Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Salah.


__ADS_3

Kami menatap ke arah danau.


Bertanya tanya tentang bagaimana masa depan kami nanti.


"Buka telapak tangan mu" perintah nya.


Aku menurut saja.


Dimas lalu perlahan meletakkan sesuatu di telapak tangan ku.


Dimas memberikan sebuah gantungan kunci bentuk bola voli.


Persis banget sama bola voli asli tapi dalam bentuk minimalis.


Aku tersenyum ringan.


"Makasih yah,kamu yang ulang tahun kok malah aku yang di kasi hadiah" seru ku.


"Kamu terima hadiah itu sudah cukup kok, jika ada yang menyakiti mu cari lah aku. Aku ada untuk mu" ujar nya mantap.


Dimas benar benar mirip putra. Aku menatap nya sesaat.


"Alah alay Lo ,sok romantis. Haha" ujar ku.


"Aku serius" jawab nya.


Aku tepuk pipi Dimas.


"Hey sadar lah, bukan saat nya untuk bucin, pulang yuk" ajak ku.


Dimas mengangguk.


......🌺🌺🌺......


Sesampai nya di rumah, aku langsung mandi dan lain lain.


Aku tidak melihat putra di mana pun.


Aku datangi ajja lah kamar nya.


Ku ketuk lalu ku buka pintu nya tapi terkunci?


Tumben.


Ku ambil ponsel dan menelpon nya tapi tidak di angkat.


Putra kemana yah?


Menjelang malam aku kembali mengetuk pintu kamar putra.


"Putra...." panggil ku.


Terdengar suara kunci di gerakkan dan terbuka lah pintu kamar itu. Putra muncul di balik pintu sambil menatap ku aneh.


"Kamu ngapain sih, kamar pake di kunci segala" kata ku.


"Ini kan kamar ku, terserah mau aku kunci atau gak" jawab nya ketus.


"Kamu kenapa?" tanya ku.


"Harus nya aku yang tanya, kenapa kamu bohong sama ku" seru putra.

__ADS_1


"Bohong? maksudnya?" tanya ku.


Apa putra tau aku pulang sekolah jalan sama Dimas?


"Kau gak ada kerja kelompok kan?" seru putra.


"Eh, iya, maaf yah, tadi Dimas bilang dia ulang tahun hari ini, aku kasihan karena tidak ada yang mengingat ulang tahun nya, maka nya aku menemani nya" jawab ku.


"Kenapa harus bohong, kan kamu bisa bilang" seru putra.


"Iya yah, Hem inti nya maaf" ujar ku.


Ku pikir putra akan marah.


"Aku gak punya hak sejauh itu untuk marah atau cemburu" seru putra sambil mengacak rambut ku.


Aku terdiam mematung sementara putra sudah pergi ke bawah untuk makan malam.


Aku turut turun.


......🌺🌺🌺......


Ku temukan gantungan kunci bentuk bola voli dari Dimas di dalam saku putih abu abu ku.


Aku tersenyum sesaat.


"Dasar anak aneh" gerutu ku.


Apa aku kasi hadiah ya, tapi apa, Dimas hobby nya apa yah?


Aku gak mungkinlah juga nanya putra kan?


Apa ku kasi perlengkapan ibadah ajja yah?


Ide bagus Lidya! batin ku.


Baik lah aku akan belikan sajadah, kopiah dan sarung? apa lagi yah? tasbih, Al-Qur'an.


Lah kok jadi seperti seperangkat alat sholat? haha.


Ok besok aku akan beli itu semua setelah pulang dari sekolah.


Keesokan hari nya. Aku benar benar pergi ke sebuah toko yang khusus menjual seperangkat alat sholat.


Ku satukan dalam kardus besar.


Lalu aku bergegas memberikan langsung ke rumah Dimas.


Ku tekan bel rumah nya, seorang perempuan paruh baya membukakan pintu.


"Ada Dimas nya bi?" tanya ku.


"Eh non lidya, ada non, ada, tuan muda lagi santai di atas, masuk ajja" jawab bibi yang sudah kenal dengan ku.


"Baik bi, makasih yah" seru ku.


Aku pun naik ke atas rooftop rumah mewah nya.


Suasana masih sama seperti dulu, seperti cafe.


Sesampai nya di atas ku lihat Dimas sedang santai sembari berbaring di salah satu kursi, sambil mendengarkan musik di ponsel nya menggunakan headset.

__ADS_1


Ku sentuh pundak nya perlahan. Ia sangat terkejut melihat ku ada hadapan nya.


"Surprise!!!" pekik ku.


Ku keluarkan kado dan kue mini yang aku beli. Tanpa lilin.


Awal nya ia kaget, setelah itu malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi bingung ku.


"Selamat ulang tahun Dimas, doa terbaik untukmu" ujar ku.


Dimas malah menertawakan ku.


"Ih kok malah ketawa sih" protes ku.


"Aduh, maap maap nih yah, aku gak ulang tahun Lidya Wijaya, aku becanda kemarin, maaf aku bohong, soal nya aku pengen banget jalan sama kamu" ujar Dimas.


"Astaga! becanda mu gak lucu Dimas!" pekik ku sembari pergi.


Tapi Dimas menahan pinggang ku.


"Karena sudah di sini ,ayo makan bersama" ajak nya.


"Gak, dasar pembohong!" seru ku.


"Sama" jawab nya.


"Maksud nya?" tanya ku.


"Sama kayak kamu, pembohong, iya kan" Dimas memasang wajah serius membuat ku gak nyaman.


Aku diam saja. Iya benar aku pembohong. Aku kehilangan sahabat karena aku pembohong.


Aku melempar gantungan kunci bola voli ke arah nya dan berlari turun.


"Lidya....!" pekik Dimas sambil mengejar ku.


Dimas memeluk ku dari belakang, aku berontak.


"Maafkan ucapan ku, aku hanya bercanda" seru nya.


"Lepaskan aku Dimas!??" bentak ku.


"Makasih banyak yah, atas perhatian mu, kau memang teman yang baik" seru Dimas sembari melepas pelukan nya.


Aku tidak menjawab dan segera pulang.


Dimas hanya bisa memandang punggung ku yang semakin menjauh.


Dimas naik ke atap kembali mengambil kue dan kado dari ku.


Ia mulai membuka isi kado itu.


Ia tidak menyangka seorang Lidya Wijaya akan memberi kan kado spesial itu untuk nya.


Ini mah kado untuk akhirat ku.


Dimas tersenyum senang.


"Dia memang beda" ujar Dimas.


Padahal Lidya juga bukan lah sosok religius.

__ADS_1


__ADS_2