Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Sebelum akad.


__ADS_3

Setelah melewati konflik batin yang cukup lama, aku pada akhirnya terpaksa menuruti papa.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat nya.


Besok adalah hari pernikahan ku. Pernikahan yang tidak aku harapkan. Aku bahkan tidak pernah pacaran sebelumnya.


Perasaan ku pada putra terpaksa aku kubur bersama semua kenangan kami.


Melihat nya hidup saja sudah lebih dari cukup bagi ku. Aku tidak mau melihat nya sakit.


Malam hena + pengajian berlangsung khidmat, aku sudah melewati serangkaian acara malam ini.


Putra tersenyum pada ku dari kejauhan.


Aku membalas senyum itu, menyembunyikan rasa sedih ku yang teramat dalam.


Selesai acara, aku pun masuk ke dalam kamar ku yang sudah di hias cantik sedemikian rupa. Aku tersenyum kecut. Mr.galak. Meski sudah menikah nanti jangan harap bisa menyentuh ku.


Sebenarnya bukan di sini acara akad dan resepsi besok, tapi di hotel raya bintang 5.


Menghias kamar ku hanya formalitas saja setelah menghabiskan waktu 2 hari di hotel dalam acara itu kami akan pulang ke rumah ku. Dan setelah itu aku tidak tau lagi akan di.bawa kemana. Pasrah. Lidya Wijaya pasrah? ya, aku tidak punya pilihan lain. Jika aku ingin kehilangan papa aku harus menerima ini.


......🌺🌺🌺......


Aku di bangunkan oleh suara gaduh yang di dalam kamar ku. Perlahan ku buka mata ku.


Kok ramai? loh aku di mana?


Tim mua mulai menyusun alat alat make-up dan gaun yang akan ku pakai akad nanti.


Ku lirik jam dinding, eh ini bukan di kamar ku. Aku terbangun sambil terkejut. Sejak kapan aku pindah ke sini?

__ADS_1


"Eh calon pengantin nya sudah bangun, ayo mba bersih bersih dulu, kita akan mulai make-up nya" seru mba mba mua pilihan papa.


Aku tidak langsung bangun. Aku mengumpulkan nyawa dulu sebelum bangkit dari tempat tidur asing ini.


"Ini di mana? perasaan semalam aku tidur di kamar" seru ku


Mba mua itu mengerutkan kening nya.


"Maksud nya? ini di hotel raya mba" jawab nya.


"Apa?!" pekik ku. Kau sedikit berlari kecil melihat sekeliling.


"Ini jam berapa?" tanya ku karena aku tidak menemukan handphone ku di mana pun, mungkin tertinggal di rumah.


"Jam 5 subuh mba" jawab nya.


Ku buka gorden jendela kaca hotel itu. Masih pagi buta.


"Kok gak mandi? nanti bau dong" protes ku.


Dengan sabar mba mua menjawab.


"Ikuti ajja deh mba, durasi nih, jangan lama lama" seru nya.


"Sejak kapan aku pindah ke hotel yah?" gerutu ku. Apa papa yang membawa ku kesini, kok aku bisa gak sadar sama sekali.


Setelah mencuci muka saja sesuai perintah mua aku pun kembali ke tempat tidur duduk duduk. Mua sampai geram melihat tingkah ku yang seolah ogah di pakai kan baju.


Ia sedikit memaksa ku untuk bangkit dan memakaikan baju kebaya putih untuk akad.


"Mba nya kok kayak gak ikhlas sih mau menikah, biasa nya calon pengantin pasti bahagia dan bersemangat di saat seperti ini" seru mba mua saat sudah berhasil memakai kan ku kebaya.

__ADS_1


Dia menyuruh ku duduk di depan cermin.


Memasang kan aku softlens dan memulai makeup nya.


"Karena aku di jodohkan, aku terpaksa menikah, ini bukan kemauan ku" jawab ku.


Sesaat mba mua terdiam lalu melanjutkan makeup nya.


"Yang sabar yah sayang, jangan sedih, semoga saja jodoh mu ini memang yang terbaik untuk mu, kami selalu mendoakan yang terbaik untuk pengantin kami" seru nya.


Aku pun akhirnya pasrah saja di makeup.


"Wajah mba nya sudah cantik jadi poles dikit sudah kelihatan cantik nya" puji mua itu.


Aku tersenyum kecut. Cantik? cantik palsu. Hasil operasi plastik.


Putra masuk ke dalam kamar hotel tempat aku di makeup in.


Perlahan dia duduk di dekat ku sambil tersenyum dan tertegun kagum.


"Masya Allah cantik nya" puji nya.


"Ah bisa ajja, putra kamu kok belum siap siap?" tanya ku saat melihat putra masih memakai kaos oblong nya. Ia hanya memakai peci untuk menutupi kepala nya yang botak.


"Nanti ajja, laki laki itu simple, gak pakai waktu lama" jawab nya.


"Eh mba mua, kenalkan ini kakak ku, ganteng kan" seru ku.


"Wah, pantas saja adik nya cantik begini ternyata kakak nya ganteng, papah kamu juga ganteng loh, aku sampai gak nyangka loh mba papah kamu itu punya anak yang akan dia nikah kan, aku pikir awal nya dia yang akan menikah, soal nya muda Banget hihihi" ujar mba mua.


Obrolan kami berlanjut sampai selesai make up. Sekarang, menghias bagian kepala. Putra meminta ku untuk memakai hijab saat menikah dan aku menuruti nya.

__ADS_1


__ADS_2