
"Kok kamu ada di sini?" tanya Dinda bingung.
"Maaf yah Dinda, aku yang memanggil nya" jawab ku.
Putra lalu duduk di samping ku.
"Putra, aku minta maaf jika selama ini banyak salah pada mu, aku juga berterima kasih banyak atas semua bantuan mu, aku pamit yah" seru Dinda.
Terdengar suara nya bergetar menahan tangis.
"Aku juga, maaf jika ada salah, pamit kemana? kamu mau kemana?" tanya putra.
Dinda Kembali menjelaskan rencana nya.
Putra mengangguk mengerti.
"Semoga kamu, Mbah dan bayi mu baik baik saja, jangan pernah berpikir untuk menggugurkan nya ya" nasehat putra.
"Gak kok, aman" jawab nya.
"Jadi bagaimana sekolah mu?"tanya putra.
"Aku putus sekolah, cepat atau lambat sekolah pasti tau keadaan ku, dan sekolah mana yang mau terima seorang ibu hamil?" seru Dinda.
"Lidya, putra, aku harus segera pergi. Banyak hal yang harus aku persiapkan" pamit nya.
"Apa yang bisa kami bantu?" tanya ku.
"Gak deh, aku bisa sendiri, terima kasih banyak yah, nanti kalo sudah mau berangkat aku kabari" jawab Dinda.
"Baik lah, kalo begitu ijinkan kami antar kamu ke bandara" seru putra.
Dinda hanya mengangkat jempol tangan nya tanda setuju.
Ia pun berjalan semakin menjauh.
Aku melihat ekspresi sedih di raut wajah putra.
"Kau suka pada Dinda?" tanya ku.
Putra langsung menepis tuduhan itu.
"Ya gak lah, aku Baik pada nya karena dia teman ku" bantah putra.
"Bukan itu, aku melihat mu keberatan melepas kepergian nya" goda ku.
"Enggak kok" bantah putra salah tingkah.
Dinda memang cantik, manis dan feminim. Body nya seksi, montok bagian dada dan bokong. Lelaki mana yang tidak tergoda melihat body nya itu.
Tapi sayang dia malah memanfaatkan nya untuk hal yang tidak baik yang justru merusak masa depan nya.
Itu juga alasan kenapa dia sering di lecehkan oleh siswa di sekolah karena baju nya yang ketat memperlihatkan setiap bentuk tubuh nya. Padahal dia pendiam di kelas.
__ADS_1
Aku dan putra masih di cafe.
"Sekarang apa?" tanya ku bingung.
"Aku mau pesan ice cofe " seru putra beranjak dari tempat dia duduk.
Aku melihat Bimo dan Siska masuk ke dalam cafe.
Dari sekian banyak cafe di kota ini kenapa mereka harus ke sini sih.
Bimo melihat ku. Aku pura pura tidak melihat.
Putra datang dengan sumringah membawa ice coffe nya dan semangkuk es cream vanila.
"Ini es cream untuk mu, kamu kan suka makan es cream" seru putra.
Aku malah pasang wajah sedih.
"Loh kenapa?" tanya nya.
" Aku diet, bisa kembali gendut aku jika makan es cream ini, bayangkan sudah seberapa besar kalori nya itu?" tolak ku.
"Iih kan sekali sekali, gak setiap saat" putra tetap menyuruh ku menikmati nya.
"Saudaraan atau pacaran?" sindir Siska dari meja sebelah, Siska sudah mengetahui identitas ku, dia juga tau putra saudara tiri ku.
"Iri bilang Bos?!" balas ku sambil tersenyum sinis.
Siska terlihat kesal saat Bimo memarahi nya.
Siska menatap ku jijik.
Selesai ngopi kami pun beranjak dari sana.
"Eh Bimo, apa kabar, sudah lama gak bertemu" seru ku sambil duduk di samping Bimo.
Sisma kaget melihat ku.
"Heh Siska, kau ingat aku kan. Lidya si gendut yang selalu kau bulli di sekolah, ini aku yang sekarang, gak peduli apa pun orang bilang tentang operasi ku. Sakit banget loh. Di bedah, di belah di sayat, tapi nggak sesakit perlakuan kalian dulu pada mu dan Bimo, jangan lupakan itu" seru ku.
