
Sebenar nya author terlalu lelah untuk melanjutkan ini. Tidak ada libur, bahkan saat lebaran hingga saat ini tetap kerja. Ini pun di cicil saat jam istirahat.
Nasib ya nasib. Jadi mohon bersabar jika sewaktu waktu tidak up. Terima kasih.
Curhatan author.
Lanjut.
Aku menatap wajah cantik Tante Mona.
Entah mengapa ia terlihat bersinar malam ini.
Seminggu kemudian.
Lusa adalah hari pertandingan voli. Sebenar nya aku tidak siap, yah aku memang benar benar tidak pernah siap.
Aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Aku bawa mobil sendiri ke sekolah.
Seperti biasa teman teman menyambut kedatangan ku. Berbeda dengan di sekolah lama, mereka justru membully melihat kedatangan ku.
Jam istirahat aku duduk di kursi koridor sekolah. Melihat ke arah lapangan sekolah di depan ku. Club' basket sedang giat giat nya berlatih. Aku tiba tiba teringat Reno. Jika bukan karena kelakuan nya yang minus, mungkin dia sudah menjadi lelaki yang sempurna di mata semua wanita.
Bagaimana pun juga. Dia adalah cinta pertama ku.
Aku tersenyum sendiri melihat kebodohan ku di masa lalu.
Tiba tiba seorang siswa dari club' basket balik tersenyum pada ku dari arah lapangan tempat mereka berlatih.
Aku langsung berhenti tersenyum. Pasti dia ge er mengira aku tersenyum pada nya.
Ku lihat ia seperti ingin menghampiri ku.
Aku pun buru buru berdiri untuk kabur.
Baru saja aku hendak pergi untuk menghindari lelaki itu. Adit datang duduk di sebelah ku.
"Mau kemana?" tanya nya.
"Kembali ke kelas" jawab ku.
Aku lalu menggandeng manja lengan adit agar pria dari club' basket itu tidak menghampiri ku.
Aku bernafas lega saat ku lihat ia kembali ke rombongan club' nya.
"Kamu kenapa? tumben begini?" tanya Adit bingung.
Aku membawa Adit menjauh baru akan menjawab.
Setelah agak jauh aku langsung melepas gandengan tangan ku ke Adit.
"Maaf yah, aku takut tadi ada seseorang yang mau mendekati ku. Maaf sudah menjadikan mu alasan untuk kabur" jawab ku.
"Gpp kok, santai saja. Aku justru senang" jawab nya.
Dimas lagi lagi datang dan langsung berdiri di tengah, memisahkan ku dengan Adit yang sedang ngobrol.
"Cieehh, bedua Mulu. Udah resmi belom?" tanya Dimas sambil menyenggol lengan adit.
"Maksud nya resmi apa?" tanya ku bingung.
__ADS_1
"Yah, payah lu dit" seru Dimas.
Adit terlihat malu. Aku semakin tidak mengerti.
Aku pergi meninggalkan mereka karena ingin ke toilet.
"Adit, maaf jika aku mengatakan ini, aku juga menyukai Lily. Jauh sebelum aku tau kau menyukai nya, tapi aku mengalah karena kau sahabat ku, dan aku pikir Lily juga menyukai mu? tapi melihat mu begini aku tidak akan mengalah lagi" seru Dimas.
Adit melotot mendengarkan penjelasan Dimas. Dimas menepuk pundak Sahabat nya itu lalu pergi.
Aku bertemu Maisaroh di toilet. Ia sedang bercermin di westapel.
"Gak latihan voli? lusa udah pertandingan loh?" tanya Mai pada ku.
"Iya nih, nanti selepas pelajaran terakhir berakhir" jawab ku.
"Mau pakai lip glos?", tawar nya. Sambil mengoles lip glos di bibir nya.
Wajah cantik nya pun kian merona.
Aku menggeleng tanda menolak.
"Tumben, lagi jatuh cinta yah?" ledek ku.
Kami pun tertawa.
