Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Kampus mendung


__ADS_3

Yugo lalu menceritakan perihal saudara kembar nya yang berada di luar negeri itu.


"Kok gak pernah cerita?" tanya ku.


"Maaf" jawab Yugo singkat.


"Waduh kasian sekali dia kena gampar padahal gak salah apa apa" ucap ku khawatir.


"Haha, teman mu juga kenapa bar bar gitu sih, belum pasti kebenarannya kok main gampar orang" protes Yugo.


"Nama nya juga salah paham, nah kalau begini kan sudah jelas" ucap ku sambil bergelayut manja di lengan yugo.


"Cieh bumil, jadi manja gini, seneng deh" ujar yugo senang.


Entah lah, aku jadi suka bermanja-manja dan nempel terus jika yugo sedang di rumah.


Yugo sedang asik duduk di kursi dan menatap laptop nya di meja. Aku lagi lagi mengganggu nya. Ku peluk ia dari depan dan duduk di atas pangkuan nya. Menghadap nya.


"Ya ampun sayang, gak gini juga kali, jangan menggoda ku dulu, banyak tugas nih." ujar Yugo yang kesulitan mengerjakan tugas kuliah S2 nya karena aku nempel terus.


"Gak mau ahk, gak mau jauh jauh" seru ku.


Yugo menggeleng melihat perubahan sikap ku yang drastis. Mungkin bawaan hamil. Karena sebelumnya aku tidak pernah seperti ini.


"Sayang, perusahaan ku bangkrut. Semua karyawan sudah kami phk, termasuk pekerja di kebun teh ini. Bagaimana menurut mu" seru yugo lesu.


"Gpp kok. Kamu bisa cari kerja lain atau kerja di perusahaan papa ku ajja gimana?" tawar ku.


"Tidak, aku malu, beliau pasti kecewa karena aku tidak bisa membahagiakan mu dengan hasil kerja keras ku sendiri" jawab yugo.


"Nanti kita cari jalan keluar nya yah, sayang, aku gak masalah kok kamu gak kaya raya seperti sebelumnya" ujar ku sambil terus memeluk nya.


Aku lalu menatap wajah nya yang penuh kekhawatiran.


Wajah nya justru semakin seksi setiap hari. Aku mengelus wajah yang telah bekerja keras ini. Lalu ku cium bibirnya.


Ini pertama kali aku memulai menciumnya duluan. Ia sedikit terkejut lalu membalas ciuman ku.


"Wah istri ku mulai agresif yah sekarang, gak kayak dulu dingin banget kayak es batu" seru yugo.


"Kok es batu sih?" protes ku


"Hmm kalo gitu kayak es cream deh" jawab yugo.


"Haha berarti aku dingin manis dan enak dong" seru ku.


"Tugas ini harus kelar secepatnya sayang, besok udah harus di kumpulkan. Bisa minggir sebentar, setelah ini baru manja manja lagi yah" ucap yugo hati hati takut aku ngambek.


Aku menggeleng cepat.


"Gak mau ih" ujar ku, aku malah tambah memeluk nya erat.


Yugo sebenarnya senang sekali tapi ada tugas yang harus dia selesai kan.


Yugo menghela nafas berat dan tetap melanjutkan tugas nya dengan aku tetap di dekat nya.

__ADS_1


......🌺🌺🌺......


Keesokan harinya aku menjelaskan kepada sumiati bahwa terjadi kesalahpahaman.


"Apa?! kau yakin dia tidak berbohong?" tanya sumi memastikan.


"Beneran" jawab ku.


"Waduh, tapi emang kamu sudah liat mereka berdua secara langsung?" tanya sumi.


"Belum sih" jawab ku.


"Tuh, kan" seru Sumi.


"Tapi aku percaya sama suami ku" ucap ku.


"Hmm ya sudah,tapi kalo memang benar bukan Yugo jadi siapa dong. Orang jelas jelas wajah nya sama kok, waduh" sumi mulai cemas.


"Haha semoga saja orang nya tidak menuntut" jawab ku.


"Ah sudah ah. Biarin ajja" ujar sumi.


Devan tiba tiba muncul di hadapan kami.


"Tumben baru kelihatan lagi, biasa nya kalian sibuk mencari tau tentang aku" seru devan ge er.


"Iuhh, ge er banget sih, udah gak tertarik!" jawab Sumiati.


"Loh kok gitu sih, kan belum tuntas penyelidikan kalian" protes devan.


Sumiati mengangguk.


