Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Rumah Mai.


__ADS_3

Curhatan author sejenak.


Maaf sering salah ketik, typo dan lain lain. Begini lah jadi nya kalo ngetik sambil terburu buru. Di antara sibuk nya kerjaan nyata sambil memikirkan dan ngetik ide cerita. Saking sibuk nya author belum menikah nih. Keasikan kerja sampai lupa cari jodoh hihi. Curhat. Doain author cepat nikah yah, Aamiin 🀲🏻


......🌺🌺🌺......


Aku juga sebenar nya gak enak menerima ajakan mai. Terlihat banget dia seperti terpaksa. Tapi dimas justru gak mau berkunjung kerumahnya tanpa aku. Aku jadi serba salah, pada akhir nya aku ikut juga.


Sesampai nya di rumah itu kami langsung duduk di sofa ruang tengah. Rumah Mai sederhana tapi luas.


"Eh ada nak Dimas dan lili datang, Adit mana? biasa nya bareng sama Adit" seru Sofia mamah nya Mai.


"Eh, Adit masih sakit Tante" ujar Dimas.


"Oh iya Tante lupa, Mai sudah cerita" seru Tante Sofia.


"Ayo makan dulu baru ngobrol" ajak Tante Sofi sembari membimbing kami ke ruang makan.


Terlihat Mai sudah berganti pakaian.


"Eh maaf yah agak lama" seru Mai tersenyum sambil ikut duduk ke meja makan.


Ada banyak sekali menu makanan di meja ini. Sangat menggiurkan, apa lagi jam pulang sekolah itu memang jam jam nya lapar.


"Mari makan" ajak Mai.


Kami bertiga pun makan. Aku tidak mau kalap. Seperti biasa aku membatasi makanan ku.


"Sok diet lu, nasi secuil gitu bisa kenyang?" protes Dimas melihat nasi ku yang sedikit.


Ia pun menambah nasi di piring ku


Tentu saja aku protes hebat.


"Astaga Dimas!!!" pekik ku marah.


"Kenapa, makan tuh yang wajar, makan segitu sedikitnya supaya apa?" kata Dimas.


"Terserah aku dong, ini kan tubuh ku, aku yang atur!!!" jawab ku.


Aku tidak suka Dimas mengatur makanan ku. Kami memang jarang akur, hal hal kecil saja sudah membuat kami bertengkar.


"Aduh, sudah deh, ini meja makan bukan tempat berdebat!" Mai akhir nya menegur kami.


Ah Dimas mulai menyebalkan, tapi bila di pikir pikir memang dari dulu menyebalkan, ia selalu saja melakukan hal yang dia suka tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

__ADS_1


Dan kadang aku lelah bertengkar dengan nya.


Pernah dulu kami tidak teguran hanya karena aku minum es saat lagi flu dan batuk, dia marah. Dan aku gak suka hidup ku di atur atur orang lain. Meski aku tau itu juga demi kebaikan ku.


Pernah juga aku yang marah karena dia selalu menggangu ku. Akur nya jarang lebih banyak bertengkar nya.


Aku menatap nasi ku yang banyak di piring. Aku gak mungkin bisa menghabiskan nya.


Ku pasang wajah gak enak ke Mai.


"Gpp makan ajja pelan pelan, nanti habis juga kok, ayo" ajak Mai saat melihat ku meringis melihat makanan ku.


Belum mulai saja melihat nya aku sudah kenyang duluan.


Dimas memang selalu begitu, gerutu ku dalam hati.


Ku raih sendok untuk mulai makan tapi aku teringat putra. Putra suka makan tanpa pakai sendok. Ku letakkan kembali sendok itu.


"Loh kenapa gak jadi ambil sendok? gak jadi makan, jangan ngambek dong" rayu Dimas.


"Apaan sih, aku mau makan pakai tangan ajja" seru ku.


"Sudah cuci tangan?" tanya nya


"Sudah tadi" jawab ku singkat lalu mulai makan.


"Eh Mai, apa kalian 1 kamar dulu dengan Maimunah?" tanya ku.


