Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Ponsel.


__ADS_3

Ah biarin ajja ponselnya ketinggalan, usaha sendiri jika dia mau ponsel nya balik, bukan salah ku kan, dia yang ceroboh.


Aku membawa ponsel itu masuk ke dalam tas ku. Ku buka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah mewah yang hampa ini.


Tidak ada putra. Aku pun kembali murung.


Baru aku langkah kan kaki ku ke dalam rumah ramai orang rumah bersorak-sorai menyambut ku.


"Selamat atas kelulusan nya non lidya" seru bi Minah.


Aku tersenyum haru melihat pekerja di rumah ku itu bekerjasama untuk memberi ku kejutan.


"Ya ampun bibi repot repot deh" ujar ku.


Papa tiba tiba muncul dengan mama.


"Tuan yang nyuruh non, hehe" jawab bi Minah.


Di meja sudah ada tumpeng untuk kami makan bersama. Ada juga ucapan selamat di dinding.


"Ih kalo papa baik, Pasti ada udang di balik batu nih" protes ku.


Papa mencubit hidung ku gemas.


"Haha kau memang benar anak ku, selalu tau apa yang aku rencana kan" jawab nya.


Aku perlahan mundur.


"Kali ini apa lagi?" tanya ku serius. Suasana jadi canggung.


"Haha santai lah, ayo semua nikmati makanan nya, nona Lidya Wijaya ini seperti nya sedang lelah maka nya bawaan nya suuzon terus sama papa nya sendiri" seru papa.


Karena menghargai bi Minah aku pun akhir nya memasang senyum manis dan mempersilahkan semua pekerja di rumah ini untuk makan bersama.


......🌺🌺🌺......


Ah lelah sekali rasa nya.


Ku buka seragam putih abu abu ku yang ku pakai untuk terakhir kali nya. Sebenarnya aku dan teman teman sempat coret coret baju dengan spidol, tapi hanya tanda tangan, tidak pakai pilox.


Tapi karena aku tidak langsung pulang aku pun menutup nya dengan jaket.


Ku tatap banyak tanda tangan di seragam putih ku sembari tersenyum.


Flash back kejadian setelah upacara kelulusan dan perpisahan.


"Lidya, kamu bisa tanda tangan di sini" ujar Bimo sembari menunjuk ke bagian dada nya yang masih kosong dari coretan.


Aku menerima spidol itu dan memberi nya tanda tangan.


Ia pun turut memberikan tanda tangan pada bagian belakang baju ku.


Anak anak mulai ramai saling melempar pilox. Aku menolah saat di beri pilox, aku hanya mau tanda tangan.


Syukur kepala sekolah tidak melarang kami. Beliau hanya beri peringatan untuk tidak konvoi di jalanan. Kepala sekolah bahkan turut tanda tangan di seragam ku.


Kejadian ini terjadi sebelum Tante nya Maharani mengajak kami jajan.


Aku tersadar dari lamunan, ku raih handuk dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


......🌺🌺🌺......


Keesokan hari nya aku Bangkong, bangun jam 09.18.


"Eh udah bangun non, udah bibi sarapan nya, mau di bawa ke sini atau mau sarapan di bawah?" seru bi Minah saat melihat ku bangun tidur.


Aku pun menguap dan menggaruk kepala ku, rambut ku berantakan.

__ADS_1


"Bawa kesini deh bi, letakkan di meja balkon yah, sama teh hangat" jawab ku.


Bibi pun pamit kembali turun untuk membawakan sarapan dan teh ku.


Ku raih handuk dan mandi pagi hari menjelang siang ini.


Setelah selesai mandi aku melihat sudah ada teh dan sarapan di meja balkon sesuai permintaan ku.


Aku pun sarapan di atas balkon kamar ku.


Aku suka melihat pemandangan dari sini sambil ngeteh.


Ku raih ponsel ku dan menghubungi putra.


Aku ingin video call. Aku ingin melihat pemandangan Jerman saat ini.


Tidak ada jawaban.


......🌺🌺🌺......


Jerman.


Putra menatap layar handphone nya. Ia mengabaikan panggilan video itu.


