
Bagus lanjutkan novel yang ini saja atau buat season 2 nya untuk kehidupan lidya setelah menikah ya?
Saran nya dong.
Sekali lagi maaf jika sering terlambat up.
Author sibuk. π₯Ί Bahkan Sangat sibuk.π
.......πΊπΊπΊ.......
Keesokan hari nya.
Langit sangat cerah hari ini. Dan kami juga akan cek out untuk pulang ke rumah ku.
Aku sudah sangat rindu dengan kamar ku.
Yugo mengesap kopi hangat nya di balkon hotel di hari terakhir di sini.
Pada akhirnya kami tidak kemana mana, hanya menghabiskan waktu di sini sepanjang hari yang membosankan.
Kami di jemput oleh supir dari istana ku. Rumah ku.
Mobil nya di hias seolah menyambut pengantin baru padahal kami sudah menikah Kurang lebih 2 hari yang lalu. Mungkin inisiatif dari papa.
Sesampai nya di rumah pun kami di sambut mulai dari gerbang sampai masuk ke dalam rumah.
Bi minah tersenyum mengejek ku.
"Cieh pengantin baru, selamat yah" seru bi minah.
Baru kali ini aku tidak membalas senyuman itu. Aku tidak merasa senang dengan pernikahan ini, bisa bisa nya bi Minah mengejek ku.
"Wah anak sama menantu papa sudah pulang" sambut papa.
Papa memeluk ku seolah telah lama sekali tidak bertemu.
Putra dan mama tersenyum melihat kedatangan kami.
Yugo dengan mudah mengakrabkan diri nya pada keluarga ku.
Cih, sok akrab. Batin ku.
Aku pergi ke kamar ku, meninggal kan Yugo yang asik ngobrol dengan papa.
Ku rebahkan diri ke kasurku, kamar ku, tempat ternyaman di dunia ini.
Tidak lama kemudian yugo dan putra datang ke kamar ku. Putra membantu membawakan barang barang yugo.
Untuk sementara biar lah seperti ini. Semoga saja Yugo gak nyaman.
Putra terlihat menghindari ku. Padahal aku sangat merindukan nya.
Setelah membantu membawa barang nya yugo ia pun keluar tanpa berkata apa pun pada ku.
"Eh, mas putra, makasih ya bantuan nya" seru yugo.
__ADS_1
Putra hanya mengangguk.
"Kamu kenapa?" tanya yugo bingung melihat ekspresi ku yang tidak baik baik saja.
Aku hanya menggeleng pelan.
"Aku gerah, mau mandi, minggir!" ujar ku sambil mendorong tubuh nya karena menghalangi jalan ku untuk mengambil handuk.
"Ih dasar miss bocah sok garang" seru yugo melihat sikap ku pada nya.
"Terserah" jawab ku Sembari melangkah ke arah pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar ku.
Di banding kan dengan hotel yang kata nya bintang 5 itu tetap kamar ku yang terbaik, ternyaman dan tidak kalah mewah nya.
Selesai mandi gantian yugo yang mandi.
Menjelang malam kami makan malam bersama di ruang makan. Ramai karena kami lengkap dan bertambah anggota keluarga.
Ku pikir suasana akan canggung ternyata kebalikan nya. Yugo sangat pandai bergaul.
Putra pun mengakui nya.
Aku ke kolam menceburkan kaki ku ke dalam nya. Meski air dan udara malam itu semakin dingin aku tidak peduli. Aku tidak nyaman ada yugo di dalam kamar ku.
Tiba tiba seseorang memakai kan aku jaket.
Putra? ah senangnya, bahagia banget putra masih peduli pada ku.
"Kamu ngapain di sini? disini kan dingin, masuk lah" seru putra.
"Aku rindu kamu putra, seperti nya aku tidak bisa menerima kehadiran laki laki lain di hati ku" jawab ku.
"Maaf" hanya itu jawaban ku.
Aku membuka jaket dari putra dan mengembalikan nya.
"Ya sudah, kamu jangan pedulikan aku lagi, jangan terlalu baik pada ku, kita hanya lah saudara tiri" seru ku sambil sedikit berlari masuk ke dalam kamar ku.
Tidak ada yugo. Aku langsung merebahkan diri di kasur. Hati ku sakit tapi benar kata putra. Aku sudah menikah sekarang, tidak sepantasnya aku masih menyimpan perasaan ku ini pada nya.
Perlahan gagang pintu kamar ku di buka.
Yugo pun masuk dan menguncinya.
"Lidya, berkemas lah, besok kita pindah" seru yugo tiba tiba.
Aku terkejut.
"Maksud nya?!" protes ku.
"Turuti saja apa kata ku", balas Yugo.
"Untuk sementara kita ke rumah ku dulu, setelah itu kita tinggal di villa, nanti kalo rumah ku sudah jadi kita pindah ke sana, gpp kan" jelas nya.
"Kenapa tiba tiba?! bukan kah kamu kasi aku kebebasan untuk menentukan akan tinggal di mana!" balas ku.
__ADS_1
"Tidak berlaku lagi sekarang" jawab nya. Wajah nya datar.
"Kenapa sih, ada apa?" tanya ku.
"Tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan mu dengan putra, ternyata ada sesuatu di antara kalian, aku rasa tidak sepantas nya untuk kalian bertemu setiap hari seperti ini sementara kita sudah menikah" jelas nya.
Aku mengerutkan kening ku.
"Kamu nguping?" pekik ku.
"Tidak sengaja dengar, ingat! bagaimana pun juga aku suami mu , aku berhak membawa mu kemana saja aku mau" jelas yugo.
"Kamu cemburu?!" tanya ku.
Yugo tersenyum sinis.
"Cemburu?? Tidak!!" bentak nya.
"Terus kenapa tiba tiba bete begitu?" tanya ku lagi.
"Memang nya salah jika aku tidak mau tinggal di sini!" pekik yugo.
Aku sedikit tertawa.
"Cieh cemburu nih yee" ejek ku.
"Sudah lah, Terserah!" balas nya.
Aku tidak bergerak untuk berkemas ,aku justru ke kamar mandi untuk sikat gigi, cuci muka dan skincare an rutin sebelum tidur.
"Ribet amat sih kamu, cuma mau tidur, persiapan nya kayak mau jalan" proses yugo.
"Ih bacot deh, kalo mau tidur, tidur ajja duluan sana" usir ku, Yugo pun langsung ke kasur ku , seenak nya memakai selimut dan bantal. Menguasai tempa tidur
"Siapa yang suruh kamu tidur di situ? sana, pergi, ke sofa" tunjuk ku ke arah sudut ruang di depan tv besar di kamar ku yang super luas.
Ia tetap tidur di kasur ku. Huft.
"Udah selesai ritual nya?" tanya Yugo.
"Kenapa?" jawab ku.
"Sini lah tidur, aku gak ngapa2in kamu kok" ujar nya.
"Aku tidak percaya sama kamu" seru ku.
Yugo pun bangkit, ia bangun dan merebahkan ku ke kasur. Dia dekat kan wajah nya ke wajah ku. Ku dorong wajah itu.
"Ih apaan sih!" pekik ku.
Yugo lalu tertawa.
"Jangan tidur di sofa atau aku tidak akan menahan diri lagi untuk tidak menyentuh mu" ancam yugo.
Jujur aku takut dan menurut.
__ADS_1
Aku mulai tidur di samping nya. Yugo tersenyum.
"Nah begitu dong" ujar nya.