
Aku menurut, ikut ke anak laki laki itu.
"Hmm, nama kamu siapa?" tanya nya.
"Lidya Wijaya, tapi panggil saja lili" jawab ku.
"Aku Aditya" seru nya sambil tangan nya menawarkan berkenalan.
Aku tersenyum tipis.
Kami telah sampai diruang guru. Adit pun pamit. Seorang guru langsung menyambut ku seolah telah lama kenal?
"Kamu Lidya kan, ayo duduk" seru seorang guru bernama pak Budi.
Bel tanda masuk kelas berbunyi.
Pak Budi pun menyuruh ku mengikuti nya.
Kelas 2 IPA 2.
Aku telah sampai di kelas baru ku.
Pak Budi lalu memperkenalkan ku ke anak ank murid di kelas nya.
Aku tersenyum dan memperkenalkan diri.
"Bukan main, cantik banget, buset dah" seru seorang anak laki laki gendut.
Rame riuh kelas menyambut kedatangan ku.
Aku tersenyum risih mendengar mereka menggoda ku.
Pak Budi memukul kecil meja nya dengan penggaris untuk membuat kodisi kelas kembali kondusif.
__ADS_1
"Lidya bisa duduk di bangku kosong itu" tunjuk nya tepat di sebelah Adit yang tadi?
Adit tersenyum ramah.
Ku pikir ia akan kasar.
Dengan pelan aku duduk, aku di tatap mereka semua, sebenar nya aku takut, apa kah mreka akan sama seperti orang orang yang ada di sekolah lama ku.
Namun mereka senyum ke arah ku. Tapi aku tidak tau apa itu tulus atau tidak.
Pelajaran berlangsung lancar. Pelajaran matematika yang membosankan seperti biasa. Tiba tiba pak Budi memanggil ku
"Lili mau coba kerjakan soal di papan tulis?" tanya nya.
Aku terkejut bukan main. Ini bukan keahlian ku.
Kampret, kenapa harus aku sih, seisi kelas antusias melihat ku, seperti nya mereka semua mau menguji ku.
Aku kan peringkat 3 besar di kelas lama ku, kenapa harus khawatir. Ayo Lidya, rileks. Kamu pasti bisa.
Entah kekuatan dari mana aku bisa menyelesaikan soal di papan tulis dengan lancar tanpa hambatan. Padahal ini bukan keahlian ku, ini keahlian Bimo.
Mungkin karena sering belajar dengan Bimo maka nya menularkan ilmu itu, meski aku tak sepintar dia, aku harus bekerja keras untuk belajar hingga larut malam untuk bisa peringkat di kelas. Sementara Bimo dengan mudah nya mencerna semua pelajaran tanpa harus belajar ekstrem seperti ku.
Sebenar nya peringkat pun tidak ada apresiasi apa pun sih dari papa. Tapi setidak nya ia tidak marah karena nilai ku rendah.
Aku belajar bukan untuk papa tapi untuk diri ku sendiri, di bulli karena gendut saja sudah membuat ku hampir gila apa lagi jika nilai ku jelek, biar gendut setidak nya aku tidak bodoh. Itu yang menjadi prioritas ku selama di sekolah.
Guru tersenyum senang melihat ku mengerjakan soal di papan tulis dengan mudah. Ramai anak anak menyoraki dan bertepuk tangan.
"Wah, Lidya Wijaya, ternyata bukan wajah mu saja yang cantik, ternyata kamu juga pintar, sempurna" puji pak Budi pada ku.
Hanya seorang murid yang menatap ku sinis melihat ku di puji banyak guru dan teman teman sekelas ku.
__ADS_1
Aku melihat nametag nya.
Maharani.
Tidak ada senyum di wajah nya saat menatap ku seperti yang lain.
Aku kembali ke bangku.
Jam istirahat aku di ramai teman sekelas menyapa ku.
"Hay Lidya" sapa seorang murid dari nametag nya aku tau nama nya alan.
"Panggil lili saja", jawab ku sambil menjauh dari kerumunan anak anak yang ingin berkenalan dengan ku lebih dalam.
Aku menyendiri di kantin sekolah.
Adit menghampiri ku.
"Selamat datang di sekolah penuh kompetisi ini, ku harap kau akan bertahan", seru Adit saat aku asik menikmati minuman Boba ku.
Aku menatap nya sesaat.
"Maksud nya?" tanya ku bingung.
"Sebentar lagi kau akan di serang para penggila peringkat yang penuh ambisi, apa pun mereka lakukan untuk dapat peringkat di kelas. Aku berharap kau tidak mencolok seperti tadi" jelas Adit.
"Tapi mereka semua tersenyum pada ku?" kalimat ku membuat Adit tertawa.
"Tapi ada satu sih yang tidak senyum, aku lihat dari nametag nama nya Maharani, apa dia peringkat 1 di kelas?" tanya ku.
"Tidak" jawab Adit singkat.
Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan Adit, ada apa dengan sekolah ini?
__ADS_1