Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 69.


__ADS_3

Pertandingan semakin menegang kan. Aku sudah hampir kehabisan tenaga.


Tapi berkat dukungan dari teman teman. Aku Akhir bisa mencetak poin terakhir untuk kemenangan kami.


Kami bersorak, teman teman sekolah pun bersorak menang kecuali tari, ia terlalu malu untuk mengakui kemenangan ku.


Wulan memeluk ku.


"Maaf teman teman, aku pamit ke toilet dulu, kebelet pipis sejak tadi" ujar ku berbohong padahal aku sudah tidak sanggup lagi menahan tangis yang sedari pagi ingin ku tumpahkan.


Aku berlari kencang ke toilet.


Baru sampai di depan toilet air mata ku tumpah. Aku terisak Isak di depan westapel.


Entah berapa lama aku menangis di sana. Seseorang keluar dari toilet, memberi ku tisu.


Ku raih tisu itu dan terus menangis.


Dinda?


"Menangis lah, jika itu melegakan mu" seru nya.


"Terima kasih Lidya atas kebaikan mu, maaf aku tidak mengenali mu kemarin, kamu cantik sekarang, baik lagi, semoga tuhan membalas semua kebaikan mu" seru Dinda.


Aku hanya mengangguk. Mata ku mulai bengkak.


"Ibu ku sedang di operasi sekarang, tapi aku ke sekolah untuk melihat mu bertanding" ujar nya lagi.


"Apa?!" pekik ku.


Tiba tiba suara ponsel Dinda berdering.


"Saudara Dinda, segera datang ke rumah sakit, ibu anda sedang kritis" seru seseorang di balik telepon.


Lutut Dinda seketika lemas. Ia berjalan terseok seolah tak bertulang. Ia berpegangan pada dinding toilet.


"Ada apa???" tanya ku.


"Ibu ku, ibu ku... aku harus ke rumah sakit sekarang" hanya itu yang keluar dari mulut Dinda.

__ADS_1


Aku lalu merangkul Dinda dan membantu nya untuk bisa berjalan normal.


Ku panggil putra.


Kami ber 3 pun segera ke rumah sakit tempat ibu Dinda di rawat.


Sesampai nya di sana dokter langsung meminta maaf kepada kami.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain, maafkan kami, ibu kamu tidak tertolong" jelas seorang dokter pada kami.


Dinda jatuh, tangis nya pecah, aku berusaha menenangkan nya. Ku peluk ia erat.


Dinda berlari ke dalam.


"Bu, ibu... bangun Bu, ini Dinda datang, sama teman Dinda yang baik itu, ibu yang meminta dinda untuk menonton pertandingan nya kan, Dinda sudah nonton Bu, teman Dinda menang, bu..... jangan tinggalkan Dinda, ibuuuuuu.........." seru Dinda dengan air mata yang mengalir deras.


Aku pun ikut menangis melihat Dinda.


"Dinda, yang sabar yah, ibu kamu sudah saat nya pulang kepada pemilik nya. Ikhlaskan, sejati nya kita semua milik Allah. Sedih wajar tapi jangan meratapi, kasian ibu kamu" nasehat putra.


Aku dan putra membantu mengurus jenazah ibu nya Dinda ke rumah nya, sekalian kami akan bantu pemakaman beliau.


Aku dan Dinda naik mobil jenazah sementara putra menyetir mobil sendiri di belakang.


Dinda menggeleng.


"Punya tapi seperti tidak punya", jawab nya.


"Maksud nya?" tanya ku bingung.


"Di kota ini hanya ada aku dan ibu ku, selama ibu ku sakit tidak ada satu pun saudara nya yang menjenguk, Bude dan pakde semua cuek, semoga saja mendengar berita kematian ibu ku mereka Mau datang, maaf yah merepotkan" ujar Dinda.


"Oh, tidak apa apa, kalo ayah kamu ada di mana?" tanya ku.


Dinda diam, ia seperti tidak ingin bercerita tentang ayah nya.


"Ayah ku di penjara" jawab Dinda.


"Hm maaf, karena apa?" tanya ku.

