Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 37.


__ADS_3

Teruntuk semua anak yang pernah mengalami broken home atau kekerasan dalam rumah tangga tapi tidak bisa berbuat apa apa karena itu orang tua kalian sendiri. Semangat yah, yang kuat, kalian tidak sendiri. Author sayang kalian.


Lanjut.


Perasaan bukan hanya aku yang tinggi di kelas ini.


3 hari sudah aku berlatih volly tapi masih payah, aku memang tidak berbakat.


Mulan adalah kapten club' voli, bertubuh tegap tinggi berisi. Tinggi nya mencapai 170 cm. Wajah nya tegas tapi cantik.


Anggota club' voli di sekolah ini memang kurang. Hanya terdiri dari 6 orang. Tidak ada cadangan. Tidak ada lawan bermain. Voli di sekolah ini memang jarang peminat nya.


Mereka lebih berminat ke olimpiade cerdas cermat.


Sekarang anggota club' voli sudah banyak tambahan termasuk aku.


Sekarang sudah ada 15 orang, aku melirik ke semua anggota club' saat briefing, rata rata tubuh mereka sekitar 165 ke atas. Memang tidak ada yang pendek.


Dan yang lebih mengejutkan lagi, semua nya cantik dan langsing, ini mau main voli atau jadi model sih?


Selesai latihan aku pun pulang ke rumah.


Lelah sekali rasa nya.


Baru sejenak aku berbaring papa memanggil ku untuk turun. Ah selalu saja mengganggu istirahat ku.


"Papa akan menikah dengan Tante Mona bulan depan" tegas papa tiba tiba.


Aku yang sedang menyantap salad buah ku pun langsung berhenti.


"Apa?!" pekik ku tertahan.


Berarti sebentar lagi aku dan putra jadi saudara??? ah tidak tidak. Aku benci anak itu. Aku tidak suka.


Tanpa menjawab aku pergi meninggalkan meja makan.


"Papa belum selesai bicara!!!" teriak papa dari meja makan.


Aku tidak memperdulikan nya.


Hari ini cukup melelahkan, aku butuh istirahat. Aku melihat pergelangan tangan ku yang memar akibat belajar olahraga voli.


Kenapa bola bisa sekeras itu sih.


Aku tertidur pulas.


Keesokan hari nya.

__ADS_1


Keadaan kelas mencekam, hening tak seperti biasa nya. Aku bingung dan bertanya tanya.


Adit menghampiri ku.


"Ternyata kamu palsu selama ini?" ujar nya.


"Maksud kamu palsu bagaimana?" tanya ku.


Beberapa teman mulai melempari ku kertas.


"Ada apa ini?".pekik ku.


"Sok cantik padahal oplas hahahaha" Maisaroh dan teman teman menertawai ku.


Maisaroh, tega nya ia berkata seperti itu pada ku.


Anggota club' voli tiba tiba datang ke kelas ku.


"Club' voli bisa tercemar gara gara kamu, keluar ajja deh, lagian sejak awal memang kamu gak pantas ada di sini!!" pekik Rara anggota club' voli, sungguh mempermalukan ku.


Anak anak tertawa. Entah keberanian dari mana aku mulai bersuara.


"Aku juga gak minta untuk masuk club' voli, asal tau ajja aku gak minat, jika bukan karena perintah guru aku tidak Sudi masuk club' voli!!!" pekik ku sambil mendorong tubuh Rara yang mulai mengintimidasi ku.


Rara malah bertepuk tangan.


Mereka membuka handphone dan memamerkan wajah dan badan asli ku yang dulu. Sungguh aku malu tidak terkira. Siapa yang menyebarkan nya.


"Sungguh aku kecewa pada mu lili alias Lidya gendut monster plastik! bisa bisa nya kamu menipu kami" seru Adit.


Mata ku mulai berkaca kaca. Bahkan Adit, orang yang ku percayai di sekolah ini juga ikut merundung ku.


Maisaroh pun sama. Hanya Maharani yang masih duduk diam di tempat nya.


Maharani bangkit.


"Dasar bodoh!!!" pekik nya pada ku sambil tangan nya mendorong ku menjauh dari kerumunan anak anak di kelas ku.


Maharani menarik tangan ku, aku terpaksa mengikuti nya ke suatu tempat. Aku yang tidak berdaya akhir nya menurut saja.


Maharani menampar ku. Pipi ku memerah dan sakit. Aku pun memegang pipi ku yang panas akibat tamparan Maharani yang tanpa sebab itu.


"Kenapa kau menampar ku!!!" teriak ku.


"Supaya kau sadar, apa kau memang bodoh, naif sekali, bahkan tidak bisa melihat siapa mereka sebenar nya!!!" pekik Rani.


Aku terdiam dan tidak mengerti maksud dari perkataan Rani.

__ADS_1


Maharani menunjuk sudut atap gedung sekolah ini.


"Di situ tempat Maimunah mati" jelas Rani.


"Aku sudah tau, apa yang ingin kau katakan sebenar nya" tanya ku.


"Kau mengenal Mai?" tanya Rani.


"Iya" jawab ku singkat.


Belum sempat Rani melanjutkan bicara nya. rombongan teman sekelas ku datang. Aku tidak tau apa yang ingin mereka lakukan.


Mereke tiba tiba ramai ramai mendorong ku ke sisi atap gedung sekolah. Dan Aku pun terjatuh ke bawah, aku berteriak. Tidak, aku tidak mau mati.


"Tidaaaakk!!!" pekik ku.


Suasana gelap. Apa aku sudah mati?


"Non, non lidya, sadar non" Ujar bi Minah panik.


Dengan berat aku terbangun, ternyata semua hanya mimpi, keringat membasahi kening ku.


"Ada apa kok tidur teriak teriak non, mimpi buruk lagi?" tanya bi Minah


Aku memeluk bi Minah sesaat lalu menceritakan mimpi ku.


"Hanya mimpi non, bunga tidur, ayo bangun, mandi, sudah jam 6 loh nanti terlambat" seru bi Minah.


"Aku takut turun sekolah bi", jawab ku.


"Semua akan baik baik saja, maka nya sebelum tidur itu biasakan baca doa dulu" kata bibi sambil menyiapkan seragam sekolah ku. Aku pun mengangguk.


Dengan nafas masih tersengal sengal aku pun mengumpulkan niat untuk mandi pagi itu.


Aku jadi ragu dan takut untuk bersekolah.


Selesai berpakaian aku menggigit kuku ku, apa benar akan baik baik saja? mimpi ku terlihat seperti nyata. Aku takut.


Papa menunggu ku untuk sarapan, aku tidak nafsu untuk sarapan pagi itu.


"Makan lah, nanti kamu sakit" sapa nya. Aku hanya diam dan hanya mengambil sebuah apel untuk ku makan sepanjang jalan.


Aku masih tidak bisa terima papa akan menikah.


Pak Dadang sudah siap dengan mobil nya untuk mengantar ku seperti biasa.


Sepanjang jalan ke sekolah aku kepikiran dengan mimpi ku. Langit mendung, tidak secerah biasa nya. Membuat perasaan ku makin tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2