Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Reuni dadakan.


__ADS_3

Karena penasaran aku sedikit mengintip. Ternyata dia mengerjai ku. Di balik handuk nya itu dia sudah memakai boxer.


Huft, aku lega.


"Heleh, sok tutup mata tapi ngintip, bilang ajja penasaran mau lihat, iya kan hahaha" seru yugo.


Aku melemparkan bantal ke arah nya.


Tubuh kekar nya itu sudah berbalut kaos oblong berwarna hijau lumut dan celana pendek selutut.


Ia lalu merebahkan diri di kasur. Ia taruh kepala nya di pangkuan ku.


Aku terkejut dengan tindakan nya iya.


"Carikan uban ku dong" pinta yugo.


"Emang nya sudah ber uban?" protes ku.


"Lihat saja sendiri" ujar nya.


Aku pun mulai membuka sehelai demi sehelai rambut nya.


"Gak ada tuh" protes ku.


"Lebih teliti lagi" balas yugo.


Apaan sih anak ini, enak banget perintah2 orang.


"Biasa nya ada tuh uban ku, bibi di rumah yang biasa nya mencarikan dan mencabut kan rambut putih ku, alias uban" jelas yugo.


Aku mendesah kesal tapi tetap mencari.


Aroma tubuh yugo segar sekali.


"Eh iya, benar ada!!" pekik ku girang seperti menemukan berlian.


"Cabut pakai apa, rambut kamu pendek banget" protes ku.


"Lupa ambil pinset. Gimana yah, kalo aku gerak nanti dia hilang" ujar yugo.


"Ya udah, kamu pegang dulu rambut kamu begini, biar aku yang ambil pinset nya" seru ku.


Aku membuka laci meja rias ku. Di sana sudah berjejer pinset dari berbagai ukuran.


Aku mengambil yang kecil.


"Udah dapat belom, keram nih tangan ku menahan rambut ku" protes yugo.


"Sabar" jawab ku kesal.


Setelah itu aku balik lagi.


"Pindah ke sofa ajja, biar mudah" pinta ku.


Yugo menurut meski pun tangan nya keram menahan rambut nya sejak tadi.


Aku pun duduk dan dia langsung merebahkan kepalanya ke pangkuan ku.


Syukur uban yang tadi tidak hilang.


Aku lalu mencabut nya.


"Yey, dapat satu, apa hadiah nya nih" seru ku.


"Emang nya perlombaan" protes yugo.


"Ih pelit banget sih om" jawab ku.


"Hem, cari dulu lagi uban nya yang banyak, baru nanti om kasi hadiah yah adek bocil" seru yugo.

__ADS_1


Aku kembali fokus ke rambut nya.


Memang tidak banyak tapi jika di perhatikan dengan teliti Yugo memang sudah punya uban.


Tapi memang sih, uban itu bukan ada di rambut orang tua saja, usia muda pun terkadang ada.


"Enak banget di carikan uban, aku sampai ngantuk nih" seru yugo.


"Gak usah banyak gerak jadi ilang nih kan rambut putih yang tadi" protes ku.


Yugo menurut dan diam saja.


"Udah ah, cape!" ujar ku yang baru tersadar dengan apa yang aku lakukan.


Aku berdamai dengan Yugo?


Bahkan mencari kan nya uban?


Tidak ada jawaban. Aku menengok ke arah wajah nya.


Yah dia malah tidur. Bisa keram ini paha ku di jadikan nya bantal.


Aku sedikit mendorong tubuh nya agar dia terbangun.


Yugo terkejut dan aku memaksa nya untuk bangun.


"Tidur di sana, jangan di sini!" pekik ku.


Yugo mengucek mata nya.


"Maar, aku ketiduran" seru nya sembari berjalan ke arah tempat tidur dan melanjutkan tidur nya, seperti nya dia sangat mengantuk.


Aku menatap nya dari sofa.


Bari saja beberapa menit pindah tempat dia sudah tertidur dengan pulas nya.


......🌺🌺🌺......


Wajah nya tampan. Dulu aku mengira dia orang yang jahat karena mulutnya yang tajam itu, tapi sekarang masih tajam sih, tidak berubah, tingkah nya juga tidak dewasa, masa cemburu sampai bentak aku di depan umum. Masa orang seperti ini sih jodoh ku. Aku masih tidak menyangka.


