Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 72.


__ADS_3

Adit dan Maisaroh sudah datang.


Adit melihat ku sedang asik ngobrol di dalam. Tangan nya mengepal.


"Sejak tadi ku perhatikan seperti nya kau sedang kesal?" tanya Mai.


"Hanya perasaan mu saja" jawab Adit.


Adit masih memperhatikan kami.


"Maaf aku tidak sempat memberi mu buket bunga yang ku bawa tadi, aku sungguh tidak bisa menahan rasa sakit ku" seru Dimas.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan, memang nya kamu habis kenapa kok sampai berdarah dan lengan mu patah kata dokter" tanya ku.


"Aku hanya jatuh terpeleset kok" jawab Dimas.


"Harus nya aku bawa tadi bunga itu, karena panik aku jadi tidak kepikiran, maaf yah" ujar ku.


"Santai saja, nanti aku belikan yang baru" jawab Dimas.


"Tidak perlu repot-repot, aku sudah tau niat baik mu itu, makasih yah" kata ku.


Kami sama sama tersenyum.


"Sebenar...." belum sempat kalimat Dimas selesai Adit dan kawan kawan masuk untuk menjenguk.


"Hay bro, bagaimana keadaan mu? abis ngapain sih kok sampai seperti itu?" tanya Adit.


"Biasa lah, kelincahan, hehe"jawab Dimas.


"Lain kali lebih hati hati lagi yah," gerutu Maisaroh.


"Siap bos" jawab Dimas.


"Sudah tau sakit begitu kenapa bela belain datang sih, harus nya kamu langsung ke rumah sakit" ujar Mai lagi.


"Aku pikir tidak separah ini, maka nya aku tetap datang" balas Dimas.


Adit menatap Dimas yang tersenyum menatap ku.


Ayah dimas tidak datang, dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya.


Ibu Dimas juga pamit untuk pulang, kembali ke keluarga baru nya.


Aku mengikuti ibu nya Dimas keluar.


"Tante, hati hati" seru ku.


Beliau tersenyum pada ku.


"Seperti nya kamu dekat dengan Dimas, aku jadi lega, Dimas punya seseorang di sisi nya, titip Dimas yah, temani dia" ujarnya lalu beranjak pergi.


Aku mengangguk.


Ia lalu berbalik lagi.


"Oh iya, tolong berikan ini ke Dimas, kado ulang tahun untuk nya, aku tidak bisa memberikan nya secara langsung. Karena saat ini Dimas membenci ku" ujar nya seraya berjalan pergi.


Aku menyimpan kotak itu ke dalam tas ransel milik ku. Akan aku berikan ketika sudah tidak ada orang di sekitar Dimas. Karena menurut ku kado ini adalah privasi.

__ADS_1


Aku kembali berkumpul bersama teman teman di dalam.


Menjelang sore teman teman pun pamit satu persatu untuk pulang.


"Apa tidak ada keluarga yang bisa menemani mu di sini?" tanya ku.


"Gpp, aman ajja kok" jawab Dimas.


"Aku pulang duluan yah" ujar Maisaroh.


"Lily gak ikut pulang?" tanya Adit pada ku.


"Eh aku nanti ajja sama putra" jawab ku.


Adit dan Maisaroh pun pulang.


Aku melirik putra sudah tertidur pulas di ranjang rumah sakit sebelah yang kosong.


Aku geleng geleng kepala melihat tingkah nya.


"Eh dim, tadi kamu mau bilang apa sebelum teman teman masuk?" tanya ku penasaran.


"Oh itu ,aku mau bilang sebenarnya selama ini aku sudah tau masa lalu mu" kata Dimas.


"Apa? sejak kapan?" tanya ku.


"Sudah lama, tapi aku diam saja, aku tidak tau kenapa bisa hal itu tersebar. Aku yakin pasti ada pelaku nya, apa kau tidak penasaran dengan siapa pelaku nya?" tanya dimas.


"Tidak dim, aku tidak ada waktu itu, biar lah semua yang terjadi terjadi lah, aku tidak punya apa pun untuk pembelaan karena memang benar cantik ku ini palsu, aku benar operasi plastik" jawab ku.


"Tidak Lidya, kau tetap cantik kok, semua wanita cantik dengan cara nya" ujar Dimas.


