Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Senyum dalam tangis


__ADS_3

Ku rangkul lengan papa sembari masih merayu beliau.


"Tumben kamu begini, manja manja seperti anak kecil" seru papa.


"Yah gpp dong, kan sewaktu kecil papa gak pernah manjain aku" jawab ku.


"Gak pernah? terus papa kasi semua yang kamu butuhkan bukan di manja yah?" protes papa.


"Iya deh iya, tapi mau kan belikan kebun teh sama villa" seru ku lagi.


Papa menggeleng.


"Ihh papa jahat" ujar ku.


"Loh kok jahat sih? lagian kamu minta belikan kebun sama villa kayak minta permen ajja, segampang itu?" protes papa.


"Yah dong, kan papa aku sultan, pria terkaya di rumah ini, hahaha" ujar ku seperti sedang membaca kan berita nominasi orang terkaya di dunia.


"Gombal ajja terus, gak papa kasi" tolak papa.


Aku cemberut.


"Aku punya berita baik nih, papa pasti deh berubah pikiran kalau aku ngasi tau kabar ini" seru ku.


Papa mengkerut kan kening nya.


"Maksud nya? berita baik apa?" tanya papa.


"Berita ini mahal. Yakin papa mau membelinya ahhahaa" aku mulai mengerjai papa.


"Udah deh gak usah bikin papa penasaran" protes papa mulai kesal.


"Aku.....


Belum sempat aku melanjutkan kalimat ku, tiba tiba ada suara mobil ketukan pintu dari luar.


Bibi membukakan pintu dan mempersilahkan masuk orang itu.


"Rudi, lama tidak berjumpa, apa kau masih mengenal ku?" tanya orang itu.


"Dia siapa pah?" tanya ku.


Papa seperti gelagapan dan cemas


"Pah" panggil ku.


"Ehm, lidya kamu ke kamar dulu yah, nanti papa jelasin" seru papa.


Tapi aku tidak beranjak. Aku justru menatap aneh ke arah tamu itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Bii, tolong antar lidya masuk" teriak papa.


Bi minah datang dan membawa ku menjauh dari ruang tengah.


"Berani beraninya kau datang ke rumah ku!!!" bentak pak rudi.


"Loh memang nya kenapa, jangan pernah lupa dengan masa lalu kita" ucap wanita itu


"Itu semua masa lalu, untuk apa kamu datang sekarang!!!" seru pak rudi geram.

__ADS_1


"Untuk minta tanggung jawab dong. Jangan pernah lupa kita pernah bersama" seru wanita yang bernama Devina itu.


"Dev, jangan gila ya, tanggung jawab apa maksud kamu!!!" bentak papa.


"Ahahaha, seorang rudi wijaya terlihat takut menghadapi wanita biasa seperti ku, sungguh menarik" seru nya.


"Pergi dari sini, aku tidak mau melihat mu!" bentak pak rudi.


Devina justru semakin mendekati pak rudi.


"Kau mengusir ku? cukup berani juga kamu, aku bisa saja membeber kan hubungan gelap kita selama ini" ancam devina.


"Tutup mulut mu atau aku suruh satpam. Di luar untuk mengusir mu!" pekik pak rudi.


"Baik lah, kita lihat saja nanti" jawab devina tanpa rasa takut.


Justru pak rudi sekarang yang mengejar nya.


"Kau mengancam ku!" seru nya.


Devina tertawa.


"Seperti nya ada putri kesayangan mu di rumah yah, menyenangkan sekali jika ia tahun betapa fakboy ayah nya ini" ujar devina senang.


Pak rudi mencengkeram tangan devina.


"Aku tidak pernah merasa kita punya hubungan spesial" tegas pak rudi.


Wanita cantik nan bar bar itu tersenyum sinis.


Di lihat dari sudut mana pun devina memang terlihat seperti wanita malam.


Pakaian nya ketat dan seksi.


"Berapa yang kau butuhkan" tanya pak rudi.


"1 miliyar" jawab devina santai.


"Apa? kau memeras ku?" pekik pak rudi.


