Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 62.


__ADS_3

Keesokan hari nya pertandingan di lanjutkan. Tapi giliran sekolah lain.


"Loe gak nonton?" tanya Mai lewat chat, karena aku sedang di rumah saja, menjalani hukuman skors ku.


"Gak dulu deh Mai, aku mau istirahat, badan ku sakit semua" jawab ku di chat.


"Hmm, ya udah, istirahat gih, kami pergi nonton nih rame rame, kalo berubah pikiran nyusul ajja yah, see you baby" balas Maisaroh.


Ku tatap jam dinding sudah pukul 12.00 siang. Putra pun di sekolah. Bosan sih sebenarnya tapi aku cape banget.


Ku langkahkan kaki ku menuju lantai dasar. Tante Mona sedang asik menyiram bunga di samping rumah. Aku melangkah mendekati nya.


"Tante Mona, kenapa gak suruh pembantu ajja buat nyiram itu semua" seru ku.


"Eh,anak gadis mama sudah bangun ternyata?" ujar Tante Mona.


"Ini hobby mama yang menyenangkan, nyiram bunga bunga yang Masya Allah cantik banget ini, tuh lihat, mereka bermekaran" jelas Tante Mona sambil terus menyiram bunga mawar dan melati.


Aku pun menatap bunga bunga itu.


"Cantik sih tapi berduri" kata ku.


"Yah wanita itu harus sepeti bunga mawar yang cantik tapi berduri, cantik tapi gak mudah di sentuh, apa lagi sama cowok nakal, hihi" Tante Mona tersenyum manis.


Wajah putih nya merona terkena sinar matahari siang yang menyengat di siang itu.


Aku segera berteduh dari terik nya matahari yang membakar kulit, di sebuah bawah naungan tanaman bunga anggrek. Kebun bunga ini jadi lebih hidup semenjak ada Tante Mona.


Saking asik nya dia lupa memakai topi. Tapi ia pakai hijab sih. Aku melihat nya dari jauh.


Adzan Dzuhur berkumandang. Tante Mona menghentikan aksi nya dan segera mengajak ku masuk ke rumah.


Aku pun menurut.


Ku lihat Tante Mona segera mengambil air wudhu.


Setelah berwudhu Tante Mona menatap ku bingung.


"Kamu gak sholat nak?", tanya nya.


"Eh, aku halangan Tante" jawab ku berbohong.


Sekilas aku merasa jadi orang paling berdosa di dunia ini. Bayangkan saja aku tidak pernah sholat. Lalu aku operasi plastik, mengubah ciptaan nya. Aku terduduk merenung di kursi meja makan. Apa Tuhan akan mengampuni ku?


Aku kembali ke kamar, hati ku merasa berdosa tapi belum tergerak untuk berubah. Papa saja tidak pernah mengajari ku sholat karena dia sendiri tidak sholat.


Aku berbaring sejenak ketiduran lagi


Beberapa saat kemudian Tante Mona datang lagi membangunkan aku.


"Sayang, bangun dulu yuk makan siang" kata Tante Mona dengan lembut.


Aku terbangun. Bisa bisa nya aku tidur lagi. Bahaya, bisa kembali bengkak ini tubuh jika aku tiduran terus.


Aku mengikuti Tante Mona untuk makan siang bersama di bawah.


Denting sendok dan garpu ku memecah keheningan di antara kami.


Tante Mona dan putra tidak terbiasa makan pakai sendok sehingga mereka makan tidak menimbulkan bunyi.


Ku lihat putra datang memberi salam.

__ADS_1


"Assalamualaikum, aku pulang" ujar nya setiap masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam, cepat ganti baju gih baru ikut makan" jawab tante Mona.


Putra lalu mencium tangan Tante Mona dan segera berganti pakaian.


Tidak lama kemudian dia turun.


"Kamu gak nonton pertandingan?" tanya ku bingung melihat putra pulang cepat.


"Gak deh, kan gak ada kamu juga yang bertanding" jawab nya.


"Loh, jadi kalo aku gak bertanding kamu gak nonton?" tanya ku.


Ia mengangguk sambil menyendok nasi di piring nya.


