Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 60.


__ADS_3

Baru memasuki lapangan, banyak yang menyoraki kami. Entah memuji atau mengejek.


"Tinggi dan cantik cantik banget yah tim dari SMA pelita" seru seorang murid dari sekolah lama ku.


Aku menatap ke arah mereka.


Pertandingan akan segera di mulai.


SMA 7 sudah berkumpul di lapangan.


Aku pemanasan sedikit.


Bimo baru menyadari kehadiran ku di lapangan memakai seragam voli sekolah ku. Ia sangat terkejut. Karena yang dia tau aku tidak pandai olahraga apa pun.


Putra memantau ku dari dekat. Ia duduk dia antara pemain cadangan. Meski sudah di usir pelatih ia tetap bersikeras duduk dia situ menonton dari dekat.


"Kamu siapa, kenapa duduk di sini?" tanya Luna pada putra, cadangan di tim kami.


"Aku ingin menonton adik ku bertanding dari dekat" Jawab nya.


"Siapa adik mu?" tanya Luna.


Putra lalu menunjuk ku. Aku melihat dan melambaikan tangan ku pada nya.


"Ohh Lily?" kata Luna mengangguk.


Aku melakukan passing awal.


Pertandingan berjalan seru. Kami unggul di awal, mungkin karena lawan kami biasa saja.


Di menit 30 kami Sudah unggul 25 - 18.


Setelah istirahat sejenak babak kedua pun di mulai. Ku lap keringat ku dan minum air mineral. Hanya perasaan ku saja atau memang banyak pasang mata yang menatap ku.


Aku kembali ke lapangan untuk melanjutkan pertandingan babak kedua.


Aku menatap sekeliling. Mengingat kejadian2 di masa lalu membuat ku sedikit pusing.


"Kamu baik baik saja?" tanya wulan khawatir.


"Eh, iya gpp kok, sedikit pusing ajja" jawab ku.


Pertandingan kembali berlangsung seru. Ramai sorak Sorai pendukung dari SMA 7. Sedang kan dari sekolah kami yang hadir menonton bisa di hitung jari saking sedikit nya.


"Sejak kapan SMA pelita mengembangkan olahraga nya?" tanya Reno ke teman di sebelah nya.


"Gak tau juga, aneh ajja mereka bisa menang babak pertama tadi. Ganti personil mungkin? atau kapten nya? atau pelatih nya?" seru raja di sebelah Reno, Mereka dulu tim basket terkenal di SMA cahaya ini. Jadi mereka sedikit tau kekuatan tim olahraga di sekolah lain.


"Kita lihat saja perkembangan nya" jawab Reno.


Babak ke dua selesai. Kami unggul lagi 25 - 20.


Satu babak lagi akan menentukan kemenangan kami.


Kami kembali beristirahat.


Aku melihat Bimo yang menatap ku tak percaya dan tanpa berkedip sedikit pun. Ia pun nekat meninggalkan bangku nya yang di samping Siska.


Bimo menuju ke arah putra yang duduk di bangku cadangan. Ia menarik tangan putra menjauh dari lapangan.


"Apa yang kau lakukan!!!" pekik putra.

__ADS_1


"Aku mau tanya. Di mana Lidya sebenar nya, apa itu benar dia?" tunjuk Bimo ke arah ku.


"Apa kau tidak mengenali nya?" balas putra.


"Lidya gak mungkin bisa melakukan itu, dia gak tau bermain voli atau olahraga apa pun" seru Bimo.


"Seperti nya itu bukan urusan mu deh Bim. Bukan kah kau sudah melepaskan tangan mu sebagai sahabat nya?" jawab putra.


Bimo mencengkeram kerah baju putra.


Putra lalu mendorong nya.


"Jangan berlagak peduli pada Lidya, kau tidak tau apa saja yang dia alami. Aku tau kau kecewa tapi harus kah kau buat dia menangis seperti kemarin? sudah cukup Bim. Berbahagia lah dengan pilihan mu!!!" bentak putra.


"Jika kau mengganggu Lidya apa lagi membuat nya menangis lagi, Kau akan berhadapan dengan ku!!!" teriak putra.


