya.


Aku lalu keluar untuk mencari Maharani.


"Kenapa anak itu belum kembali sih" desah ku.


Ku langkahkan kaki ke arah hutan tempat Maharani terakhir ku lihat.


Nyali ku ciut seketika.


Tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundak ku.


Aku hendak berteriak tapi ia menutup mulut ku.


"Dimas, ngapain kamu kesini", bisik ku.


"Harus nya aku yang bertanya, mau kemana kamu?" tanya nya.


"Aku mau mencari Maharani, sejak tadi belum balik ke tenda" jelas ku.


"Kenapa gak lapor ke panitia sih" seru Dimas.


"Jika mereka tau, Maharani akan di marahi dan di sangsi karena pergi seenak nya tanpa laporan" jawab ku.


"Ya sudah kalo gitu aku ikut, gak mungkin kan kamu pergi sendirian malam begini?" tawar Dimas.


Aku mendesah.


"Hem, baik lah" ujar ku.

__ADS_1


Dimas mengambil senter di tenda dan aku menunggu nya di luar.


"Ayo, buruan nanti ketahuan panitia" bisik ku.


Dimas segera berlari ke arah ku.


Suasana hening, hanya ada beberapa suara Panitia yang bergantian berjaga di luar.


Kami menyelinap dari pohon ke pohon agar tidak terlihat oleh mereka.


Setelah berhasil berjalan agak jauh dari tenda kami memasuki sebuah hutan yang lumayan lebat, panitia sudah memperingatkan kami untuk tidak kesana. Karena konon kata nya, orang yang masuk hutan itu tidak akan berhasil kembali keluar. Entah itu hanya menakuti agar kami tidak berkeliaran atau memang ada mitos yang beredar di masyarakat.


Di pikiran ku hanya menyelamatkan Maharani. Mungkin saja dia tersesat di sana.


Aku akan membawa nya kembali ke tenda sebelum ketahuan panitia dan kami semua aman dari sangsi.


Kami berjalan dalam kegelapan, hanya cahaya senter dan bulan sabit di atas sana yang hampir tidak bisa menembus rimbun nya hutan itu.


"Kenapa kamu segitu perduli nya sama Maharani?" tanya Dimas.


"Karena dia teman ku, kalau pun tidak aku peduli karena aku manusia, bukan kah kita sebagai manusia harus saling tolong menolong?" ujar ku.


Dimas tertegun. Dia semakin kagum dan menyukai ku.


Dimas mengangguk setuju.


Kami berteriak memanggil Maharani.


Sudah hampir setengah jam lebih kami berkeliling, aku sudah membuat tanda sebelum masuk hutan ini agar nanti kami bisa kembali tanpa tersesat.


"Aku lelah, jangan jangan dia sudah balik ke tenda" seru Dimas.


Dimas mengarahkan senter nya ke arah sosok itu. Apa itu Maharani?


Kami semakin merapat, berjaga jaga siapa tau itu bukan Maharani, lebih tepat nya bukan manusia.


"Iya, aku juga melihat nya, ayo kita kesana siapa tau itu Maharani" bisik Dimas.


Aku dan Dimas bergantian berteriak memanggil Maharani tapi dia tidak menjawab nya.


Aku semakin merinding.


"Stop dim, seperti nya itu bukan Maharani" ujar ku.


jarak kami tinggal 5 meter dari lokasi sosok itu.


Ia pun menoleh ke arah kami, dengan wajah yang hancur penuh darah dan belatung.


Tidak lama kemudian bau busuk menyengat.


Aku ingin muntah. Tapi Dimas segera menarik ku untuk berlari menjauh dari sosok itu.


Aku dan Dimas berlari sekuat tenaga, bukan Maharani yang kami dapat malah hantu.


Setelah cukup jauh aku dan Dimas beristirahat sejenak di bawah pohon.


Jantung kami berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta melainkan karena kaget melihat sosok gaib dan lelah berlari.

__ADS_1


Baru sejenak duduk, ada yang menepuk pundak ku, aku refleks berteriak nyaring. Dimas sampai panik.


"Kalian ngapain di sini?" tanya nya bingung.


Aku atur kembali nafas ku yang kian sesak. Sungguh kami seperti sedang senam jantung sekarang.


"Astaga Maharani, kau dari mana saja, kami dari tadi mencari mu" pekik ku.


Maharani hanya diam.


"Kamu ngapain sih dalam hutan, gak balik balik, gak bawa apa pun lagi, emang kamu bisa melihat jalanan tanpa senter!!!" pekik ku marah.


Maharani masih diam tak menjawab.


Dimas merasa ada gelagat aneh di Maharani.


"Ada yang gak beres nih lid, yuk kita balik ajja ke tenda" tanpa berpikir panjang Dimas menarik tangan ku sekuat tenaga berlari lagi mengikuti nya.


Aku berbalik melihat Maharani yang kini tertawa membahana, suara nya nyaring sekali. Seolah mendominasi hutan.


Aku dan Dimas terus berlari. Nafas ku kian sesak.


"Aku gak kuat lagi, kita istirahat dulu" pekik ku.


"Sudah gak ada waktu untuk istirahat, kita harus kembali ke tenda. Kita laporkan saja ke panitia bahwa Maharani hilang" pekik Dimas.


Tapi aku sudah tidak sanggup lagi berjalan. Dimas lalu menyenter kaki ku yang lecet parah.


Dimas lalu menggendong ku di pundak nya.


Berjalan menuju kembali ke rombongan tenda.


"Kenapa tidak sampai sampai? aku sudah mengikuti petunjuk tanda yang kita buat tadi, kita seperti berputar putar di tempat yang sama" ujar Dimas putus asa.


"Maafkan aku sudah menyusahkan mu" seru ku dari belakangnya. Karena aku sedang dalam gendongan Dimas sekarang.


"Bukan salah mu, aku yang mau ikut" seru nya.


"Lalu bagaimana sekarang, apa kita tersesat?" air mata ku mulai turun, aku takut. Sangat takut.


"Tenang saja, aku akan mencari jalan, bagaimana pun cara nya" ujar Dimas dengan nafas tersengal sengal karena perjalanan jauh yang tidak ada ujung nya. Apa lagi sambil menggendong ku.


Kami beristirahat sejenak. Rasa haus mulai ku rasa kan.


"Aku haus dim" seru ku.


"Iya sama" jawab nya.


"Jadi kita harus bagaimana sekarang?" tanya ku putus asa.


Senter Dimas sudah mulai redup, seperti nya baterai nya akan segera habis.


Aku panik.


Dimas menenangkan ku, menggenggam tangan ku.


"Tenang, kita harus cari jalan keluar, kalo kita panik pikiran kita akan kacau dan tidak bisa berpikir jernih" ujar Dimas.

__ADS_1


Aku sedikit tenang. Cahaya bulan hanya secuil saja yang masuk menerangi, mungkin karena hutan nya terlalu rimbun.


Kami mulai lagi berjalan mencari sumber mata air, entah di mana, kami sangat haus sekarang.


__ADS_2