"Aneh kamu" kata ku.


"Aku gak suka keramaian, kecuali ada hal penting seperti upacara" jawab putra.


"Oh" aku melanjutkan makan ku.


Putra juga menyantap makanan nya.


Tante Mona tersenyum melihat kami akrab.


Selesai makan aku berjalan ke luar rumah, suntuk banget.


Putra mengikuti ku.


Aku melangkah balik ke arah belakang rumah, duduk santai di tepi kolam.


Ku masukkan kaki ku ke kolam renang.


Gabut\= bingung mau ngapain/gak ada kerjaan.


"Iya nih, berenang yuk" ajak nya.


"Ini masih siang terik, entar sore ajja" Jawab ku.


"Ya udah, nanti sore ya." kata nya lagi.


Kami pun ngobrol di kolam.


"Putra, kamu pernah jatuh cinta?" tanya ku.


Mungkin pertanyaan ku terdengar konyol tapi aku penasaran seorang putra apakah pernah menyukai seseorang.


"Hm, ya pernah lah, manusiawi, tapi aku hanya bisa mengagumi nya, karena aku memang tidak berniat pacaran" jawab putra.


"Kenapa?".tanya ku.


"Gak mau ajja, nanti kalo sudah dewasa aku mau langsung nikah ajja" jawab nya.


Aku mengangguk.


"Kenapa, kamu lagi jatuh cinta?" tanya putra.


Aku langsung memukul nya ringan.


"Ih apaan sih, gak kok" jawab ku.

__ADS_1


"Hayoo, lagi suka sama siapa?" selidik nya.


"Gak ada, serius!" balas ku. Ku siram dia air kolam dengan tangan ku. Ia membalas nya.


Hanya kegiatan sesederhana ini sudah membuat ku bahagia.


Setelah lelah saling melempar air. putra duduk lagi, kali ini ia ikutan memasukan kaki nya ke dalam kolam renang


"Udah ya, cape" kata nya menyerah.


Aku menatap nya.


"Putra, jangan menyebalkan lagi yah" kata ku.


Putra mengacak rambut ku.


"Gak ahk, bawel, gak seru kalo gak ganggu kamu" jawab nya.


Menjelang sore, selepas shalat ashar putra lalu memakai celana pendek dan segera menceburkan diri nya ke kolam.


Tanpa baju.


Aku pun segera menyusul.


"Astagfirullah, kenapa seksi begitu!!!" bentak putra pada ku.


Aku menatap baju renang ku.


"Yah memang begini kali baju renang" jawab ku sambil menyusul nyebut ke kolam renang.


Sudah lama sekali rasa nya aku tidak berenang. Bertahun tahun lama nya.


"Gak ada yang lebih seksi kah?" goda nya sambil tertawa.


Aku langsung memukul nya.


"Senang banget bisa berenang lagi, makasih yah putra" kata ku.


"Kok terima kasih, ini kan rumah mu, kolam renang mu" jawab nya


"Iya sih hehe, tapi semenjak badan ku gendut aku gak pernah menyentuh kolam renang ini, takut tenggelam hihi" seru ku.


"Oh gitu, sekarang kan sudah body goals jadi aman" balas putra.


"Kapan pertandingan mu selanjut nya?" tanya putra.


"Em, 3 hari lagi" jawab ku.


Aku menatap tubuh tinggi putra, badan kurus nya sekarang sudah lumayan berisi. Syukur lah.


Aku menatap lega ke arah nya.


"Hey, apaan sih. Liatin nya kok begitu" ujar putra sambil melempar air ke arah wajah ku.


"Ihh aku cuma baru sadar kalo badan kamu udah agak gendutan, gak kayak dulu, kurus tinggi, jangkung" jawab ku.


"Benar kah?" tanya nya tidak percaya.


Aku mengangguk.


Menjelang magrib kami sudah naik dan mandi. Putra seperti biasa bersiap siap ke masjid.

__ADS_1


"Kata nya datang bulan kok bisa berenang?" ujar Tante Mona.


"Eh, baru ajja bersih kok hehe" jawab ku.


__ADS_2