
"Eh iya, agak mendingan" jawab ku.
"Mau ku antar pulang?" tawar Adit.
"Aku bawa kendaraan sendiri kok" jawab ku.
Adit terlihat kecewa.
Kami pun pulang masing masing.
Sesampai nya di rumah aku segera ke kamar.
Ada gaun di gantung di dekat lemari ku.
"Untuk apa ini?" tanya ku dalam hati.
"Eh non, udah pulang? itu gaun dari tuan. Kata tuan gaun itu untuk non pake di acara pernikahan nya Minggu depan" ujar bi Minah.
"Apa?!!" pekik ku sambil membuang baju itu ke lantai, lalu ku injak injak sepuas nya.
"Eh kok di gituin non, nanti tuan marah, bibi takut" seru bi Minah khawatir.
"Aku sudah pernah mati sekali karena dia bi, aku tidak takut" jawab ku.
Entah kenapa aku stress memikirkan papa akan menikah. Aku gak siap punya keluarga asing di rumah ini.
Air mata ku mulai turun, cengeng sekali sih aku.
"Bi, aku gak suka papa menikah" pekik ku.
"Sabar non, itu udah keputusan tuan" jawab bibi.
Setelah berganti pakaian aku keluar rumah untuk jalan jalan.
Ku bawa mobil ku melaju jauh dari rumah. Sejauh mungkin.
Aku ke sebuah danau, menyendiri.
Selagi asik menikmati pemandangan sore itu. Seseorang menyapa ku.
"Kau lagi?" seru nya.
Aku menoleh melihat siapa orang yang menyapa ku.
"Eh Bim. Kok ada di sini?" tanya ku.
"Tempat ini jauh. Aku dari rumah temen, Kebetulan yah kita ketemu lagi", seru Bimo.
Aku hanya tersenyum.
Bagaimana pun, dia memang sahabat ku yang selalu ada meski tidak aku panggil.
"Kamu ngapain sendirian di sini?" tanya nya pada ku.
"Entah lah, nyari angin ajja. Lagi banyak masalah" jawab ku.
"Oh iya waktu itu kamu telepon aku kan, kamu nangis kenapa?" tanya bimo.
"Oh itu, aku gpp kok, lupain ajja" jawab ku sambil terus melihat ke arah danau.
Seseorang berteriak memanggil Bimo.
"Bim, Bimo...." teriak nya dari kejauhan.
Dia adalah Siska?
Siska mendekati kami.
"Ihh kemana ajja sih, ku cariin kemana mana gak ada, ternyata di sini" pekik Siska marah.
"Apaan sih sis, lagian aku gak jauh kok" seru Bimo.
__ADS_1
"Dia siapa?" tanya Siska.
"Eh ini nama nya lili, teman ku" Bimo pun memperkenalkan ku dengan Siska.
Siska menatap ku curiga.
"Kayak pernah lihat deh. Tapi di mana yah?" tanya nya.
Aku tidak menjawab.
"Kerja kelompok kita belum selesai tuh Bim. Main kabur ajja, temen temen udah nungguin tuh di rumah" seru Siska.
"Iya bawel, bentar lagi aku nyusul kembali ke sana" jawab Bimo.
"Pergi ajja gpp" kata ku pada bimo.
Siska lalu menggandeng lengan Bimo menuju ke rumah nya yang tidak jauh dari danau itu.
Siska melihat ku sesaat lalu pergi. Seolah Bimo akan pergi kabur ia nempel menggandeng erat lengan Bimo.
Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu menuju tempat lain.
Toko buku.
Terlihat dari kejauhan Dimas dan Adit ada di dalam toko buku itu.
Aku berpura pura tidak melihat mereka.
"Hai cantik" sapa Dimas pada ku saat ia melihat ku memilih milih buku.
Adit dari belakang pun ikut menyapa ku.
"Lili, sendirian ajja?" tanya nya.
"Eh iya hehe" jawab ku.
"Ayo gabung sama kita ajja" tawar Dimas antusias.
