Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Surat


__ADS_3

Maaf, Up nya lama πŸ™


Lanjut.


Menjelang sore teman teman sudah balik ke villa.


Aku hanya bisa meringkuk di dalam kamar karena perut ku keram. Huft.


Maharani menatap ku yang sedang berbaring di tempat tidur.


"Li, kamu kenapa? sakit?" tanya nya.


"Ah, cuma pms ajja kok, bentar juga ilang" jawab ku.


"Wah sama dong, aku juga sedang haid tapi gak sakit jadi masih bisa jalan jalan" seru Maharani.


"Beruntung kamu" jawab ku.


......🌺🌺🌺......


Keesokan hari nya.


Di tempat Yugo.


"Sayang aku akan segera pulang kembali ke kota x, ke rumah ku, kota kelahiran ku. Kota nya gak jauh dari sini kok, bisa naik bus atau mobil selama kurang lebih 4 jam saja" seru Yugo pada pacar kesayangan nya.


"Yah, jadi kita LDR dong?" protes Feby.


"Kamu mau kita gak LDR?" tanya Yugo.


"Jelas lah mau" kata Feby.


"Menikah yuk" ajak Yugo.


Feby diam.


"Tuh kan kamu gak mau, huft" Yugo kecewa tapi tidak ada pilihan selain menunggu pacar nya itu siap untuk menikah dengan nya.


Sesampai nya di rumah sang kekasih Yugo tidak turun dari mobil. Ia langsung pulang dan berkemas.


Yugo memandang sekeliling kos nya. Menikmati detik detik terakhir nya berada di sana.


Besok dia akan segera berangkat.


Yugo mulai mengemasi barang barang nya. Besok dia akan berangkat menggunakan mobil nya.


Terlihat foto nya terpajang di meja kos nya, terlihat foto nya sedang bergandengan dengan Feby. Pacar nya yang cantik.


Yugo tersenyum melihat nya lalu melanjutkan berkemas.


......🌺🌺🌺......


Di villa.


Menjelang malam semua tertidur di ruang tengah setelah selesai nonton bareng film horor.


Hanya aku yang masih terjaga.


Besok kami akan pulang kembali ke rumah masing masing.


Ku lihat mereka satu persatu. Aku kelak pasti merindukan mereka.

__ADS_1


Ku lihat sekelebat bayangan di balik jendela. Kami lupa menutup tirai gorden.


Seketika aku merinding mungkin karena terbawa suasana dalam film horor yang kami tonton tadi. Ah gpp. Paling cuma angin lewat. Pikir ku.


Baru saja aku hendak ikut menyusul tidur tiba tiba Maharani bangun dan menatap tajam. Mata nya merah.


"Kamu kenapa?" tanya ku.


Ia diam saja, lalu tiba tiba menangis.


Aku mengerutkan kening. Tapi berusaha tetap tenang.


Selesai menangis ia tiba tiba berteriak melengking nyaring membuat teman teman terbangun karena terkejut. Hanya Dimas yang masih tidur. Roni segera membangun kan Dimas yang tidur.


Aku tidak mendekati Maharani.


Teman teman mulai panik melihat gelagat aneh dari Maharani.


"Dia kenapa?" tanya Roni.


"Kesurupan'' jawab ku singkat.


"Loh, kok kamu diam dan tenang tenang saja?" seru Adit.


"Biarin ajja, nanti juga dia cape keluar sendiri" jawab ku.


Mereka saling memandang.


Maharani kian berontak saat mereka memegangi tubuh nya.


Maharani menatap ku tajam. Aku membalas memandang nya dengan tatapan santai seolah tak terjadi hal-hal aneh di depan ku.


Aku justru dengan santai memasang selimut ku.


Kami semua berencana tidur bersama malam terakhir di villa ini.


"Sudah ku bilang biarkan saja, ngapain sih sibuk sibuk di pegangin" protes ku ke mereka.


"Wah Lo kebangetan ya, ada teman kesurupan malah di biarin" seru Roni.


Aku tidak menghiraukan nya.


"Aku tidak tertarik menangani orang kesurupan. Silahkan kalian saja" jawab ku.


