
Akhir nya aku tersenyum juga.
"Kamu sudah makan? makan yuk" seru dimas
"Aku sudah makan, sudah kenyang" tolak ku.
Kali ini dimas yang cemberut.
"Temani aku makan yah, aku lapar, temani ajja, aku gak maksa kamu untuk ikut makan" ujar nya.
Aku memutar bola mata ku, berpikir sejenak.
"Hem, ya udah, ayo" seru ku sembari pamit sebentar untuk membayar buku yang aku beli.
Kami tiba di sebuah rumah makan klasik.
Aku hanya memesan teh melati tawar untuk menemani nya.
"Apa kakak ku menyusahkan mu?"tanya dimas.
"Banget" jawab ku.
Dimas tertawa.
"Bukan Yugo nama nya kalo gak menyebalkan" ujar Dimas.
...... 🌺🌺🌺......
Mama telah sampai di Jerman menemui putra di rumah sakit.
Ia menatap sedih pada putra nya.
"Jika saja sum sum mama cocok,sudah pasti mama donor ke kamu, mama gak bisa melihat mu seperti ini" seru mama.
Putra tersenyum. Kemoterapi membuat rambut nya mulai rontok.
"Selagi ada mama di samping ku , semua akan baik baik saja" ujar putra.
Mama menangis.
Seorang perawat datang mengecek dan memberi tahukan kabar gembira untuk nya.
"Excuse me, putra, I will check your condition, and there is good news for you, the doctor himself will tell you later" seru perawat itu.
"Really? Alhamdulillah, Thank you mrs" jawab putra bersemangat.
Putra memberi tahukan mama nya kalau dokter ingin bertemu dan memberi kabar gembira.
Mama mengusap air mata nya.
Setelah cek rutin putra dan mama menemui dokter di ruangan nya.
Putra di bawa dengan kursi roda oleh perawat karena kondisi nya yang kian lemah.
Wajah tampan nya pucat.
Senyum di wajah nya mengembang. Udara di balik kaca rumah sakit terasa hangat mendekap nya.
Sesampai nya di ruangan itu dokter menyambut nya dengan antusias.
"Congratulations, you have a donor" seru dokter paruh baya itu.
__ADS_1
Putra langsung sujud syukur turun dari kursi roda nya.
Mama ikut menangis haru.
Putra memeluk mama nya.
"Alhamdulillah putra dapat pendonor mah, insya Allah putra akan sembuh" ujar putra bersemangat.
"Alhamdulillah" seru mama.
Seorang wanita mengintip di balik pintu ruangan itu, ia mengelap air mata nya dan tersenyum bahagia melihat putra bisa hidup. Melihat nya bisa hidup cukup membuat bahagia meski tidak bisa memiliki nya.
Seorang pria menepuk pundak nya.
"Ayo nak, sebaik nya kita pergi dulu, nanti ketahuan" seru nya.
Pria itu adalah ayah nya.
"Iya yah" wanita itu pun menurut.
Mereka pulang ke tempat tinggal mereka selama di jerman.
Putra bertanya pada dokter siapa pendonor nya tapi dokter merahasiakan nya. Itu sesuai permintaan pendonor yang tidak ingin putra mengetahui.
Baik sekali orang itu. Putra pun mendoakan kebaikan untuk pendonor yang dengan tulus memberikan nya tanpa di tau identitas nya
"Semoga kelak Allah pertemukan aku dengan orang itu dan bisa membalas budi nya" seru putra.
"Aamiin" jawab mama mengaminkan doa ku.
......🌺🌺🌺......
Aku iseng masuk ke kamar putra. Melihat lihat isi nya.
Tidak ada foto sama sekali yang terpampang di kamar itu.
Aku menemukan secarik kertas di tumpukan buku buku lama milik putra.
Aku membuka dan membaca nya. Lutut ku langsung lemas seketika.
Aku menutup mulut ku tidak percaya.
Aku terduduk dan air mata ku langsung keluar dengan deras nya.
