Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Ujian nasional.


__ADS_3

Hari ujian nasional akhirnya tiba juga.


Ku pakai tanda peserta ujian.


Duduk manis menyiapkan mental dan tenaga untuk berpikir.


Ujian pertama bahasa Indonesia.


Suasana hening, ada polisi di luar sana, menjaga keamanan agar sekolah tetap dalam keadaan tetap kondusif, aman dan terkendali.


Alhamdulillah ujian berjalan dengan lancar.


......🌺🌺🌺......


Seminggu kemudian.


Ah, akhir nya ujian nasional selesai juga, aku bernafas lega. Ujian sekolah juga sudah selesai lebih dulu.


Saat nya bersantai di rumah menunggu hasil ujian sekitar kurang lebih 3 Minggu lagi.


Putra sudah prepare ke luar negeri, mengurus segala sesuatu nya.


Setelah pengumuman kelulusan nanti dia langsung berangkat.


Aku belum siap kehilangan putra.


Lebih tepat nya tidak akan pernah siap.


......🌺🌺🌺......


Siang jam 2.


Tiba tiba saja teman teman berkunjung ke rumah ku.


Dimas dan kawan kawan.


"Non, teman teman nya datang tuh, mereka menunggu di bawah yah" seru bi Minah.


"Iya bi, suruh tunggu sebenar, buatkan minum yah" jawab ku.


"Siap non" jawab bibi.


Aku pun turun melihat siapa siapa saja yang datang.


Ku langkah kan kaki ku bawah. Mata ku bengkak karena habis menangis semalaman karena sedih melepaskan putra pergi.


"Rame banget, tumben" seru ku saat melihat teman teman datang ke rumah ku.


"Kami hendak menculik mu" jawab Dimas.


Roni memukul ringan kepala Dimas.


"Apaan sih ron, kenapa juga kamu selalu ikut, padahal aku tidak pernah mengajak mu" pekik dimas.


"Gak usah basa basi langsung ajja kasih tau tujuan kita kemari" ujar Roni.


"Begini, Saudari Lidya Wijaya binti Rudi Wijaya. Saya kemari hendak menepati janji saya untuk mengajak anda menginap di vila keluarga saya bersama teman-teman setelah ujian nasional selesai, bersediakah anda untuk menerima tawaran ini" Jelas Dimas sambil tangan nya terulur seperti sedang melamar ku.


Aku tersenyum melihat tingkah Dimas.


"Alay Lo" balas ku.


Putra datang menyambut tangan dimas. Lalu menghempas ringan nya.


"Mata mu kenapa bengkak gitu Li" seru Maharani khawatir.

__ADS_1


"Gpp kok" jawab ku.


Bibi datang membawakan minum.


"Ayo di minum dulu baru ngobrol, seneng deh banyak temannya non lidya berkunjung kemari" ujar bi Minah.


"Makasih bi" seru ku.


"Ih bibi cantik kenapa repot repot sih, kami kan kemari cuma sebentar itu pun mau menculik Lidya selama beberapa hari" seru dimas.


"Haha bisa ajja, mau di culik kemana emang?" tawa bibi sembari pamit kembali ke belakang.


"Ada deh bi" jawab dimas.


Dimas dan yang lain lalu menatap ke arah ku, menunggu jawaban.


"Kapan sih?" tanya ku.


"Sekarang" jawab Dimas mantap.


"Apa?! sekarang?" pekik ku.


"Iya Li, maaf yah mendadak, liat nih kami sudah siap. Memang sengaja kamu terakhir yang kami kabari, kejutan. Hehe, ayo deh siap siap sekarang" jelas Maharani.


Aku menggeleng, absurt banget deh ajakan mereka mendadak begini, tiba tiba pula.


"Ya sudah aku siap siap dulu" jawab ku sembari melangkah kembali kamar.


Putra mengikuti ku.


"Kalian mau kemana?" tanya putra.


"Mau liburan, mungkin yang terakhir bis bareng mereka, karena setelah lulus semua pasti akan berbeda kan, meski pun bisa tetap ngumpul pasti tidak seintens saat masih sekolah" jelas ku.


"Baik lah, hati hati" jawab putra.


