Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Pasca libur dadakan


__ADS_3

Kami telah sampai di rumah yugo yang sudah siap huni. Letak nya di kota jadi tidak jauh Untuk ke kampus dan pusat perbelanjaan meski pun aku nyaman di villa.


Sedih sekali rasa nya. Villa adalah bagian dari hidup kami.


Yugo mempersilahkan ku masuk ke rumah baru kami.


Yugo sudah mengisi sebagian perabot rumah. Seperti Sofa, tempat tidur, televisi, lemari ,alat alat dapur, kulkas ,ac juga sudah terpasang. Syukur lah.


Lumayan luas, 2 lantai, kamar nya ada 5, 2 di bawah 3 di atas, ada juga balkon minimalis Dan masing masing ada kamar mandi di dalam nya. Dapur juga luas. Ini sih lebih dari cukup untuk kami. Kamar nya kebanyakan sih tapi gpp untuk nanti anak anak kami.


Aku melangkah lagi ke bawah.


"Pengen kamar di atas" seru ku.


"Jangan sayang, gak baik. Kamu lagi hamil. Kamar kita di bawah ajja yah" tolak yugo.


Aku cemberut.


"Demi kebaikan, aku gak mau kamu kenapa kenapa naik turun tangga" tegas yugo.


"Hm ya deh" jawab ku.


Puas berkeliling aku pun beristirahat sejenak di Sofa baru teras.


"Udah? yuk pulang" ajak yugo.


"Baik lah, jadi kapan kita pindah ke sini?" tanya ku.


."Sekitar semingguan lagi" jawab nya.


"Ohh berarti minggu depan dong, cepat banget" seru ku.


"Iya , soal nya sudah ada calon pembeli, aku sangat menyukai villa, tapi papa tidak punya pilihan lain" ujar Yugo sedih.


Aku memeluk nya. Mengelus pundak nya.


Karena badan ku juga tinggi jadi aku bisa menjangkau pundak nya.


Tapi tetap yugo lebih tinggi dari pada aku.


"Yuk pulang" ajak ku.


Kami pun segera bergegas pulang kembali ke villa. Menikmati hari hari terakhir di villa.


Mobil bergerak maju menuju villa.


"Maaf ya" ucap Yugo.


"Ssst. Kamu ga cape apa minta maaf mulu" protes ku.


Yugo menggeleng.


"Aku gak akan pernah lelah minta maaf ke kamu" jawab nya.


......🌺🌺🌺......

__ADS_1


Tidak terasa kami telah sampai di villa.


Yugo janji akan mengajari aku masak.


Aku dan yugo pun bersiap-siap di dapur.


Aku dengan senang hati akan belajar masak.


Ia memakai kan aku celemek.


Tidak lupa Yugo curi curi waktu untuk mencium ku saat kami berdekatan.


"Hm kita masak apa yah hari ini" seru yugo.


Aku pun mengiris bawang merah. Perih banget mata ku. Yugo menertawai ku.


Air mata ku mengalir bukan karena sedih tapi karena efek bawang merah.


"Haha gpp sayang ,nanti juga terbiasa" seru yugo.


Kamu melanjutkan acara masak bersama, asik juga.


"Oh ya sayang , jika suatu saat aku tidak sengaja bertemu dengan james, cara membedakan kalian bagaimana? kalian harus punya perbedaan" pinta ku.


"Hmm sulit yah? karena kami itu kembar identik berbeda dengan yang lain punya perbedaan fisik. Jika aku sakit maka yoga juga sakit, begitu pun sebaliknya, cara bedain nya mudah kok, aku punya bekas luka sejak kecil nih di lengan. Dulu pernah jatuh dari sepeda dan lengan ku robek. Tapi bekas nya masih ada sampai sekarang. Terus yang lebih simpel nya kamu tanya deh ke orang nya kalau ragu. Kamu tanya hal yang tidak mungkin james mengetahui kecuali kita. Misal, kapan dan di mana pertemuan pertama kita atau kita buat nama panggilan rahasia saja, cukup kita berdua yang tau" jelas yugo.