Ponsel yugo berdering tiba tiba. Aku menatap layar handphone nya di atas nakas.


"Darman?" batin ku.


Angkat gak yah. Tapi siapa tau penting.


"Halo, assalamualaikum" jawab ku.


"Eh maaf, Yugo nya ada?" tanya darman, mungkin teman nya yugo.


"Dia sedang tidur. Ada apa? nanti saya sampaikan" jawab ku.


"Eng, nanti saja deh, assalamualaikum" tutup nya.


Aku mengerutkan kening ku.


Menjelang malam. Yugo terlihat berbeda, ia memakai wangi-wangian, dan terlihat lebih fresh dari biasa nya.


"Mau kemana?" tanya ku.


"Ada reunian mendadak, mau ikut?" tawar nya.


Aku sedikit berpikir. Bosan juga di rumah.


"Emang boleh?" tanya ku.


"Ya boleh lah" jawab nya.


"Entar ganggu?" seru ku.

__ADS_1


Yugo berhenti menyisir rambut nya.


"Mau ikut tidak, kalau mau segera siap siap, nanti aku tungguin" balas yugo.


"Baik lah, aku ikut" ujar ku.


Tidak lama, hanya sekitar 15 menit aku sudah siap, yugo tersenyum melihat ku.


"Cantik banget istri ku ini, tapi lebih cantik kalau di tutup aurat nya yah, nanti kita beli hijab sepulang dari reunian ,ok" tegas nya


"Apa? hijab?" tolak ku. Aku menggeleng.


"Gak sekarang, nanti" jelas nya.


Aku tidak menjawab, aku mengikuti nya untuk turun ke bawah parkiran mobil.


Perjalanan pun di mulai, kami sudah sholat isya jadi bisa dengan tenang jalan nya.


Sesampai nya di lokasi, sebuah cafee.


Baru datang kami sudah di sambut sama seorang pria terlihat seumuran dengan yugo.


"Hay bro, wah udah nikah ajja nih, laju bener" seru darman.


"Iya bro, biasa lah, jaman Siti Nurbaya beraksi lagi di jaman milenial ini hihi" jawab yugo.


"Sabar bro, Masya Allah cantik bener istri kamu ini, kalo aku di jodohkan dengan bidadari kayak beginian mah dengan senang hati menerima nya" ujar darman.


"Jadi aku beruntung nih?" tanya Yugo.


"Banget" balas darman.


Aku pun memperkenalkan diri di hadapan teman teman lama yugo.


Tidak lama kemudian berdatangan beberapa orang. Ternyata geng nya Yugo saat masih SMA dulu.


"Go, ada citra loh datang" bisik darman.


"Ah gak mungkinlah" bantah yugo.


"Kok gak mungkin, dia udah jadi dokter sekarang. Dan udah ke kota ini , karena dinas kerja nya di rumah sakit besar di jalan sampingan2" ujar darman meyakinkan.


"Jangan bercanda" seru Yugo.


"Aku gak bercanda, tuh orang nya datang" tidak tunjuk darman ke arah citra yang datang seorang diri.


Yugo terdiam , sudah lama sekali ia tidak melihat sosok citra. Sahabat yang di cintai nya.


Saat itu dia hanya bisa memendam rasa tapi takut mengungkapkan nya karena takut persahabatan mereka hancur. Yugo darman dan citra dulu sangat akrab. Darman tau Yugo menyukai citra. Citra juga diam diam menyukai nya tapi mereka saling memendam karena persahabatan.


Yugo tidak menoleh ke arah citra dia justru melihat ke arah ku.


"Kenapa?" tanya ku bingung.


Yugo menggeleng.


Citra menghampiri mereka.


"Hay, sudah lama sekalian tidak berjumpa" sapa nya.


Yugo hanya tersenyum.


"Eh siapa ini?" tanya citra sambil melirik ke arah ku.


Citra tidak tau perihal yugo sudah menikah.


"Istri ku" jawab yugo.


"Ah kamu mah selalu lebay, pacaran udah panggil istri segala" tawa citra.

__ADS_1


"Loh, serius, ini istri ku, nama nya lidya, kami sudah menikah" jawab Yugo.


Citra melirik darman, dan darman mengangguk.


__ADS_2