"Kami sempat 1 kamar tapi Maimunah minta kamar sendiri, jadi dia pindah kamar di sebelah" jawab Mai.


"Boleh aku melihat lihat kamar nya?" tanya ku.


Ini kesempatan untuk mencari tau kejanggalan pikiran ku selama ini.


Mai mengangguk. Kami pun ke sebelah melihat lihat bekas kamar nya Maimunah.


"Sudah setahun kepergian Maimunah, tapi kamar nya masih lengkap dan rapi seolah olah ada penghuninya, itu karena mamah tidak mau menghilangkan nya, jika rindu Maimunah mamah selalu masuk ke kamar ini. Apa lagi sekarang mama hamil, jadi kamar ini untuk adik aku nanti" ujar Mai.


Aku mengangguk.


"Kenapa tidak ada foto sama sekali?" tanya ku.


"Itu karena Maimunah tidak suka berfoto" seru Mai.


"Oh begitu" ujar ku. Aku masih memutar bola mata ku menatap seisi kamar.

__ADS_1


Dimas pamit ke kamar mandi. Mai juga di panggil Mama nya. Tinggal lah aku sendiri di kamar itu.


Mata ku menatap jajaran buku Yang ada di atas meja belajar.


Ku buka buku buku itu. Tulisan tangan Maimunah unik. Aku lalu mengembalikan ke tempat nya. Tiba tiba sebuah buku jatuh membuat ku tersentak kaget.


Aku pungut buku itu. Sebuah majalah. Ku lihat tahun nya, majalah tahun lalu. Mereka bahkan masih menyimpan majalah ini.


Ku buka perlahan majalah itu. Banyak sekali coretan di dalam nya.


Ada tulisan kecil, nyaris tak terbaca karena tulisan tangan maimunah latin.


"Aku benci Maisaroh" baca ku.


Kenapa Maimunah membenci Maisaroh?


Mai tiba tiba sudah ada di belakang ku. Membuat ku terkejut bukan main.


"Astaga Mai, sejak kapan kamu datang!" pekik ku kaget.


"Haha, kamu sih terlalu serius, liatin apa sih?" tanya Mai.


"Ah ,gak cuma lihat lihat saja" jawab ku sambil menutup majalah itu dan meletakkan nya di tempat semula.


"Buku Maimunah banyak yah" seru ku.


"Iya dia suka sekali membaca" jawab Maisaroh.


"Apa kalian tidak punya album foto?" tanya ku lagi.


"Ada kok, mau lihat?" tawar nya.


"Iya mau" jawab ku antusias.


"Baik lah, aku ambil dulu yah di kamar ku" jawab Mai.


Aku menunggu, Mai datang membawa album foto mereka sejak kecil hingga remaja saat ini.


Ku perhatikan Mereka jarang foto berdua karena Maimunah minder. Karena wajah nya yang mengerikan Maimunah nyaris tidak punya foto sebelum dia operasi plastik.


"Sejak kecil Maimunah pendiam. Jarang bergaul karena anak anak takut dekat dengan nya, ia di anggap monster sejak kecil. Ia selalu di rumah. Setiap bepergian papa dan mama hanya mengajak ku, contoh ke undangan kerabat papa atau mamah mereka pasti mengajak ku, tidak pernah Maimunah. Ia meringkuk sendiri kesepian di kamar ini. Aku tau perasaan nya. Aku selalu menghibur nya, melindungi nya dari anak anak, tapi Maimunah tetap membenci ku. Karena iri, dia sangat iri dengan perlakuan tidak adil dari orang tua kami. Itu lah mengapa mamah sangat sedih dan menyesal karena telah gagal menjaga Maimunah dengan baik" jelas Maisaroh.


Ku perhatikan tanda lahir di foto kecil nya Maimunah. Sesuatu berwarna coklat di lengan kiri nya.


Aku lalu melirik ke arah Maisaroh.

__ADS_1


Tiba tiba Dimas datang mengagetkan kami.


Mai lagi lagi mencubit lengan Dimas karena sudah membuat kami terkejut.


__ADS_2