Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
prepare liburan.


__ADS_3

Langit semakin gelap. Adzan magrib berkumandang. Aku tau ini saat nya putra ke masjid.


Aku pun segera mandi dan bersiap siap untuk melaksanakan sholat magrib, seperti ajaran putra.


Di akhir sholat aku berdoa pada Allah tentang kegelisahan hati ku. Jika memang tidak baik untuk ku semoga hati ku bisa menerima semua ketentuan dan takdir dari nya.


Jika memang perasaan ini adalah dosa bagi kami semoga Allah mencabut nya dari hati ku. Aku harus sadar bahwa dia adalah keluarga ku sendiri. Aku harus bisa mengendalikan perasaan ku.


Selepas sholat ku buka mukenah berwarna hijau muda hadiah dari putra.


Aku menatap cermin. Apa aku salah mencintai saudara sendiri. Tapi kan kami bukan saudara kandung. Ah tapi tetap ajja kami saudara.


Ingat Lidya, putra baik dan perhatian pada mu karena kamu saudara nya bukan karena ia mencintai mu. Ok, batin ku.


Ku raih koper dan segera packing barang ku, aku bawa sedikit saja, meski kami akan lama di sana.


Perut ku kian sakit. Aku lupa makan sejak siang tadi, sempat ingat tapi melihat putra dan mama ngobrol di ruang makan menghentikan niat ku.


Ku pegangin perut ku. Aku sudah tidak pernah nyetok cemilan di lemari khusus cemilan di kamar ku, karena takut gendut.


Dengan kaki lunglai aku turun ke bawah, aku harus makan.


Semua sudah berkumpul di meja makan.


"Ah syukur lah kamu turun, baru saja papa akan memanggil mu untuk turun" seru papa.


Aku langsung duduk di samping papa.


Makan malam di mulai, hening sesaat, aku tidak menyapa dan cerewet ke putra seperti biasa nya.


Begitu pun putra, ia tidak banyak bicara.


"Kalian bertengkar?" tanya papa saat melihat ada gelagat aneh di antara kami berdua.


"Gak kok" kata kami hampir bersamaan.


Membuat kami malah jadi salah tingkah.


"Lucu sekali, tiba tiba gak teguran gitu, ada apa sih?" seru papa tersenyum melihat tingkah tidak biasa dari kami.


"Sudah lah mas, ayo lanjut makan nya" seru mama sambil menatap putra tidak suka.


Karena kami bukan seperti kakak adik yang sedang bertengkar. Justru terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


Serba salah, kami akrab salah, kami bersikap biasa juga salah.


"Haha, terserah kalian saja, jangan lama lama diam diaman nya, besok kita liburan, masa liburan diam diaman kan gak asik" seru papa.


Aku hanya tersenyum tipis. Putra pun begitu.


Selepas makan aku ke kolam lagi menghibur diri sendiri.


Mama mendekati ku.


"Bagaimana hasil ulangan nya?" sapa nya.

__ADS_1


"Alhamdulillah lumayan" jawab ku singkat.


Ku celupkan kaki ku ke dalam kolam, air nya sejuk.


"Oh syukur lah kalo begitu, putra peringkat pertama di sekolah nya" ujar nya.


"Benar kah? syukur lah, dia tidak memberi tahukan aku" ujar ku.


"Maaf" kata mama.


"Maaf? kenapa?" tanya ku.


"Eh, gpp kok, maaf ajja, mama masuk duluan yah, di luar dingin, kamu juga jangan lama lama di sini" seru nya.


Aku masih bermain air di kolam. Ku tatap langit. Biasa nya putra pasti nimbrung nih jika melihat ku duduk di sini.


Sekarang aku tidak berharap banyak lagi putra akan menemani hari hari ku di rumah ini.


Padahal sempat penuh warna rumah ini sejak putra pindah kesini.


Sekarang kembali hampa, padahal dia ada tapi seperti tidak ada.


Putra menatap ku yang duduk di pinggiran kolam renang, dari balik balkon lantai atas kamar nya.


Semua semakin rumit semenjak ada perasaan aneh terlintas di hati ku.


Aku justru ingin kembali ke masa lalu ketika aku sangat membencinya. Agar aku tidak sedih jika ia jauh dari ku.


Ku angkat kaki ku dari kolam Air semakin dingin. Malam semakin larut. Aku masih meringkuk di pinggir kolam.


Dan putra masih di balkon nya menatap ku. Ingin sekali ia turun dan menemani ku tapi putra takut di lihat mama.


"Tumben main sendirian non, biasa nya sama putra?" seru bi Minah saat melihat ku di kolam tadi dan berjalan masuk sendiri.


"Ah, mungkin dia sibuk packing bi, kan besok kami berangkat" jelas ku.


"Iya yah, non udah packing belum?" tanya bibi.


"Sudah kok bi, aman" jawab ku sembari berjalan naik ke atas kamar ku.


Malam sudah larut.


Baru hendak masuk kamar ku tangan ku di raih seseorang. Aku hendak berteriak karena kaget tapi putra m menutup mulut ku dengan tangan nya.


Mata kami bertemu.


Putra menarik tangan ku menuju lantai 5 rumah kami.


Sesampai nya di sana.


"Kita ngapain kesini?" tanya ku bingung.


Aku gak tau kenapa tiba tiba saja putra memeluk erat diri ku.


Aku dengan ragu membalas pelukan nya.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menghindari mu" seru nya.


Ak nyaman nya, aku suka dalam dekapan putra.


"Gpp kok, jangan terlalu baik, nanti aku salah paham dalam mengartikan perasaan mu" jawab ku.


Aroma tubuh nya, aku suka sekali.


Putra melepas pelukan nya. Ia memberi ku hadiah.


"Ini hadiah karena sudah peringkat di sekolah" ujar nya.


"Perasaan yang peringkat pertama kamu deh, aku kan cuma peringkat ke 3 di kelas" seru ku


"Dari mana kamu tau aku peringkat pertama?" tanya nya.


"Dari mama" ujar ku.


"Wah ada perkembangan nih, akhir nya kamu bisa panggil Mama, biasa nya kan Tante Mona hihi" seru putra.


"Ah iya, aku juga baru sadar" jawab ku


Ku buka kotak hadiah dari putra.


Hanya sebuah penjepit rambut, tapi sudah membuat ku bahagia dan berbunga bunga.


Haduh bahaya nih, aku bisa semakin menyukai nya.


Kami duduk di tempat duduk balkon paling atas rumah kami. Atap lebih tepat nya.


Pemandangan di sini gak kalah indah hanya saja kami jarang naik ke sini.


"Maaf cuma ngasih itu, aku kebetulan melihat nya saat membeli barang lain. Terlintas deh di benak ku untuk membelikan mu itu" jelas nya sebelum aku protes.


Padahal aku tidak akan protes.


Cukup dia di sisi ku sudah membuat ku bahagia.


Putra memakai nya penjepit rambut itu pada ku.


Penjepit rambut pita. Manis sekali.



"Makasih yah" seru ku sambil menyandarkan kepala ku di bahu putra.


Putra mengelus rambut pendek ku.


"Iya sama sama" jawab nya.


Ingin rasa nya aku menghabiskan malam di sini berada di sisi putra.


Ku raih telapak tangan nya dan menyatukan jemari kami.


"Kebanyakan nonton drama Korea kamu ini, iya kan, hayo ngaku" protes putra ketika melihat tangan kami sudah bertaut tapi ia tidak menolak tindakan ku ini.

__ADS_1


"Haha ya gak lah, kan aku memang begini" sergah ku.


Aku mencintaimu putra. Batin ku.


__ADS_2