Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Terabaikan.


__ADS_3

Sesampai nya di restoran aku langsung memesan makanan kesukaan ku.


Putra terlihat bingung karena memang tidak biasa dan kurang suka makan di restoran.


"Kenapa gak pesan?" tanya ku.


"Hem entah lah, aku bingung mau pesan apa" jawab putra pasrah. Ia memang tidak terbiasa makan di restoran.


"Hem ,aku pilihkan ajja yah" ujar ku sambil melihat lihat menu.


"Iya sembarang ajja, atau kasi sama dengan pesanan mu saja" seru putra.


Aku pun mengangguk.


Ku lihat putra seperti salah tingkah.


"Ada apa sih, gelisah banget" ujar ku.


Putra menatap ku.


"Gak ada apa apa kok" jawab nya tanpa melihat ku.


"Ih kok bicara gak lihat muka sih, gak sopan tau!" protes ku.


Putra masih melihat ke arah lain.


Beberapa menit kemudian makanan pun datang dan tersedia di atas meja.


"Mari makan" seru papa.


Mama tersenyum mengangguk, lalu menyantap makanan nya.


Setelah dari restoran papa mengajak kami berkeliling kota.


Mobil stop pas di lampu merah. Seorang anak kecil sedang mengamen. Ku keluarkan uang dari dalam tas ku. Papa memang tidak pernah memberikan pengamen2 itu tapi ia tidak pernah melarang ku untuk memberikan nya pada mereka.


Lampu hijau kami mobil melaju lagi.


"Kita pulang atau ada yang ingin kalian kunjungi?" tanya papa.


Tiba tiba telepon ku berdering.


Maisaroh menelepon.


Segera ku angkat telepon itu.


"Halo Mai, ada apa?" tanya ku.


"Adit sudah sehat sekarang. Ayo kita ke rumah nya" seru Mai bersemangat.


"Eh, bentar ya" ku tutup layar handphone dan bertanya ke papa.


"Aku ingin ke rumah teman" seru ku.


"Baik lah, papa antar yah" jawab papa.


Tumben?


"Ok Mai. Aku otw yah" seru ku.


Mobil memasuki pekarangan rumah Adit, aku pun segera turun dari mobil.


Putra turut turun.


"Loh, kamu gak ikut pulang?" tanya ku.


Putra mengabaikan ku. Malah minta ijin ke papa dan mama untuk menemani ku.


Tentu saja mereka mengijinkan.


"Jika mau pulang telepon supir saja yah" kata papa sambil membelokkan mobilnya nya.

__ADS_1


Kami hanya mengangguk dan melambaikan tangan.


"Ih kamu kenapa ikut?" tanya ku.


"Bawel. Gak boleh aku ikut?" protes putra.


"Em, boleh sih tapi.... ah sudah lah" ujar ku sambil melangkah masuk ke dalam rumah Adit.


Terdengar deru suara motor khas nya Dimas.


Ku lihat Mai memeluk Dimas dari belakang.


Aku tersenyum kecut.


"Maaf yah,kami lama?" kata Mai pada ku.


"Gak kok, aku juga baru datang" ujar ku.


Mai menatap bingung ke arah putra.


"Gak usah tanya kenapa dia ikut, sudah biasa kan dia ikut kita" seru ku tanpa Mai bertanya lebih lanjut.


Langkah ku paling depan menuju pintu masuk rumah Adit.


Ku ketuk pintu dan mengucap salam.


Seorang ibu-ibu membukakan pintu.


"Ehh, teman teman Adit, ayo ayo, silahkan masuk" sapa mama nya Adit sembari mempersilakan kami masuk.


Adit sedang duduk di ruang tengah sambil main game di handphone nya.


Anak itu masih hobby main game.


Melihat kami datang Adit pun berdiri menyambut kami.


Mama Adit ke dapur membuatkan kami minum.


"Alhamdulillah udah pulih, besok sudah bisa turun sekolah, rindu banget sama kalian" seru Adit.


Maisaroh terlihat sangat lega dan bahagia, ia segera mendekat ke Adit dan memeluk nya erat.


"Makasih yah udah selamat" seru Mai terharu.


Aku menatap heran ke arah Mai. Barusan aku lihat ia memeluk Dimas di boncengan motor, Sekarang memeluk Adit?


Sekali lagi aku tersenyum kecut.


Tidak, aku tidak cemburu.


Aku hanya merasa lucu ajja melihat nya.


