Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 49.


__ADS_3

"Anak tidak tau di untung" teriak papa.


Aku tidak menghiraukan nya.


Aku terus berjalan menuju lantai atas kamar ku.


Putra hanya memandang punggung ku yang naik tangga semakin menjauh dengan rasa penasaran yang kuat.


"Terimakasih yang nak putra sudah mau mencari nya'' kata papa ke putra.


"Sama sama om", jawab putra sembari pamit keluar rumah.


"Eh, kok kunci mobil nya di kembalikan? mobil itu untuk kamu saja" kata papa.


Rudi Wijaya lalu menyerahkan kunci mobil itu ke putra.


"Eh jangan dulu deh om, nanti saja jika aku resmi menjadi anak tiri mu" tolak nya.


"Ah tidak apa apa. Tenang saja" pak Rudi tetap memaksa putra mengambil kunci itu.


Dengan terpaksa putra menerima pemberian pak Rudi.


Keesokan hari nya, rumah sudah di hias sedemikan rupa. Untuk merayakan pernikahan papa dan Tante Mona.


Pernikahan mereka berlangsung di hotel bintang lima. Mengingat ini adalah pernikahan pertama nya papa.


Ku pandangi gaun untuk besok.


Entah kenapa air mata ku mengalir dengan sendiri nya.


Dan aku tidak mengerti kenapa.


Bi Minah datang menemui ku di kamar.


"Non, turun lah, non belum makan dari pagi, non juga bolos sekolah, sabar non, terima saja takdir, nama nya jodoh kita gak tau, tuan juga berhak bahagia dan menikah dengan orang yang dia cintai, ayo lah non, jangan begini" kata bi Minah menasehati ku.


Aku tidak menjawab, ku lap air mata ku.


Besok hari sabtu. Hari Minggu adalah hari acara mereka.


Aku tidak memberi tau teman teman ku perihal papa yang akan menikah.


Aku tidak bergeming. Bibi kehabisan kata membujuk ku untuk makan.


Ku pandangi langit senja dari jendela kamar ku. Melangkah ke balkon.


Menikmati suasana senja sesaat untuk sedikit menghilangkan perasaan penat ku.


Keesokan hari nya. Aku tetap bolos sekolah. Tidak keluar kamar. Badan ku mulai lemas karena tidak makan seharian. Papa datang ke kamar ku membawa makanan.


"Ada apa dengan mu, ku dengar dari bibi kau tidak makan seharian", ujar papa.


Aku hanya diam tak berdaya.

__ADS_1


"Makan lah, berdamai lah dengan diri sendiri, maafkan papa jika pernikahan ini mengganggu mu". Ku lihat raut wajah khawatir di wajah nya. Untuk pertama kali aku merasa di khawatirkan oleh nya.


Aku tak mampu berkata kata karena terlalu lemas.


Papa sedikit memaksa ku bangun dan menyandarkan tubuh ku pada sisi tempat tidur.


Dengan lemah tubuh agak sedikit duduk.


Ia membawakan aku bubur ayam dan teh hangat.


Ia mulai menyuapi ku. Awal nya aku menepis tangan itu. Hingga terjatuh sendok di lantai.


Papa pergi mengambil lagi beberapa sendok baru. Kembali ia memaksa aku untuk makan.


Ia menyuapi lagi bubur itu.


Mau tidak mau akhir nya aku makan juga. Perlahan tapi pasti aku menelan bubur itu.


Papa mulai tersenyum saat aku mulai menelan makanan ku. Berontak ku berkurang.


Ini pertama kali dalam seumur hidup ku aku di suapi oleh nya, entah kenapa aku air mata ku turun lagi dengan sendiri nya.


"Loh kok nangis" kata papa lembut sembari mengambil tisu untuk mengelap air mata ku.


Tubuh ku terlalu lemah untuk berontak saat ini. Semangkok bubur telah habis. Lalu papa memberi ku air mineral. Setelah itu memberi ku teh hangat.