Dimas satu satu nya orang yang menyebut nama asli ku di sekolah pelita, meski sudah berkali kali ku ingatkan dia tetap memanggil nama asli ku.


Aku lalu merogoh ransel ku. Mengambil kotak kado itu.


Lalu aku memberikan nya.


"Ini apa?" tanya dimas bingung.


"Itu dari ibu kamu, kata nya kado ulang tahun" ujar nya.


Dimas terdiam, ia lalu membuang kotak itu


"Kok di buang?" pekik ku sembari memungut kado itu di lantai rumah sakit.


"Kenapa tidak dia beri langsung" ujar Dimas kesal.


"Dia seperti merasa bersalah dan takut kamu marah pada nya, ia merasa kamu membenci nya" seru ku.


Dimas tidak menjawab.


Ia tidak tertarik membahas tentang ibu nya.


Aku meletakkan kado itu ke meja di samping tempat Dimas berbaring.


Aku lalu membangun kan putra.


"Putra, sudah sore, ayo kita pulang", ajak ku.

__ADS_1


Putra terbangun dari tidur nya.


"eh sudah selesai ya ngobrol nya?" tanya putra.


Aku memukul lengan putra.


"Maaf yah dim, aku pamit pulang, semoga lekas sembuh" ujar ku sambil tersenyum ringan.


"Terima kasih ya" jawab Dimas.


Aku dan putra pun segera pulang karena sebentar lagi magrib.


Selama di dalam mobil kami hanya diam.


"Eh put, aku sampai lupa loh mau Carikan kontrakan untuk Dinda, kapan yah ada waktu kita Carikan dia kontrakan yang dekat dengan sekolah" seru ku tiba tiba.


"Nanti saja, besok atau lusa" jawab putra. Seperti nya ia masih mengantuk.


"Biar aku ajja deh yang bawa mobil kalo kamu masih ngantuk" protes ku.


"Gak kok, aman" jawab nya.


Sesampai nya di rumah aku lelah sekali.


Aku bersihkan diri dan turun ke bawah untuk makan malam. Lapar sekali rasa nya.


Putra belum pulang dari masjid.


Sepulang nya dia kami pun mulai makan malam. Papa dan Tante Mona tidak ada di rumah, seperti nya mereka sedang keluar.


Selesai makan kami istirahat di kamar masing masing karena lelah seharian aktifitas.


Keesokan harinya di adakan upacara menyambut kemenangan SMA pelita di sekolah. Semua murid berkumpul di lapangan upacara.


Kami tim dari club voli yang kemarin bertanding pun dipanggil untuk maju menerima penghargaan dari sekolah.


Kami di persilahkan untuk maju untuk berkata di depan umum sepatah dua patah kata.


Sebagai perwakilan nya Wulan selaku kapten tim lah yang maju untuk memberikan kata sambutan.


"Maaf semua nya, ada hal yang ingin teman dari tim kami sampai kan, tentang rumor yang beredar di sekolah ini, kepada Lily kami persilahkan" seru Wulan.


Aku terkejut, dan tidak menyangka Wulan akan memberi ku waktu untuk klarifikasi ke depan umum seperti ini.


Dengan ragu aku pun maju.


"Kepala sekolah yang saya hormati, guru serta staf sekolah, teman teman semua yang saya cintai, nama saya Lidya Wijaya, Saya minta maaf dengan rumor yang beredar disekolah ini tentang saya. Saya minta maaf sebesar-besarnya mungkin telah mengecewakan kalian semua. Tidak ada niat sama sekali untuk menipu kalian, semua mutlak karena itu adalah privasi saya di masa lalu. Maaf jika itu mengganggu kalian" jelas ku.


Kulit putih ku merona terkena sinar matahari.


Banyak yang beramai ramai mengabadikan momen itu.


Adik kelas membuat sebuah sepanduk besar bertuliskan.


"Tidak apa apa, kami tetap cinta kakak Lily, semangat"


Banyak juga yang maju ke depan memberikan ku bunga dan hadiah.


Aku menangis haru.

__ADS_1


"Terima kasih semua nya" ujar ku.


Kami keseluruhan tim voli pun berkumpul dan berfoto bersama mengangkat piala itu beramai ramai.


__ADS_2