Ternyata di dalam toilet sedang ada seseorang duduk memperhatikan obrolan kami. Ia tersenyum sinis penuh kemenangan.
Saat kembali ke kelas, aku di kejutkan oleh tatapan tajam oleh teman seisi kelas pada ku.
"Dasar pencuri!!!" pekik Tari pada ku.
"Handphone tari hilang, dan di temukan di tas mu!!!" pekik Lulu, teman sebangku tari.
Ada melihat seorang guru wali kelas, yang sedang menggeledah tas kami.
Ia menemukan handphone itu ada di dalam tas ku.
Aku menatap bingung.
"Tidak mungkin, kapan dia mencuri? sedangkan ia tidak pernah ada di kelas sejak awal jam istirahat" bela Maharani.
Adit pun menatap bingung ke arah ku.
"Iya, aku bersama nya saat jam istirahat" bela Adit.
"Aku pun bersama nya saat di toilet" Maisaroh pun angkat suara.
Maisaroh mendekati tari.
"Bagaimana mungkin handphone bisa bergerak sendiri ke tas orang lain?" kata Lulu.
"Boleh saya lihat ponsel nya pak???" tanya ku.
Pak Budi pun memperlihatkan ponsel itu pada ku. Di depan semua teman.
Aku rampas handphone itu dari tangan pak Budi lalu ku hempas kan ponsel itu ke lantai.
Setelah jatuh di lantai ku injak dan ku remukan dengan sepatu ku
__ADS_1
Sontak membuat kaget seisi kelas.
"Maaf, Untuk apa saya mencuri, saya bahkan bisa beli toko handphone itu sekalian!!!" pekik ku sombong.
Ku tendang handphone milik tari itu.
Ku dekati tari.
"Kau salah menjebak, kau tidak tau siapa aku sebenarnya." bisik ku ke tari.
Pak Budi lalu menarik tangan ku.
"Ayo ikut bapak ke kantor guru!" ujar pak Budi.
Ku tepis tangan wali kelas ku itu.
"Iya pak, saya bisa jalan sendiri" seru ku.
Kejadian itu membuat kaget seisi kelas.
Sosok anggun mulai memperlihatkan keaslian sifat nya. Itu lah yang mereka pikirkan tentang aku.
Aku melangkah mengikuti pak Budi ke kantor guru untuk menerima hukuman ku karena di anggap mencuri dan menghancurkan ponsel milik teman ku.
Tari kesal karena aku menghancurkan ponsel nya.
"Apa tujuan mu sebenar nya?" tanya Maisaroh ke tari.
Tari pura pura bingung.
"Maksud nya?" tanya tari balik.
"Kau tidak lihat tadi itu, dia menghancurkan nya handphone ku, dan kau masih membela nya?" pekik tari.
"Karena kau menuduhnya mencuri" balas Mai.
"Kalo bukan mencuri apa nama nya? jelas jelas handphone ku yang hilang ada di tas miliknya" jelas tari.
"Bisa jadi ada orang yang menjebak nya atau kau sendiri yang meletakkan handphone mu ke dalam tas nya" Mai curiga.
"Kok kau malah menuduh ku seperti itu. Untuk apa aku sengaja menghilangkan hp ku?" Pekik tari.
"Kita lihat saja nanti" seru Maisaroh.
Sementara di kantor guru aku di interogasi oleh wali kelas ku.
Jelas aku tidak akan pernah mengakui tentang pencurian itu.
"Aku tidak mencuri nya pak. Aku hanya menghancurkan hp nya karena mereka menuduh ku mencuri" jelas ku.
"Panggil orang tua mu kesini, saya tunggu" tegas pak Budi.
Aku diam. Papa gak mungkin mau datang. Pembagian raport saja dia tidak pernah hadir apa lagi jika aku bermasalah seperti ini.
Aku harus bagaimana?
Oh iya, kan ada Tante Mona. Aku bisa minta tolong pada nya.
Segera aku hubungi Tante Mona. Syukur dia sedang tidak sibuk.
__ADS_1