"Ya ampun rudi, bukan kah 1 m itu bagi mu hanya uang pembeli cemilan, kok berat sih" jawab devina.


"Nanti aku transfer, pergi lah sekarang" pinta pak rudi.


"Bukti nya dulu" jawab devina tidak mau kalah.


Pak rudi lalu menelpon sekertaris nya.


"Temui saja sekertaris ku" jawab pak rudi.


"Ah, makasi sayang, muaaachh" seru wanita itu.


Pak rudi memandang nya jijik.


Dari balkon atas aku melihat wanita itu keluar rumah ku dan dengan girang memakai helm nya, ia pun mulai naik sepeda motor menuju keluar gerbang.


Aku segera turun ke bawah. Perlahan.


Putra terlihat baru pulang dari masjid.

__ADS_1


"Pah, siapa dia?" tanya ku.


"Teman lama papa, dia orang nya menang agresif ke semua orang jadi kamu jangan salah paham" jelas papa.


Aku menangkap raut kebohongan di wajah papa, tapi aku tidak mau ambil pusing, aku sudah cukup tau papa seperti apa. Dia bisa membeli apa saja, termasuk wanita, tidak heran jika papa dulu playboy. Papa tampan dan tajir. Wanita mana yang tidak mau mendekati nya?


"Ohh, eh putra, mama kok lama banget yah balik, separah itu kan sakit tante luna?" tanya ku.


Putra mengangguk.


"Iya, kalau libur seperti nya aku akan menyusul mama" jawab putra.


"Ya ampun, semoga tante luna lekas sembuh ya, Aamiin" seru ku.


"Aamiin, aku ke atas dulu yah, mau ganti baju" seru putra.


"Ok" jawab ku.


"Pah" panggil ku.


Papa menoleh.


"Tadi kamu mau bilang apa?" tanya papa.


"Aku hamil pa" seru ku.


Bi minah yang lewat dan mendengar pun langsung menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Serius kamu?" tanya papa antara percaya dan tidak.


Aku mengangguk.


"Baru 1 bulan sih" jawab ku.


Aku melihat raut wajah papa begitu gembira nya. Ia terharu dan memeluk ku.


"Alhamdulillah non lidya hamil, benar kan, jamu nya bibi mantap" ujar bi minah merasa berjasa.


"Haha aku bahkan tidak pernah meminum nya bi, mas yugo saja yang doyan minum jamu" jawab ku.


"Hmm jadi ini berita baik nya? berat juga permintaan nya yah" papa mulai berpikir.


"Papa bakal punya cucu loh yang bisa meneruskan perusahaan papa, jadi boleh dong ngidam nya minta belikan kebun teh dan villa" seru Lidya.


Meski terdengar konyol dan mustahil , masa ngidam seperti itu.


"Ah, pasti akal akalan kamu saja kan , bawa bawa cucu papa supaya mau di belikan villa itu" ujar papa seperti tau maksud dan tujuan ku.


"Ihh gak kok, emang pengen beli itu ajja" seru ku.


"Minta ajja sama suami mu sana" jawab papa.


Aku lalu diam dan menunduk. Aku gak mungkin meminta tolong ke papa jika keadaan ku dan yugo sedang baik baik saja, tidak seperti ini. Aku dan yugo lagi berjuang di masa sulit ini. Air mata ku mengalir dengan sendirinya jika mengingat yugo.


Papa terkejut dan merasa tidak enak.


Dia lupa keluarga yugo jatuh bangkrut sekarang.


Papa menatap ku, ia mengelap air mata mu dengan tangan nya.

__ADS_1


"Maafin papa yah, bagaimana pun juga kamu tetap anak papa, jangan merasa susah, ada papa, papa akan tetap melindungi mu, baik lah, besok, papa akan suruh anggota papa untuk mencari tau siapa pemilik villa itu dan berusaha agar pemilik mau menjual nya, kamu jangan sedih begitu dong, kamu kan sedang hamil, anak dan cucu papa harus sehat yah, jangan banyak pikiran" seru papa sembari memeluk ku yang masih menangis.


Dalam tangis aku tersenyum senang karena papa akhirnya menuruti apa mau ku.


__ADS_2