Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 36.


__ADS_3

Sinar matahari sore itu masih terang.


Seolah masih siang.


Dedaunan di atas pohon bergerak seolah menari tertiup angin.


Setelah lelah berlari kecil, kami istirahat sejenak dan minum air mineral yang kami beli dari penjual cilik di pinggir jalan.


Aku memperhatikan bumi yang sedang minum. Jakun nya bergerak saat menenggak air mineral nya, wajah tampan nya penuh keringat, sejak kapan dia setampan ini, wah gila, apa yang aku pikirkan. Dia sahabat ku.


Aku lalu memalingkan pandangan ku ke arah jalan agar Bimo tidak tau aku sedang memperhatikan nya.


"Kenapa gak di minum air nya?" tanya Bimo.


"Eh iya" jawab ku singkat sambil meminum air mineral ku.


Hari mulai petang, kami pun pulang ke rumah masing masing.


Bimo menatap ku curiga saat aku sudah mulai jauh, ia menatap sampai punggung ku tak terlihat lagi dari kejauhan.


"Kenapa anak itu mirip Lidya? ah mungkin hanya pikiran ku saja" batin Bimo.


Selepas mandi aku beristirahat sejenak Lalu makan malam dan mengerjakan PR dari sekolah.


Keesokan hari nya.


Tidak terasa sudah sebulan aku bersekolah di sini.


"Apa kau telah berhasil bertemu dengan mai lagi?" tanya Maisaroh.


Aku menggeleng.


"Entah lah, ia menghilang" jawab ku.


Adit mendatangi ku membawa sebuah buku.


"Apa ini?" tanya ku.


"Novel, bagus deh, coba kamu baca" jawab Adit.

__ADS_1


"Aduh aku gak hobby baca begituan, aku lebih suka nonton film" seru ku.


"Serius bagus, coba ajja baca" paksa nya.


"Ihh apa sih, aku gak mau jadi kutu buku yang kerja an nya hanya membaca dan membaca", tolak ku.


Maharani menatap ku, ia sedang membaca novel juga, tapi novel horor yang aku liat dari sampul nya.


Aku melempar kecil buku itu, Adit menangkap nya kewalahan, hampir saja buku itu jatuh.


"Jika tidak suka membaca, jangan perlakukan buku seperti itu!!!" seru Maharani saat aku tidak tertarik membaca dan malah melempar buku itu.


Ini adalah kali pertama aku mendengar suara nya. Gila, pita suara nya gak berkarat apa, jika tidak pernah di gunakan seperti itu.


Aku menatap datar ke arah nya. Ia malah membalas menatap ku sinis.


Dan aku tidak tau kenapa dia tidak suka pada ku.


Adit menepuk pundak ku.


"Dia memang seperti itu Li, jangan di hiraukan" kata Adit menenangkan ku.


Tiba tiba Maharani mendatangi ku dan meminta maaf telah membentak ku.


Aku hanya bisa mengangguk dan memaafkan nya.


Namun agak ganjil.


Maisaroh terkenal dingin dan tidak ada satu orang pun di sekolah itu yang mampu menyentuh nya. Bukan hanya karena cantik dan body goals nya, tapi karena Maisaroh pintar bela diri.


Ia telah menggeluti karate sejak masih kecil.


Sekarang ia karate sabuk merah, setingkat lagi akan naik sabuk hitam seperti cita cita nya sejak dulu, jika ia sabuk hitam, sempurna lah, cantik tak tertandingi di sekolah atau di mana pun ia akan tetap juara.


Pelajaran di mulai, semua serius belajar. Aku memperhatikan mereka satu persatu.


Soal di papan tulis Mereka berebut untuk mengerjakan nya. Kalo di sekolah lama ku justru kebalikan nya.


Setelah selesai pelajaran. Wali kelas kami datang memberi pengumuman.

__ADS_1


"Menyambut 17 agustus kali ini ada banyak perlombaan persahabatan antar sekolah ada yang berminat daftar lomba?" tanya pa Budi.


Astaga tidak terasa sebentar lagi hari kemerdekaan republik Indonesia.


Ah aku tidak berminat. Aku kan tidak punya keahlian apa pun.


"Lili, kamu minat gak?" tanya Adit.


"Tidak" jawab ku singkat.


"Lili,kamu saya tunjuk mewakili kelas kita masuk ke club volly yah" tunjuk pak Budi.


"Eh kok saya pak. Saya gak tau main volly" tolak ku.


"Pelatih club' voli meminta perwakilan 1 orang di setiap kelas, karena di tim voli orang nya masih sedikit. Wanita yang badan nya tinggi di kelas ini cuma kamu yang lumayan, ada tim dari club voli yang akan mengajari kamu, tenang, nanti di seleksi kok siapa yang akan ikut perlombaan Antar sekolah, semangat" seru pak Budi.


Aku menggeleng pelan. Bernafas berat.


Tinggi? jelas Maharani lebih tinggi dari ku, kenapa bukan dia saja. Maisaroh juga tinggi. Kenapa harus aku sih. aku menatap semua wanita di kelas ku. Mereka tersenyum. Yah benar, rata rata tinggi wanita di kelas ini sekitar 150 cm.


"Kamu pasti bisa" seru Adit menyemangati ku.


Adit ikut lomba basket


"Saya mau ikut lomba catur kalo ada pak" seru Maisaroh.


"Loh gak mau ikut lomba karate sar?" seru pak Budi.


"Bosan ah, " Hanya itu kata yang keluar dari seorang Maisaroh.


Pak Budi tersenyum dan menggeleng pelan.


"Kamu bisa ikut kedua nya kalo mau" pak Budi mencatat nama nama yang akan ikut lomba.


Aku pasti mengacaukan lomba, aku kan tidak pandai main volly. Ah belum mulai saja aku sudah stress.


Kira kira seperti ini sosok Lili alias lidya Wijaya.


__ADS_1


__ADS_2