Putra menyadari perubahan ekspresi ku yang secara tiba tiba. Ia lalu tersenyum lebar seperti hendak mengejek ku lewat senyuman itu.


"Hahaha" tawa nyaring putra tiba tiba membuat kaget mereka semua.


Ku pukul ringan paha putra yang duduk di sebelah ku.


"Apaan sih, jangan berulah deh di rumah orang ini, tau gini aku gak mau kamu ikut" protes ku ngambek.


"Idiw ngambek, abis ekspresi mu lucu banget sih tadi kek orang anu........" tak sempat kata kata itu keluar ku cubit kuat lengan nya membuat nya menjerit kesakitan.


"Aduhhh!!!" pekik putra lagi lagi membuat yang lain terkejut.


"Kamu kenapa put?" tanya Dimas.


"Ini nih, dia mencubit ku gara gara tertawa. Emang tertawa di larang yah?" tanya putra.


"Tawa mu itu bikin orang kaget tau!" proses ku.


"Maad deh" seru nya.

__ADS_1


Mai masih terlihat dekat dengan Adit.


Tante Luna, mama nya adit keluar dari dapur membaca minuman dan cemilan.


Aku menepok jidat ku karena baru ingat sesuatu.


"Astaga Tante kenapa repot repot" seru ku.


"Harus nya kita yang bawa sesuatu" bisik ku ke teman teman.


Kami saling pandang, kami semua lupa sedang menjenguk.


"Udah deh gak usah lebay, aku kan sudah sembuh, gpp, santai ajja" ujar Adit.


Aku merasa gak enak tapi ya sudah lah.


"Aduh, ini sih gak merepotkan, silahkan di cicipi" tawar Tante Luna.


Kami mulai mencicipi cemilan buatan Tante Luna. Cuaca malam itu lumayan dingin. Ku mengecap manisnya teh melati yang ada hadapan ku.


Ah enak nya. Jarang sekali aku merasakan teh seenak ini.


Putra dengan perlahan minum teh nya. Lalu memberi kan jempol ke arah Tante Luna.


"Masya Allah, enak banget teh nya Tante" seru putra.


Tante Luna tersenyum senang.


"Syukur lah kalo begitu" jawab Tante Luna sembari pamit masuk kembali ke dalam dan mempersilahkan kami untuk menyantap cemilan dan teh nya.


Aku masih menatap Mai. Aku bingung siapa sebenarnya yang dia sukai. Hati ku terbatas karena sebuah janji untuk tidak menerima cinta Dimas. Aku bahkan belum menjawab kedua nya.


Tunggu waktu yang tepat.


Aku merasa terabaikan saat ini, Dimas dan Adit sibuk ngobrol sendiri dengan Mai tanpa melibatkan aku


"Lidya Wijaya, ada apa dengan mu hari ini, kau terlihat murung?" ujar putra tiba tiba.


Aku terkejut mendengar ucapan putra.


"Maksud nya? aku gak murung kok, aku baik baik ajja" balas ku.


"Kau yakin?" tanya nya lagi.


Mai, Adit dan Dimas langsung menatap ku mendengar ucapan putra, membuat ku salah tingkah.


"Yakin lah, apaan sih put" ujar ku.


Mai tersenyum ringan lalu melanjutkan ngobrol dengan Adit dan Dimas. Aku hanya diam menatap mereka yang sibuk dengan obrolan masing masing.


Putra menarik lengan ku untuk keluar.


Aku berontak, pergelangan tangan ku sampai sakit.


"Ada apa sih!!!" pekik ku


"Ayo kita pulang sekarang!" bentak putra.


Aku belum pernah melihat putra membentak ku lagi seperti ini selama menjadi saudara ku.


Dimas keluar mencari ku.


"Ada apa? kok kalian keluar?" tanya Dimas bingung.


Putra tidak menjawab, ia mengambil ponsel di saku nya tapi ia urungkan niat nya. Memasukan kembali ponsel ke saku nya dan masuk ke dalam pamit pulang bersama ku. Aku hanya bisa mengiyakan.


"Lidya!!!" panggil Dimas. Aku menoleh tapi putra menarik lengan ku untuk segera keluar dari pekarangan rumah itu.


"Kita gak minta jemput supir?" tanya ku.


"Sekali sekali kita naik bus, biar suasana nya berbeda" jawab putra.

__ADS_1


Sesampai nya di halte kami pun duduk diam. Aku masih bingung kenapa putra memaksa ku untuk pulang.


__ADS_2