"Sebaik nya kamu tidak mengetahui keadaan ku Sekarang Lidya. Maafkan aku" ujar putra sambil meringkuk menahan sakit nya.


Air mata nya mengalir.


Tidak lama kemudian. Lidya chat.


Lidya: Putra apa kabar, aku merindukan mu.


Putra membalas chat itu.


Putra: Alhamdulillah aku baik baik saja di sini, maaf aku sangat sibuk.


......🌺🌺🌺......


Ah setidaknya aku tau kabar putra.


Aku melangkah turun ke bawah.


Ku lihat papa sedang asik membaca koran.


Dia gak berangkat bekerja?


"Pah" sapa ku.


"Eh ada anak papa, ada apa?" tanya nya


"Aku kuliah hukum ajja yah, aku ingin jadi jaksa" jawab ku.


Papa seperti berpikir.


"Jaksa? kok tiba tiba berubah pikiran, kemarin kamu iyakan kemauan papa untuk kuliah jurusan ekonomi manajemen" protes papa.


"Aku tidak berminat meneruskan perusahaan papa" jawab ku.


"Apa?!" jadi menurut mu siapa lagi yang pantas?" pekik nya.


"Putra" jawab ku mantap.


"Tidak, dia bukan anak kandung ku" bantah papa.


"Pokok nya aku akan kuliah hukum, titik!" kata ku.


Papa lalu tersenyum licik.

__ADS_1


"Boleh, tapi kamu menikah dengan anak teman papa itu bagaimana? deal?" seru papa.


"Tidak!" bantah ku.


"Ya udah kalo gitu papa gak ijin kan kamu kuliah hukum" jawab papa.


Aku mendengus kesal.


Mama datang membawa secangkir kopi untuk papa.


Aku pun pergi kembali ke kamar dan di kejutkan oleh suara ponsel milik Mr.galak.


10 panggilan tak terjawab.


Ia terus menelpon.


Nyusahin ajja sih nih orang.


"Ya halo!" jawab ku kasar.


"Bocah, kembali kan ponsel ku" bentak nya.


"Loh, yang salah siapa? kok ngegas, kau yang teledor" jawab ku.


"Bisa bisa nya kau tinggalkan aku kemarin, dasar bocah, aku bahkan gak bisa menghubungi orang rumah untuk menjemput ku" umpat nya.


"Terus" balas ku.


"Kembali kan handphone ku, segera kirimkan alamat mu, aku akan kesana!" pekik nya.


"Ih ngapain kau ke rumah ku, bikin kotor ajja, suruh Dimas saja yang ambilkan, Dimas sudah sering kesini" balas ku.


"Kotor kata mu, awas kau yah jika ketemu, aku tidak akan berbuat baik, Dimas sibuk ngurus kuliah nya, segera kirimkan alamat mu, sekarang!" bentak nya.


"Itu urusan mu, cari ajja sendiri. Aku juga sibuk, bye!" ku tutup telepon tidak penting itu.


Yugo mengumpat dan mengembalikan handphone milik pembantu nya itu.


Tidak lama kemudian ponsel nya berbunyi lagi, aku pikir dia lagi ternyata bukan.


Ku lihat nama di layar handphone itu.


"Sayang?" haha aku tertawa.


Mr galak bisa juga punya pacar?


Aku iseng mengangkat telepon nya.


Suara ku buat selembut mungkin.


"Halo" jawab ku.


"Kamu siapa?! mana Yugo?!" tanya nya.


"Oh Yugo, dia sedang sibuk sekarang, ada yang mau di sampai kan?" tanya ku.


"Kamu siapa?!" pekik nya mulai emosi.


"Aku siapa? tanya saja sama Yugo nanti" jawab ku kepada nya sembari menutup telepon itu.


Aku pun tertawa.


Haha kapok kamu Mr galak, rasakan pembalasan NYI Blorong hahahaha. Tawa ku semakin sinis dan di buat buat seperti di sinetron sinetron pemeran antagonis gitu deh.


Bi Minah sampai terkejut melihat ku bertingkah aneh.


"Non lidya baik baik saja kan?" tanya nya khawatir.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum mengangguk dan kembali tertawa.


__ADS_2