Aku mengangguk.


"Tapi , james itu orang nya licik, dia bisa lakukan hal yang mungkin di luar nalar kita kan. Bisa saja dia pasang penyadap suara di rumah kita, bisa saja dia menyelidiki latar belakang ku, bisa saja dia membuat bekas luka palsu di tangan nya agar aku percaya" seru ku.


"Kita kan gak tau, aku sudah banyak mengalami hal di luar dugaan ku sayang, kita waspada saja" ujar ku.


Yugo tersenyum.


"Segitu nya ingin menjaga diri. Makasih ya sayang" ujar yugo sambil memeluk ku dari belakang.


Ia lalu membalikkan tubuh ku dan mencium ku cukup lama. Ku lepaskan ciuman itu.


"Udah ah, nanti gosong nih ayam goreng nya" seru ku.


"Oh iya, lagi masak yah, hihi, kalau begitu selesai masak boleh dong" pinta yugo.


"Hmm boleh gak yah" jawab ku menggoda nya


"Ihh " ujar yugo tidak senang dengan jawaban ku.


"Haha , boleh dong sayang, boleh banget" jawab ku akhir nya.


Raut wajah yugo Langsung berubah sumringah.


......🌺🌺🌺......


Liburan pasca kesurupan massal pun berakhir.


Aku bersiap siap untuk berangkat ke kampus diantar yugo karena aku sudah tidak punya supir pribadi lagi.

__ADS_1


Seperti biasa Sumiati menyambut ku ketika aku baru sampai. Di samping nya ada devan.


"Cieh tumben berduaan pagi pagi" ejek ku.


"Ah kebetulan ajja aku bertemu dengan nya tadi " seru devan.


"Hihi gak kebetulan pun gpp kok, kan sum" seeu ku sambil melirik ke arah Sumiati.


Ia mengangguk setuju.


Haha Sumiati ketahuan banget naksir nya.


"Ya udah, yuk masuk" ajak ku.


Devan menahan ku.


"Kami pasti tau sesuatu kan, apa yang kamu sembunyikan" seru devan.


"Maksud nya? menyembunyikan apa? aku gak ngerti" jawab ku.


"Waktu kamu pingsan kamu bicara sendiri, menyebutkan nama sari berkali kali" seru devan.


Sumiati dan devan menunggu jawaban ku.


"Entah lah, mungkin aku hanya bermimpi" sergah ku.


"Itu pasti petunjuk, kamu kan bisa melihat mereka" ujar sumi.


"Mereka siapa?" tanya ku.


"Hantu" jawab Sumiati.


Aku tertawa geli mendengar nya.


"Hantu? emang hantu itu ada?" tanya ku balik.


"Ada" jawab sumi.


"Itu bukan hantu sum, itu jin aja yang menyamar jadi hantu" jelas ku.


"Ih sama ajja dah, inti nya apa isi mimpi mu waktu itu" Devan mulai tidak sabar.


Aku melihat mereka begitu antusias ingin mendengar kan ku.


"Ya ampun, ini masih pagi loh, ayuk. Kita ngobrol di dalam saja" ajak ku.


Mereka pun menurut dan mengikuti ku. Sembari menunggu dosen kami ngobrol di taman.


"Aku kurang yakin, bisa jadi mimpi ku itu hanya bunga tidur ku saja" jawab ku.


"Bunga tidur dari Hongkong, kamu kan pingsan bukan tidur" protes sumi.


"Sama ajja Dong, sama sama gak sadarkan diri" jawab ku.


"Beda dong, kalau pingsan kan tidak di sengaja, kalau tidur yah kita sengaja untuk tidur" protes sumi.

__ADS_1


"Sudah sudah, kok malah berdebat itu sih, lidya, inti nya cerita kan saja mimpi mu itu pada kami. Petunjuk atau bukan itu urusan kami" seru devan menenangkan kami berdua.


__ADS_2