"Yah, gak seru nih, gak asik" seru devan.


"Jadi menurut mu balas dendam itu seru?" tanya ku.


Devan diam.


Tidak lama kemudian kami di kejutkan oleh suara teriakan seorang mahasiswi dan berkerumun lah orang orang melihat nya.


Tidak lama kemudian anak anak lain seperti tertular ikut berteriak teriak. Kesurupan? batin ku.


Aku mundur jaga jarak dari orang orang seperti zombie di hadapan ku. Aku memegang perut ku.


"Ada apa ini?!" tanya sumiati ke saksi kejadian awal nya.


"Seperti nya kesurupan massal. Lebih baik kalian segera keluar deh. Karena rata rata wanita yang di masuki jin" ucap seorang mahasiswa fakultas lain.


Kampus hari ini menegangkan, banyak suara isak tangis, teriakan melengking kuat. Ada yang mencakar cakar dinding bangunan koridor. Membuat para dosen kewalahan.


Devan menyuruh kami mundur.


"Kalian pergi lah, jangan mendekat, takut nya kalian juga kemasukkan jin!" ujar devan panik karena hampir sebagian mahasiswi dan mahasiswa pun kesurupan.


Belum sempat pergi aku melihat gelagat aneh sumiati. Ia tiba tiba nyanyi sinden di samping ku. Aku dan devan menoleh ke arah nya.

__ADS_1


Tatapan mata nya berubah. Tatapan nya kosong dan terus nyinden. Dia juga mulai menari.


Devan menarik tangan ku menjauh dari sana tapi aku tidak mungkin meninggalkan sumiati.


"Sumi bagaimana?" pekik ku.


"Tinggal saja, tidak lama lagi akan datang ustadz kok untuk menyadarkan mereka, kamu gak khawatir sama janin kamu?" pekik devan.


Janin? oh iya aku hamil aku lupa. Tapi devan tau dari mana aku hamil?


"Jangan melamun!!!" bentak devan.


Aku bingung harus bagaimana.


"Aku gak bisa tinggal kan sumiati" ucap ku.


Akhirnya devan juga tidak jadi pergi, Pak ustadz dari pesantren beserta murid murid nya yang lumayan banyak pun datang untuk membantu.


Segerombolan jubah putih masuk ke kampus atas panggilan pihak kampus meminta bantuan.


Aku sebisa mungkin membaca surah dalam Al-Qur'an yang aku hapal. Untuk menjaga diri untuk tetap terjaga. Jujur saja suasana di sini panas. Aku berusaha melawan diri untuk tidak terbawa suasana. Karena Badan ku mulai tidak enak.


"Kamu baik baik saja?" tanya wanita yang pernah ada aku temui di toilet.


Aku tidak menghiraukan nya dan terus membaca ayat kursi.


Wanita itu berusaha mengalihkan perhatian ku dan aku tidak bisa mengendalikan diri. Dan di situ lah aku baru sadar wanita itu bukan lah manusia. Wajah nya berubah menyeramkan , senyum nya mengembang.


Langit Mendung di luar sana menambah suasana seram di kampus ini, padahal siang hari. Sekitar jam 2.


.......🌺🌺🌺.......


"Kau harus tanggung jawab, aku hamil?!" pekik wanita itu kepada seorang dosen yang ada di kampus ku.


"Aku tidak bisa!" pekik dosen di fakultas biologi kalau tidak salah.


"Aku gak mau tau, kalau kau tidak mau tanggung jawab aku akan umumkan siapa ayah dari janin yang aku kandung ini!" ancam wanita itu. Nama wanita itu Sari, wanita yang sering aku temui di toilet. Mungkin sumiati benar, sari adalah wanita yang bunuh diri di toilet wanita.


"Kita beda agama, bagaimana mungkin kita menikah, memang nya kamu mau ikut agama ku!" pekik pak Samuel.


Sari menggeleng.


"Aku tidak mau tau, kau lah yang harus ikut dengan ku" jawab sari.


"Tidak bisa, jika kau mau aku tanggung jawab ikut lah agama ku" tegas pak samuel lagi.


Sari menangis sejadi jadi nya.


Tidak ada titik terang sampai sari putus asa dan bunuh diri di toilet wanita.


"Lidya, bangun!!!" pekik devan.


Aku mengerjapkan mata ku. Dan perlahan membuka mata.


"Aku kenapa?" tanya ku.

__ADS_1


Sumiati juga belum sadarkan diri di samping ku.


__ADS_2