Diam diam putra mengasihani ku karema semenjak putra menyatakan untuk melepaskan aku ,mata ku selalu bengkak, senyum ku jarang.


Tapi apa daya ku? aku gak mungkin berjuang sendirian.


Ku pegang dada ku yang masih terasa sakit.


Meski begitu aku bersyukur punya teman yang baik seperti Dimas dan kawan kawan yang menghibur ku.


Tidak banyak yang aku bawa, hanya beberapa lembar baju saja ku taruh di dalam ransel ku.


Ku raih skincare dan sabun pencuci muka.


"Kamu gak ijin ke papa?" tanya putra yang tiba tiba saja sudah berdiri di pintu.


"Aku sedang sedang tidak ingin menghubungi nya, beri tahu saja aku kemana jika dia bertanya" jawab ku.


"Hati hati ya, jaga diri mu." seru putra.


Aku menatap nya sesaat tanpa menjawab apa pun. Selesai berkemas aku pun pamit pergi.


Putra menatap ku menjauh. Ada rasa bersalah di hati nya. Tidak putra, kamu tidak salah. Ini salah kita berdua. Salah dalam menempatkan hati ini. Kau sering bilang jangan sampai cinta kita ke makhluk lebih besar dari pada ke Tuhan.


Tapi bukan kah perasaan ini, hati ini kepunyaan Allah. Bukan kah Allah punya kuasa penuh dalam membolak-balik kan hati manusia.


Apa yang kita rasakan saat ini adalah kehendak nya.


Aku pun turun ke bawah, teman teman sudah menunggu ku dengan antusias.


Kami semua naik mobil nya Dimas.

__ADS_1


Dari balkon atas putra melihat ku pergi.


Ia terduduk menahan sakit.


Mama datang di saat yang tepat, mama menenangkan nya.


Mama merangkul nya sembari menangis.


"Lebih cepat lebih baik, kita tidak usah menunda lagi, kamu pergi lah sebelum pengumuman kelulusan, mama akan mengurus semua nya dari sini" seru mama.


......🌺🌺🌺......


Aku menatap ke luar jendela kaca mobil Dimas.


"Akhir-akhir ini kamu kelihatan murung, ada apa?" tanya Dimas pada ku.


Aku tidak menjawab justru melamun menatap jalanan yang ramai.


Dimas pun akhirnya diam. Teman teman yang lain juga menyadari perubahan sikap ku.


Tapi Mereka memilih untuk diam saja, memberi ku ruang dan waktu untuk menyendiri.


Mata bengkak ku bukti bahwa aku sedang tidak baik baik saja.


Ekspresi ku datang. Perjalan cukup jauh.


"Gak asik deh kalo Lidya begitu, galau, nda ceria, suasana juga jadi ikut gak bersemangat" seru Roni nyaring.


Aku tidak menghiraukan nya.


Teman teman lain memukul ringan roni karena menyinggung perasaan ku yang sedang berduka.


Tidak terasa sudah 3 jam perjalanan kami.


Kami telah sampai di lokasi, hamparan perkebunan teh yang luas, kami semua pun turun dari mobil.


Ku lihat sekeliling. Tempat ini memang menenangkan.


Ku raih ransel ku yang berada di bagasi mobil Dimas.


"Ayo" ajak Dimas. Ia pun membuka kunci villa itu.


Bola mata ku berputar memandang sekeliling.


"Wahh, indah banget, ya kan lid" seru Roni sambil merangkul pundak ku.


Dimas buru buru memisahkan kedekatan jarak ku dengan Roni.


"Ayo ikut aku. Akan aku tunjukan kamar mu dan Maharani" ajak nya.


Aku pun menurut. Maharani mengikuti kami dari belakang.


Villa nya luas banget.


"Nah ini kamar kalian" seru Dimas sembari mempersilahkan kami masuk.


"Makasih ya dim" jawab Maharani sembari tersenyum manis.


"Semoga nyaman ya" jawab nya.


Aku menatap ruangan itu.


"Kok bengong sih, ayo" seru Maharani sembari menarik tangan ku untuk masuk.


Maharani meletakkan ransel nya di sisi kanan tempat tidur, lalu merebahkan diri di kasur.

__ADS_1


"Wah empuk nya, nyaman seperti di hotel" ujar Maharani kagum.


__ADS_2