Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Rumah Oma.


__ADS_3

Aku terdiam mematung memandang proses pemakaman Oma.


"Sungguh aku sudah memaafkan Oma" ujar ku pada opa.


Opa tersenyum manis.


"Kamu memang anak yang baik"seru opa seraya merangkul pundak ku menatap makam Oma dan mulai ikut menabur bunga.


Papa terlihat sangat terpukul atas kepergian Oma.


Mama berusaha terus menenangkan papa.


Selesai pemakaman kami pun pulang.


Papa masih di sana, aku dan opa duluan pulang. Aku sangat lapar karena baru sampai langsung ikut ke pemakaman.


Ramai di rumah Oma, ada saudara nya Oma beserta anak anak nya. Sepupu nya papa.


"Itu siapa?" Tanya salah satu sepupu nya papa. Tante ku?


"Itu anak nya si Rudi" jawab Tante yang lain.


"Oh yang gendut itu? Langsing yah sekarang, banyak sekali perubahan nya" celetuk nya lagi.


"Iya wajar lah, ayah nya lebih sukses dari kita, wajar bisa berubah, kan banyak duit" jawab Tante yang lain.


Aku bahkan tidak tau nama mereka.


"Yang itu nama nya Ratna, dan itu tata, semua sepupu papa kamu" seru opa tanpa aku bertanya karena aku sibuk memperhatikan mereka dari jauh.


Opa mengajak ku ke ruang makan, seperti nya dia tau aku sangat lapar.


Mata mereka tak lepas menatap ku.


Setelah aku pergi mereka melanjutkan ghibah mereka.


"Si Rudi itu ganteng , kaya raya pula, kok mau ya dia menikah dengan orang biasa, itu juga anak nya lahir dari gadis miskin kan dulu, Rudi memang tidak pandai mencari pasangan" seru Tante tata.


Tante Ratna mengangguk.


"Hust, kalian ini, asik gosip ajja, mending kalian bantu merapikan teras tuh" ujar Oma tati.

__ADS_1


Oma tati adalah adik dari Oma ku.


Keluarga dari papa memang banyak meski dia anak tunggal tapi ia punya banyak sepupu.


Aldi terlihat masuk ikut ke ruang makan.


"Opa, aku juga lapar, kok dia ajja sih yang di tawari makan" seru nya.


"Oalah, Aldi sini, ayo makan bareng, maaf opa tadi tidak melihat mu" jawab opa.


Aldi langsung duduk di samping ku.


Mood makan ku berubah. Ku letakkan sendok.


"Loh, kok gak di habisin makanan nya, mubazir loh" ujar Aldi.


"Iya , selesai lah makan nya dulu baru pergi istirahat" seru opa.


"***** makan ku hilang melihat nya" jawab ku.


Opa menahan tangan ku untuk pergi.


Aku terpaksa menurut.


Aldi tersenyum menang.


Setelah itu aku ke kamar, istirahat.


Aku mengantuk sekali.


Baru saja mata ku terpejam, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh ku.


Tapi kerena terlalu mengantuk aku pun tidak menghiraukan nya dan mulai tertidur.


Aldi mengunci pintu kamar.


Mendekati ku. Aldi membelai betis mulus ku.


Naik ke atas bagian paha. Diam diam ia mencium paha ku.


Aku tersentak kaget dan refleks menendang Aldi hingga jatuh ke bawah tempat tidur ku.

__ADS_1


"Sedang apa kau di sini!!" Pekik ku.


Aldi meringis kesakitan.


Ia menatap ku penuh *****.


"Ahhahaa, siapa suruh seksi" balas nya.


"Seksi kata mu!!!" Protes ku karena Sekarang aku sedang pakai rok panjang sebetis, dengan baju lengan panjang. Seksi dari mana nya.


"Kau gila ya, bisa bisa nya kau begini di rumah duka!!!" Pekik ku.


Aku berlari ke pintu tapi Aldi menahan ku, ia memeluk ku dari belakang.


Ia mulai menciumi leher ku dari belakang membuat ku merinding.


Tangan nya mulai nakal. Ini lah yang membuat ku sangat membencinya.


Aku mendorong nya. Ku raih kunci yang ada di meja dan berusaha membuka pintu kamar tapi Aldi selalu menghalangi ku.


Aku menampar nya keras.


"Stop atau kau ku laporkan ke polisi, papa juga tidak akan tinggal diam jika tau. Kau akan mati membusuk di penjara" ancam ku.


Aldi malah tertawa.


"Silahkan" jawab nya mulai mendekati ku lagi.


Ia berhasil menangkap ku lagi.


"Diam lah, tidak akan sakit kok" ujar nya.


Ku raih pot bunga hias di nakas dan memukul kepala nya.


Ia meringis kesakitan. Darah segar mulai keluar dari kepala nya. Aku berlari mencari kunci lagi. Ku temukan di bawah kaki nya. Dengan pelan aku meraih kunci itu.


Segera aku berlari ke pintu, tapi ia melempar ku sebuah gelas keramik mengenai punggung ku. Refleks kunci itu jatuh dari tangan ku namun aku segera meraih lagi dan berhasil membuka pintu.


Kamar tamu di rumah Oma memang agak jauh di belakang sehingga jarang ada orang lewat dan menyadari ada orang di sana.


Aku berlari mencari papa atau siapa pun meminta pertolongan dari kegilaan Aldi.

__ADS_1


__ADS_2