Maharani berontak dan berhasil mendekati ku.


Jujur pasti ada rasa takut dalam diri ku. Apa lagi Maharani mulai berceloteh tidak jelas dengan suara serak.


Tapi putra selalu mengajari ku untuk tidak takut pada jin,hantu, atau apa lah itu sebutan nya. Kedudukan kita sebagai manusia lebih baik dan sempurna di banding mereka. Jangan sampai terlalu takut. Tapi harus tetap waspada.


Maharani mencengkeram kuat tangan ku. Ku hempaskan tangan nya.


Pelan aku bacakan ayat ayat suci Al-Quran yang aku hapal.


Maharani kian berontak kepanasan. Ku pegang ujung jempol tangan nya sembari masih membaca kan ayat.


Maharani kian menggila, berteriak dan akhir nya pingsan.


Teman teman lain yang sempat takut Maharani akan menyakiti lalu mendekat.


"Kamu baik baik saja?"tanya dimas.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk.


"Ah syukurlah, aku gak nyangka kamu bisa menangani hal seperti ini. Karena kamu terlihat....." belum selesai Dimas melanjutkan perkataan nya aku langsung berkata.


"Terlihat nakal dan tidak religius, iya kan, memang benar, aku juga baru belajar" Jawab ku.


Dimas terdiam.


"Ya sudah, ayo kita lanjutkan tidur. Sudah larut malam" ajak Bimo.


Kami semua langsung menatap ke jam dinding.


Pukul 00.23.


Maharani tersadar. Ia menatap kami bingung.


"Ada apa?" tanya nya karena melihat kami berkumpul di dekat nya.


"Gak ada apa apa kok, ayo lanjut tidur" seru ku.


Ku pakai selimut bersama Maharani.


Ia mengibas selimut lalu berdiri. Teman teman terkejut.


"Aku mau pipis dulu sebelum tidur" seru nya.


Aku pun bangkit dan ikut ke toilet.


......🌺🌺🌺......


Keesokan hari nya kami masuk kembali ke kamar masing masing dan berkemas untuk pulang siang nanti selepas Dzuhur.


Terlihat Dimas berpamitan dengan pekerja di sana.


Kami lalu naik mobil , memulai perjalanan yang lumayan panjang.


Sesampai nya di rumah aku langsung berlari masuk ke dalam rumah mencari putra.


Hari sudah mulai petang.


Papa belum pulang. Kemana semua orang sih, gerutu ku.


Aku berlari ke arah kamar putra.


Tidak ada. Perasaan ku sungguh tidak enak. Ku geledah kamar itu. Kemana koper nya? aku lalu membuka lemari nya. Pakaian nya Berkurang.


Apa dia pergi tanpa berpamitan pada ku? Ah gak mungkin.


Ku tatap secarik kertas di atas meja belajar nya.


Untuk : Lidya Wijaya.


"Assalamualaikum adik cantik ku. Maafkan aku tidak pamit pada mu, aku gak ingin mengganggu liburan mu dengan teman teman mu, jika kamu baca surat ini mungkin aku sudah tidak lagi di Indonesia, aku pamit yah. Berangkat ke Jerman lebih awal. Karena ada sesuatu yang harus aku urus di sini. Sekali lagi maafkan aku. Lupakan perasaan di antara kita. Sebagai kakak yang baik, aku berharap kamu mau menerima perjodohan dari papa mu, agar ada yang menjaga mu di sana dan aku bisa tenang belajar di sini, oh ya mungkin aku akan sulit di hubungi, jadi sabar yah, jangan memikirkan aku. Jadi lah istri yang baik dan tetap kuliah yah, pendidikan itu penting, jangan lupa sholat, dan mulai lah tutup aurat."


^^^Dari : Kakak ganteng mu.^^^


^^^Putra^^^


Air mata ku mengalir deras. Ku pegang dada ku yang sesak. Aku bahkan gak melihat nya pergi. Ku tepuk tepuk dada ku menahan sedih yang tak terkira. Aku seperti kehilangan putra.


Tuhan apa ini takdir dari mu. Apa ini yang terbaik untuk ku.

__ADS_1


__ADS_2