Dimas memang suka blak blakan kalo ngomong. Mereka bersahabat tapi selalu bertengkar. Contoh nya waktu itu mereka berkelahi di kelas karena aku.
"Setelah dari sini rencana mu mau kemana?" tanya adit.
"Emm. Gak tau mau kemana. Aku hanya suntuk di rumah maka nya keluar cari udara segar" jawab ku.
"Emang nya di rumah kamu udara nya gak segar, haha?" tawa Dimas.
"Gak gitu juga definisi nya bambang" seru ku.
"Ya udah ikut kami ajja kalo gitu" tawar Adit.
"Kemana?," balas ku.
"Ke hati mu, hehe, canda hati" seru Dimas.
Adit lalu menyikut lengan Dimas.
"Ada ada saja kamu, serius dong" protes ku.
"Mau ke rumah Adit ajja sih hahaha" kata Dimas.
"Yee, kirain mau kemana" balas ku.
"Jadi kalo ke rumah ku kamu keberatan?" seru Adit.
"Eh bukan begitu, aku sih terserah saja" jawab ku.
"Ya udah aku beli novel ini dulu yah, tunggu aku" lanjut ku. Aku pun ke kasir untuk membayar.
Kami sudah di parkiran sekarang.
"Aku bawa mobil, gimana donk" seru ku.
__ADS_1
"Ya gak kenapa kenapa lah, ngikut ajja dari belakang" jawab Dimas.
Seseorang parkir di samping mobil ku, Eh tunggu tunggu, aku perhatikan ini kan koleksi mobil papa. Siapa yang bawa ya.
Aku menunggu siapa yang akan muncul dari balik mobil itu.
Putra??? si brengsek itu bahkan memakai mobil papa sekarang?
"Hay adik" sapa nya.
Adit dan Dimas memperhatikan nya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Siapa?" tanya Dimas.
"Bukan siapa siapa" pekik ku.
"Uhh galak, Hay, kenal kan, aku kakak nya Lidya" seru putra.
"Ohh, pantasan lili cantik, kakak nya saja ganteng begini" puji Dimas sambil bertepuk tangan.
Aku menatap putra dengan sinis.
Aku mencubit lengan Dimas.
"Ayo, ngapain sih lama lama di sini, bikin bad mood ajja" seru ku.
Aku mendorong Adit dan Dimas untuk masuk ke dalam mobil ku.
"Eh kok......" protes Dimas saat aku memaksa mereka Naik ke mobil ku agar cepat menghindar dari putra.
Putra tersenyum melihat tingkah ku sambil melambaikan tangan nya.
Aku tancap gas melaju jalan besar.
Membuat mereka berdua takut.
"Eh li, lo kenapa, ini laju banget, aku masih mau hidup, pelan ajja donk" pekik Dimas.
Mendengar Dimas aku semakin menambah kecepatan mobil ku.
"Li? kau kenapa?!!" tanya Adit bingung.
Aku parkir sejenak ke pinggir an.
"Maaf teman teman, pikiran ku sedang kacau, kalian ada yang bisa mengendarai mobil? ambil alih gih" tawar ku.
"Aku bisa" seru Adit.
Kami pun berganti posisi. Adit mengambil alih.
Dimas pun mulai bernafas lega.
Sepanjang jalan aku diam seribu bahasa.
"Kamu kenapa sih li?" tanya Adit.
Aku hanya diam, entah kenapa aku ingin menangis tanpa sebab. Mata ku mulai berkaca kaca.
"Li?" Adit mulai khawatir.
Akhir nya air mata ku turun juga.
"Eh kok malah nangis, ada apa, cerita lah pada kami" ujar Dimas yang panik melihat aku menangis.
"Aku juga gak tau kenapa" jawab ku.
Mereka menatap ku bingung.
"Kalo ada apa apa cerita ajja, jangan di pendam nanti kamu stress, aku siap mendengar kan nya" kata Adit serius.
"Heleh, modus ajja loh kan haha" seru Dimas.
__ADS_1
"Gak lah, aku serius" protes Adit.
Perjalanan cukup panjang menuju rumah Adit.