Kertas itu surat asli dari dokter saat aku menemani nya memeriksa. Putra sudah tau hasil nya kan seperti itu, ia meminta pada dokter untuk merahasiakan nya dari ku dan mengatakan bahwa putra sedang baik baik saja.
Aku berlari turun, saking laju nya berlari aku sampai terjatuh dan lutut ku berdarah tapi aku tidak memedulikan nya.
Segera aku tancap gas menuju klinik tempat kami dulu memeriksa putra. Ku bawa data itu ke sana.
Cukup jauh tapi aku nekat kesana.
Sesekali ku lap air mata ku. Putra kenapa kamu membohongi aku. Jadi ini alasan mu menjauh dari aku? Tuhan tolong selamatkan putra bagaimana pun caranya meski harus di tukar dengan nyawa ku. Aku gak bisa kehilangan putra.
Setelah perjalanan panjang aku pun sampai di depan klinik itu.
Dalam tangisan aku berlari masuk ke dalam. Hampir semua mata tertuju pada ku.
"Mba, saya ingin bertemu dokter ilyas" ujar ku.
"Maaf mba nya, harus antri dulu yah ,banyak pasien di sini, silahkan mendaftar di sini" jawab nya ramah.
__ADS_1
Aku tidak ada pilihan lain selain menunggu seperti pasien lain. Padahal aku sedang tidak sakit tapi aku butuh bicara dengan beliau.
Hampir 2 jam lamanya aku menunggu akhirnya giliran ku masuk.
"Saudari Lidya, bisa masuk ke ruang periksa" ujar seorang perawat yang bekerja di klinik itu
Dokter tersenyum menyambut ku.
"Ada keluhan apa?" tanya nya. Seperti nya ia lupa dengan ku.
Aku menyerahkan kertas pernyataan hasil laboratorium darah nya putra.
Dokter sedikit terkejut.
"Kata dokter saat itu semua baik baik saja, kata dokter itu hanya mimisan biasa, tapi ini apa?" air mata ku mengalir lagi.
"Maaf, saya hanya mengikuti permintaan pasien untuk merahasiakan nya" jawab dokter.
"Apa dia bisa sembuh?" tanya ku.
"Bisa, Insyaallah jika dapat pendonor sum sum yang cocok dengan nya" seru dokter.
Lutut ku tambah lemas, jika tidak ada bagaimana? apa putra akan mati meninggalkan aku?
Aku lalu flashback saat dimas berkata putra pernah menitipkan aku pada nya.
Jadi dari dulu putra tau dia sakit?
Tidak, aku tidak mau kehilangan putra.
"Tolong periksa saya dok, siapa tau Sum sum saya cocok dengan nya" seru ku.
"Itu bisa di lakukan di rumah sakit besar. Maaf" jawab dokter.
Aku pun pamit keluar, segera berlari menuju mobil.
Aku harus ke rumah sakit. Tapi bagaimana cara nya? Apa aku bisa di periksa kecocokan nya jika aku saja tidak punya data tentang penyakit putra.
Otak ku ngeblang dan menemui jalan buntu.
Akhirnya malah mobil ku telah sampai di kantor nya papa.
Aku turun dari mobil. Sedikit berlari kecil menuju pintu masuk.
Tanpa kata aku langsung masuk ke dalam ruangan papa.
Kebetulan ia sedang santai di sana.
Papa terkejut melihat ku terburu buru.
"Ada apa lagi lidya?" tanya papa.
"Papa pasti sudah tau perihal penyakit nya putra kan, jangan membohongi ku lagi. Kirimkan aku ke Jerman sekarang!" pekik ku.
"Bagaimana dengan kuliah mu, kau sudah terlalu banyak cuti di tahun pertama kuliah mu!" bentak papa.
"Itu sudah tidak penting lagi sekarang, aku ingin bertemu putra, aku mohon" rayu ku pada papa.
"Baik lah, tapi ada syaratnya" jawab papa.
Aku sedikit bernafas lega.
__ADS_1