Selepas istirahat sejenak kami pun kembali ke lapangan untuk melanjutkan babak selanjutnya. Harus nya ada 5 babak. Jika kami menang lagi berarti kami unggul 3 set dan di nyatakan menang tanpa melanjutkan pertandingan sampai 5 babak.


Semoga saja menang lagi. Tenaga ku sudah terkuras habis.


"Ayo li, semangat!!!" teriak Maisaroh dari tribun.


Aku menoleh sesaat ke arah nya lalu tersenyum dan kembali ke lapangan.


Pertandingan berlangsung, Wulan lagi lagi melayangkan smash tajam nya ke lawan.


Kami unggul lagi 17-09.


Sedikit lagi.


Keringat membasahi sekujur tubuhku.


Rasa nya lelah sekali tapi pertandingan belum usai.


"Ayo selesaikan" bisik nya.


Aku mengangguk. Tenaga yang tersisa ku keluarkan semua untuk menyelesaikan pertandingan.


Bimo menatap ku tanpa berkedip dari tribun. Ia sangat kagum melihat Lidya yang sekarang.


Siska menatap kesal ke arah bimo yang pindah tempat duduk dari samping nya.


Keringat mengalir di dahi ku turun ke leher. Membuat banyak pasang mata yang mulai mengagumi ku.


"Itu yang kunciran, berkulit putih cantik banget yah" puji salah seorang penonton dari SMA 7.


"Apaan sih loe, dia kan lawan kita!!!" balas teman di sebelah nya.


"Aku kan cuma mengangumi kecantikan nya. Emang gak boleh" protes nya.


"Gak, gak boleh!!!" jawab teman nya.


Pertandingan pun selesai.


Kami menang telak dengan sekor babak terakhir 25-13.


Tidak ada yang bertepuk tangan riuh merayakan awal kemenangan kami di tribun. Kecuali Dimas Maisaroh Adit dan anggota club' voli yang sebagai cadangan.


Pelatih bahagia sekali melihat kami.


"Kalian hebat. Bapak terharu. Masih panjang perjalanan kalian untuk mencapai kemenangan. Semoga masuk final nanti" ujar pak guru olahraga pelatih voli kami.

__ADS_1


Aku terduduk lemas sambil terus meneguk air mineral ku.


"Terima kasih ya sudah maksimal. Aku sangat mengandalkan mu" ujar Wulan.


"Sudah seharus nya begitu" jawab ku.


Kami pun bangkit dan masuk ke ruang ganti.


Baju ku basah oleh keringat.


Ku pakai jaket olahraga khusus dari sekolah kami.


"Aku jalan jalan sebentar dulu yah" ujar ku ke teman teman club'.


"Ikut" kata Wulan dan Rara bersamaan.


Aku hanya mengangguk.


Dimas Maisaroh dan adit segera menyerbu kami.


"Gak nyangka deh kamu sehebat itu" kata maisaroh kagum.


"Mau kemana?" tanya Adit.


"Mau keliling ajja, melihat lihat sekolah ini" jawab ku.


"Ikut dong" seru Dimas.


Akhir nya kami beramai ramai mengelilingi sekolah itu.


Banyak kenangan buruk di sini. Aku menatap kelas lama ku.


Terngiang semua perlakuan buruk dari orang orang di sekolah ku.


"Kok melamun?" tanya wulan.


"Li, Lily?" Dimas menepuk pundak menyadarkan ku.


"Eh ada apa?" tanya ku.


"Kamu melamun apa tiba tiba berhenti di sini?" tanya wulan.


"Ah, gak ada apa apa kok" kata ku.


"Aduh, toilet nya di mana kebelet nih" seru Rara.


Refleks aku menjawab.


"Di sudut sana belok kiri lurus, di pojokan" jawab ku.


Mereka semua menatap ku bingung.


"Kok kamu tau?" tanya Rara.


"Eh kebetulan aku dari toilet tadi" jawab ku bohong.


"Kapan? perasaan kamu sama kami terus" selidik Wulan.


Jangan sampai mereka tau aku pernah sekolah di sini.


"Lidya..." Bimo tiba tiba datang dan memanggil ku di tengah ramai nya teman ku.

__ADS_1


Kenapa dia muncul di saat seperti ini.


Untuk pertama kali nya aku tidak suka Bimo mendekati ku.


__ADS_2