"Operasi ajja bangga" balas nya.
"Bimo ini Sahabat ku, yang selalu kamu bulli dulu, kau benar benar gak tau malu yah, menjilat ludah sendiri yang kau buang, kau Matian Matian menghina kami tapi lihat sekarang, kau pacaran dengan orang yang kau hina hina" seru ku.
Siska diam.
"Dan kau Bimo, setelah kau tampan,tidak culun lagi, selera pertemanan mu juga berubah bukan aku lagi, kau tidak Sudi berteman dengan pembohong dan monster plastik seperti ku. Apa yang kita lalui dulu gak ada arti nya sama sekali, bukan hanya aku yang berubah, tapi kau, kau terus menyalahkan aku karena membohongi mu, kau bahkan tidak menerima permintaan maaf ku. Kita sama ,sama sama melupakan masa lalu" tegas ku.
"Sudah lah Lidya, jangan menyalahkan Siska, aku yang salah, lagian kita cuma sahabatan kan, gak pacaran, kenapa kamu harus se marah ini pada Siska" seru Bimo.
Bimo bahkan membela Siska sekarang.
"Hanya sahabat an? hahaha, bodoh nya aku mengira kita memang sahabatan dulu, bimo baik yang dulu sudah gak ada lagi di dunia ini" seru ku kecewa.
__ADS_1
Siska bahkan tidak meminta maaf pada ku atas semua perlakuan nya dulu pada ku.
Masih terekam jelas di ingatan ku setiap perlakuan mereka pada ku.
Putra menepuk pundak ku.
"Lidya, ayo kita pulang" ajak nya.
"Oh ya Lidya, ingatan persahabatan kita dulu lupakan saja, mari jalani hidup masing-masing" seru Bimo pada ku.
Sungguh aku sakit mendengar nya.
Tanpa kata aku langsung pergi.
Putra merangkul pundak ku sambil berjalan.
"Sabar yah, jangan dendam, setiap perbuatan orang yang gak baik sama kita maafkan, itu lebih mulia dari pada dendam" nasehat putra.
"Masih banyak teman lain, dan ada aku yang selalu di sisi mu, kau tidak sendiri" seru putra menenangkan ku.
Sepanjang jalan di mobil aku hanya diam.
Sibuk dengan lamunan ku di masa lalu.
Semakin aku ingin aku lupakan justru semakin jelas di ingatan.
Ponsel ku berdering, Dimas menelpon ku.
Aku pun mengangkat nya.
"Lidya Wijaya, kamu sudah makan?" tanya nya tiba tiba.
"Apaan sih, cuma nanya udah makan pake panggil nama lengkap begitu" protes ku.
Jujur aku sudah tidak malu lagi dengan nama asli ku, Lidya Wijaya.
"Aku sudah pulang nih dari rumah sakit. Kau tidak mau menjenguk ku? kesini lah aku butuh teman untuk makan" seru nya
"Baru kali ini ada orang yang sakit minta di jengukkin, makan ajja pake teman, manja banget sih, kenapa nda sekalian minta suap sama pembantu?" balas ku.
"Haha, aku tunggu yah, aku gak akan makan kalo kamu gak datang" ancam nya.
Aku bernafas berat.
"Ada apa?" tanya putra.
"Antar aku ke rumah teman ku yah, aku mau menjenguk nya, nanti kamu langsung pulang ajja habis antar aku" seru ku.
"Baik lah, jika mau pulang nanti, telepon ajja aku,nanti aku jemput" kata putra.
"Siap, kalo gak aku hubungi berarti aku pulang sendiri yah, ada juga pak supir yang standby di rumah kan" jawab ku.
"Waduh, itu mau jengukkin atau mau kencan?" goda putra.
__ADS_1
Aku mencubit lengan putra.
"Aduh, sakit, tuh kan sampai kakak nya yang tersayang ini gak di ajakin jenguk loh" goda putra lagi.