__ADS_1


"Ayah ku seorang pejabat negara yang korupsi, ia di tangkap KPK setahun yang lalu. Dulu hidup ku senang, bahagia kaya raya, rumah ku besar, semenjak ayah di tangkap dan semua fasilitas kami di sita, aku hidup hanya dengan ibu ku.


Dulu semua keluarga sangat baik pada kami. Semenjak jatuh miskin dan ibu sakit sakitan, keluarga seolah menghilangkan, tidak ada satu pun yang memperhatikan kami, aku masih sekolah, belum tau benar cara nya mencari uang dengan cepat, di tambah lagi ibu ku sakit, mau tidak mau aku menerima tawaran om om yang mau membayar ku mahal.


Hingga aku terjebak pada pak Rio di perpustakaan sekolah, ia janji akan membayar ku mahal tapi dia tidak membayar nya setelah tugas ku selesai, maka nya kami bertengkar saat itu karena dia tidak mau bertanggung jawab, semua semakin kacau saat aku tau aku hamil, ia tidak mengakui ini anak nya, padahal jelas jelas dia lah orang terakhir setelah sekian lama aku tidak melayani om om di luar sana" jelas Dinda.


Berat juga cobaan hidup si Dinda ini.


"Bagaimana bisa kau tekuni pekerjaan haram seperti itu?" tanya ku.


"Aku punya teman yang menawarkan, dia sudah pengalaman" jawab Dinda.


"Di mana dia sekarang?" tanya ku.


"Entah, aku sudah lama tidak kontak lagi dengan nya, dia masih muda, seumuran kita, dia putus sekolah dan bekerja, menekuni pekerjaan haram itu hanya selingan saja bagi nya" jawab Dinda.


Tidak terasa kami telah sampai di tujuan. Di rumah sewa Dinda dan ibu nya.


Tetangga nya Dinda melayat bukan nya mendoakan malah mencemooh, aku tidak habis pikir.


"Istri koruptor itu meninggal, harus nya suami nya itu yang mati di eksekusi" bisik seorang ibu ibu tetangga Dinda.


"Hust jangan bilang gitu Bun, kasian loh, sudah suami nya koruptor, anak nya pelacur. Lengkap sudah" bisik ibu yang lain.


Mereka berbisik tapi nyaring seolah sengaja untuk Dinda dan aku mendengar nya.


Dinda hanya bisa menangis. Aku sudah tidak tahan lagi, mereka semakin menjadi jadi.


"Mon maap nih buk ibuk. Kita gak tau umur, bisa jadi besok kita yang mati, emang ibu ibu mau ketika Mati nanti aib cela nya di ceritain orang kayak gitu. Ini suasana duka Bu, jangan menambah beban duka buat yang di tinggalkan, harus nya kita menenangkan nya bukan malah menjatuhkan, meski pun benar mereka salah lebih baik ibu nasehati nya baik baik bukan dengan cara seperti itu. Apa lagi mengingat Dinda masih sekolah. Masih labil dan Masih banyak kesalahan yang dia sengaja atau tidak. Dia butuh suport bukan hinaan" tegas ku panjang lebar.


Tim Fardu kifayah di RT itu mulai melakukan tugas nya. Termasuk cepat, sore itu juga setelah sholat ashar jenazah ibu nya Dinda di makamkan mengingat tidak ada keluarga yang di tunggu.


Dinda sudah berusaha menelpon pihak keluarga nya di kampung tapi tidak ada yang merespon. Ada yang merespon hanya dengan chat doa. Tidak ada yang datang.


Meski banyak tetangga jahat tapi masih ada yang baik, datang mendoakan, ikut sholat jenazah hingga ikut ke pemakaman.


Menjelang malam.


Putra pamit ke masjid untuk sholat isya.

__ADS_1


Aku dan putra seperti nya akan menginap di sana, aku tidak tega meninggalkan Dinda sendirian. Kami di rumah itu bagai keluarga nya Dinda. Aku memesan makanan ketering dan kue kue siapa tau ada yang akan datang lagi mendoakan.


"Sebaik nya nanti kamu pindah dari sini. Kontrak di tempat lain saja" ujar ku ke Dinda.


__ADS_2