
Aku merapikan buku buku yang ada di meja dan memasukkan ke dalam ransel ku.
"Mau langsung pulang? jalan jalan dulu yuk" ajak Sumiati.
Aku tersenyum sesaat, bukan tidak mau, aku sudah tidak seperti dulu lagi bisa foya foya menghambur kan uang papa. Sekarang aku lebih banyak hemat nya.
"Gak deh, soal nya sore mau berangkat kerja, entar aku kecapean, belum lagi melayani suami, ah jadwal padat banget yah" seru ku.
"Yeee, susah juga jadi artis kayak kamu ini, jadwal nya padat banget" ejek Sumiati.
"Haha artis? artis apa, sinetron azab?" seru ku
"Ih, bukan aku loh yang bilang" protes sumi.
Devan sudah menunggu di depan pintu.
"Lama banget sih, ku tinggal nih kalo lama" ujar devan.
"Apaan sih, tinggal ajja kali, Sumiati kan bukan siapa siapa kamu juga" protes ku.
"Oh, bagus lah, jadi gak ngerepotin aku lagi" jawab devan dingin.
Sumiati mencubit lengan ku.
"Yah, ojek gratis ku pergi, kamu sih" ujar sumi kesal.
"Udah deh, berhenti bergantung sama dia, kamu mau begini terus?" tanya ku.
"Gak enak sih ,tapi aku juga gak bisa kehilangan dia juga kali" kata nya kesal.
"Ya udah kejar sana" kata ku sembari sedikit mendorong nya untuk mengejar devan.
"Maaf yah lid, aku duluan" ucap nya sambil melambaikan tangan dan berpaling dari ku.
Aku melangkah menuju luar kelas.
Aku naik bus menuju rumah.
Naik bus mengingat kan ku saat masih SMA dulu, aku naik bus berpura-pura miskin padahal tajir, sekarang aku benar-benar miskin tapi beda nya hati ku jauh lebih tenang di banding saat aku masih sekolah dulu meski bergelimang harta.
"Kamu lidya yah?" sapa seseorang di belakang ku.
"Eh iya, ada apa?" tanya ku.
"Maaf sebelumnya, aku fani, aku follower di Instagram kamu" ujar nya.
"Oh hay" sapa ku agak kaku.
"Santai saja, saya sering melihat postingan kamu, followers kamu juga lumayan, mau kah kamu menjadi model dan brand ambassador Barang barang saya?" tanya nya.
"Makasih, tapi saya bukan artis mba, saya orang biasa saja" jawab ku.
__ADS_1
"Oh gpp, kamu cukup cantik, body kamu juga bagus, gak kalah deh sama artis artis sesungguhnya." seru mba fani itu.
"Model barang apa yah mba?" tanya ku.
"Gamis, hijab dan tas" jawab nya.
Oh syukur lah bukan skincare, karena jika ada netizen yang tau dan mengenal ku bisa kena hujat satu negara republik Indonesia ini aku karena kecantikan ku yang palsu.
"Hm, boleh deh" jawab ku akhir nya.
"Baik lah, terima kasih, ini kartu nama saya" jawab nya.
"Oh, ok ok" jawab ku.
Aku pun pulang membawa kartu nama itu.
Adzan ashar berkumpul aku segera melaksanakan sholat ashar dan istirahat sejenak sebelum bersiap berangkat kerja.
Akan semakin padat nih kegiatan ku, arggh.
.......🌺🌺🌺.......
"Tumben telat" seru aldi yang sudah standby memakai celemek nya.
"Iya nih, ketiduran, entah lah, mungkin aku kecapean" jawab ku.
"Semangat dong" raka muncul sambil mengikat tali celemek di belakang nya nya.
"Iya iya, bentar yah" seru ku.
Ini hari apa yah, tumben ramai?
Raka bersiap membuka kedai dan mempersilahkan pengunjung pertama kami.
