Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Liburan.


__ADS_3

Ku dorong koper ke depan. Papa, putra dan mama sudah dari tadi menunggu ku di bawah.


"Lama banget sih" umpat putra.


"Nama nya anak gadis ya lama lah", protes ku.


"Udah udah, kok jadi bertengkar lagi sih" seru papa.


Mama tersenyum dan masuk ke dalam mobil dengan elegan.


Kami beda mobil. Papa dan mama di antar asisten papa.


Sementara aku dan putra di antar supir.


......🌺🌺🌺......


Kami telah sampai di Bandar udara internasional Juata. Kota Tarakan Kalimantan Utara.


Aku pakai kacamata hitam karena cuaca nya sangat panas. Matahari kian terik membakar kulit.


Setelah itu kami naik taksi bandara menuju hotel pilihan mama.


Akhir nya aku berada di tanah kelahiran putra.


Ku pandangi sekeliling.


Kami telah sampai di Swissbell hotel.


Papa Memesan 3 Kamar. Aku dan putra beda kamar , ya iya lah.


Aku beristirahat sejenak di dalam nya.


Yah Lumayan lah nyaman nya. Ku lihat sekeliling.


Ada kolam renang nya juga.


Menjelang sore papa mengajak kami mengunjungi rumah saudara nya mama.


Alamat nya berada di jalan Diponegoro.


Masuk ke dalam gang kecil, sehingga mobil sewa kami harus di parkir di luar gang.


Berjalan kaki masuk. Sudah sore tapi cuaca masih sangat panas. Ku pakai kipas mini ku.


Perjalan cukup jauh, yah lumayan buat bakar kalori. Pikir ku.


Kami telah sampai di sebuah rumah ber cat warna hijau. Di samping nya ada sumur tua dan pepohonan.


Padat penduduk.

__ADS_1


Setelah mengucapkan salam , seorang wanita tua pun keluar. Terlihat seorang ibu sekita 50 Tahuan. Beliau adalah Kakak nya mama.


Ku lihat mama dan beliau langsung berpelukan penuh rasa rindu yang mendalam. Mereka pun menangis haru.


Aku terbawa suasana.


Aku dan putra langsung menyalami beliau.


"Apa kabar mu kak, baik baik saja kan" seru mama.


"Alhamdulillah baik" seru nya.


Seorang wanita dewasa cantik pun keluar membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan.


"Kenalkan dia Jeny, anak saya", seru ibu Sarah ke arah papa dan aku.


Aku pun bersalaman berkenalan dengan wanita cantik di hadapan ku. Kami saling tersenyum.


Wanita ini sekilas mirip putra dalam versi cewek.


Kulit nya putih bersih persis tante Mona.


"Maaf baru bisa berkunjung sekarang" seru mama.


"Iya gpp kok, yang penting kamu sehat di sana, kakak sudah tenang" jawab Bu Sarah.


Jeny mengajak ku melihat lihat rumah nya.


"Kak Jen kuliah atau kerja?" tanya ku.


"Aku tidak kuliah, aku lulus SMA langsung bekerja, memang aku gak niat kuliah sih, aku hanya ingin mencari uang membantu keluarga ku.


Aku mengangguk.


Kamar nya meski tidak luas tapi bersih dan tertata rapi.


Aku suka melihat nya, cantik alami. Dengan kulit putih khas Kalimantan.


"Kak Jen berapa saudara?" tanya ku


"Ber 3, adik ku sedang kuliah, biasa nya dua singgah ke rumah teman nya kerja tugas maka nya jam segini belum pulang, kalo Kakak ku sudah menikah dan tidak tinggal di sini", jelas nya.


Aku mengangguk.


Perkiraan ku kak Jen ini usia nya pasti 20 tahun. Yah paling beda 2/3 tahun dengan aku dan putra.


Ku beranikan diri bertanya.


"Kak Jen umur nya berapa?" tanya ku.

__ADS_1


"28 tahun tapi belum nikah, hehe" seru nya.


Aku terkejut. 28 tahun? tapi dia terlihat sangat muda. Apa dia mengerjai ku?


"Serius?" tanya ku.


"Iya, serius, kenapa sih, kok gak percaya?" tanya nya balik.


"Hem, masa sih. Aku kira masih 20 tahun. Apa rahasia nya awet muda?" tanya ku.


"Haha apaan sih, gak ada rahasia, memang seperti ini" jawab nya.


Hebat sekali mereka ini. Tapi kalo di pikir mungkin keturunan mereka awet muda. Tante mona juga dulu terlihat masih gadis di usia nya yang 35 tahun itu. Tante Mona seumuran dengan papa. Berarti dulu Tante Mona juga menikah muda.


Ku lihat lagi kak Jen dia 28 tahun sedang aku baru ulang tahun ke 18 kemarin. Beda sekitar 10 tahun. Luar biasa.


"Kak, putra itu dulu seperti apa anak nya?" tanya ku.


"Hem, putra itu dulu anak yang sangat baik, dia ceria dan aktif. Tapi semenjak orang tua mereka bercerai dia jadi anak nakal dan suka berkelahi, berkali kali Ia harus pindah sekolah. Tante Mona mendapat tawaran pekerjaan di luar kota maka nya putra pun ikut di bawa, eh ternyata rejeki berjodoh dengan bapak kamu" seru nya.


Aku mengangguk.


"Kalian libur sekolah?" tanya nya


"Iya kak, libur panjang" jawab ku.


Putra mengetuk pintu.


"Masuk ajja" jawab kak Jen.


Putra pun masuk.


"Garing banget di luar dengar obrolan para petuah" seru putra.


"Haha, kurang ajar, sudah besar yah kamu, bocah" ledek kak Jen.


"Aku sudah bukan bocah lagi" protes nya.


"Benar kah?" kata kak Jen.


Aku tertawa melihat tingkah mereka.


"Putra ini dulu suka ngompol loh, padahal udah gede, udah sekolah SD. Haha" seru Jeny membongkar masa kecil putra.


"Ih Jeny!!!" protes putra menyuruh Jeny untuk diam.


"Haha. lihat lah ,aku ini sepupu nya, harus nya dia panggil aku kakak, ini gak pernah, sejak dulu dia panggil aku langsung nama, kocak kan" ujar Jeny sambil men jitak kepala putra.


"Ayo keluar. Gak asik ngobrol sama Tante Tante" ejek putra sembari mengajak ku keluar.

__ADS_1


"Gak Tante Tante juga kali" gerutu Jeny.


__ADS_2