"Sekali lagi maafkan papa, tidak pernah menjadi papa yang baik untuk mu, kau terlalu banyak menderita karena ku, papa tidak pandai mengeluarkan kata kata manis untuk menasehati anak, sehingga selalu kasar kepada mu. Papa juga manusia biasa. Maafkan kekhilafan papa. Sebenarnya papa sayang pada mu" Ujar papa.


Aku diam saja, hanya air mata ku yang terus mengalir. Ini juga pertama kali nya papa bilang sayang pada ku seumur hidup ku.


Aku hanya pasrah, bahu ku naik turun menahan tangis. Papa mengusap punggung ku.


"Tidak apa apa. Menangis lah jika itu bisa melegakan mu" kata papa. Papa juga diam diam menangis di balik punggung ku. Ia segera mengusap air mata nya.


"Bangun lah, sebentar lagi Oma dan opa datang dari jakarta" kata papa sambil pamit keluar kamar ku. Aku rasa papa juga menangis di luar sana. Terasa suara papa bergetar menahan tangis tadi.


Aku sedikit berenergi sekarang. Aku pun bangkit dan pergi mandi.


Memakai baju yang sopan untuk menyambut Oma dan opa.


Siang jam 2 Akhir nya Oma dan opa datang juga.


Aku papa dan beberapa pembantu berdiri di depan rumah untuk menyambut mereka.


Papa tersenyum melihat ku.


Setelah turun dari mobil Oma langsung memeluk papa. Dan menatap sinis ke arah ku.


Aku pun menunduk kan pandangan ku.


"Tidak terasa sudah besar ya anak haram ini, tapi kok bisa se langsing ini, wajah nya juga beda,kau tidak buang uang untuk merubah nya kan Rudi?" pekik Oma.


Aku berbesar hati mendengar nya.

__ADS_1


"Mah, tolong jangan kasar pada nya, nanti aku ceritakan", bela papa.


"Kenapa? kamu sudah mulai mengakui anak ini? hampir saja kehadiran anak ini menghancurkan masa depan mu" pekik nya lagi. Oma masih menatap sinis pada ku.


"Sudah lah, mama pasti lelah kan, yuk istirahat di dalam" tawar papa. Pembantu mulai membawa barang barang mereka ke kamar tamu.


Opa menatap ku sesaat lalu ikut masuk ke dalam tanpa mengatakan apa pun.


Sejak awal keluarga ini memang tidak menerima kehadiran ku.


Mereka tidak pernah menganggap ku cucu, sejak kecil tidak ada yang menyayangi ku selain bi Minah.


Oma dan opa masuk ke dalam kamar mereka untuk istirahat.


Aku memakai dress simpel selutut.


Aku ke dapur menemui bi Minah. Sungguh aku tidak nyaman ada Oma dan opa di rumah ini.


"Ada apa non?" tanya bi Minah bingung aku tiba tiba ke dapur.


"Gpp, haus ajja bi" jawab ku singkat.


Aku ke lemari es mengambil air es lalu meminum nya.


"Opa mau juga donk" tiba tiba opa sudah ada di belakang ku.


"Maksud nya? opa mau minum air es?" tanya ku.


"Enggak, air mineral biasa saja, yang gak dingin" seru opa.


Segera ku ambil gelas dan air mineral untuk opa.


Opa tersenyum dan meminum nya.


"Makasi ya" kata opa sambil berlalu masuk ke kamar.


Aku inisiatif mengambilkan Oma minum juga.


Ku bawakan segelas air mineral ke kamar Oma.


Melihat ku datang Oma langsung memalingkan wajah nya.


Aku meletakkan air itu ke meja.


"Siapa tau Oma haus" kata ku.


"Gak butuh", Seru Oma.


Aku lalu berbalik keluar membiarkan air itu di meja.


"Dia tidak meracuni minuman itu kan?" kata nya pada opa.


"Haha tidak mungkin, minum lah ,tadi juga aku minum air mineral dari nya dan aku baik baik saja" kata opa.

__ADS_1


Melihat ku sudah pergi dari Kamar. Oma seolah melompat ke meja mengambil air itu. Dia Haus sekali. Opa tertawa melihat tingkah gengsi nya Oma.


__ADS_2