Saat kami semua sibuk melayani pelanggan Sarah masuk dengan santai nya.
"Sarah, lo punya jam kan? kebiasaan deh, bolos dan terlambat!!" pekik raka kesal.
"Bawel deh, bacot" jawab Sarah Sambil berjalan santai ke ruangan khusus dan mengambil celemek nya.
Ia lalu mengikat rambut nya.
Kulit nya sarah kuning langsat. Wajah nya manis. Kalo di bilang cantik biasa saja tapi body nya bohay banget, bak gitar spanyol. Ada tato di lengan nya.
"Minggir lo. Gue mau nyantai di kasir, loe bantu buat kopi ajja sana!" usir sarah karena melihat ku standby di kasir.
Aku pun segera ke samping tempat pembuatan kopi dan cemilan.
Pak roger datang dan langsung menuju ke arah ku.
"Lidya , laporan omset kemarin sudah kamu kerjakan? mana hasil nya, sudah kamu salin kan?" tanya pak roger pada ku.
__ADS_1
Sarah menatap ku tidak suka.
"Oh iya sudah pak" jawab ku sambil melangkah mengambil laporan itu di laci laptop milik pak roger.
"Wah gini dong bagus, rapi, lengkap" puji pak roger pada ku.
Sarah memandang ku kesal.
"Sejak kapan anak part time mengerjakan laporan omset" seru sarah pada raka.
"Sejak loe bolos mulu kerjaan nye" jawab raka ketus.
Sarah keluar kasir dan mendekati pak roger.
Tanpa malu Sarah meraba tangan pak roger.
"Pak, kok tugas itu dia yang kerjakan?" protes Sarah.
Pak roger menepis tangan nya.
"Kamu kemana kemarin? bolos lagi? kalau sudah tidak niat kerja keluar saja lah" ujar pak roger.
"Kemarin aku sakit pak" seru nya bohong.
"Sakit? alasan mati, ini sudah kesekian kali nya kamu mangkir, saya tidak mentolerir lagi kelakuan kamu!" tegas pak roger.
Godaan sarah tidak mempan, padahal ia sudah berusaha se seksi mungkin di hadapan pak roger untuk menggoda beliau.
Dengan kesal Sarah pun kembali ke posisi nya.
Aku melanjutkan memperlihatkan hasil yang aku kerjakan.
Setelah pak roger pergi sarah memarahi ku.
"Enak ya bisa berduaan dengan pak roger, seneng kamu ambil posisi ku?!" bentak nya.
"Maksud kamu? berduaan? jaga mulut kamu yah, di sini ramai, berduaan dari mana nya? aku sudah menikah, gak mungkin lah aku senang sama pak Roger.
Aku tidak pernah mengambil posisi kamu, lagian kamu sendiri yang mencari masalah kenapa malah menyalahkan aku? sudah untung tugas kamu aku kerjakan, posisi kamu juga di kasir aku bantu ganti kan selama kamu gak ada, introspeksi diri, harus nya kami yang marah!" tegas ku.
Raka dan aldy terkejut mendengar jawaban ku.
"Heleh anak paruh waktu ajja sok ngebacotin aku, belum tau dia siapa aku?" bentak nya.
"Gak tau, dan gak mau tau. Kita sama di sini, sama sama rekan kerja. Sama sama kerja makan gaji dari bos, Jadi tolong saling solid, jangan egois" jawab ku.
"Aku mantan nya pak roger" ucap sarah bangga.
"Oh, cuma mantan" jawaban ku itu membuat sarah semakin kesal.
Benar, sarah adalah mantan kekasih nya pak roger, tapi mereka sudah lama putus, pak Roger menerima nya kerja di sini juga karena kasihan.
__ADS_1
Pak roger sudah pernah menikah, dia seorang duda. Istri beliau meninggal setahun yang lalu.
Dengan sarah dulu sebelum pak roger menikah dengan mendiang istrinya.