Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Nenek putra.


__ADS_3

Bab Ini terulang, ada kesalahan teknis. Jadi Jika sebelum atau sesudah membaca bab ini menemukan cerita nya sama dengan bab yang berbeda sama harap di skip ajja, karena tidak bisa di hapus oleh sistem.


......🌺🌺🌺......


Tidak terasa sudah seminggu kami di kota ini, Tarakan. Kalimantan utara.


Aku dan putra sedang duduk di loby hotel menunggu papa dan mama.


"Put, kamu sekolah di mana sih?" tanya ku.


"MAN" jawab nya singkat.


"Man?" tanya ku lagi.


"Iya Madrasah Aliyah negeri, kenapa sih?" ujar putra.


"Nanya ajja, pantas saja agama kamu lumayan" seru ku.


"Iya dong, selain pintar aku kan Soleh. Haha" puji nya pada diri sendiri.


Papa dan mama keluar dari lift yang terbuka. Kami akan ke rumah Jeny lagi untuk berpamitan sebelum besok pulang kembali ke kota ku.


Sesampai nya di rumah kak Jeny.


"Buru buru banget sih pulang nya toh liburan mereka masih panjang" protes Bu Sarah pada adik nya.


"Iya sih kak tapi kan kami sudah satu Minggu lebih di sini, nanti kalau ada apa apa segera hubungi aku yah kak" seru mama.


"Baik lah, jaga kesehatan yah" ujar Bu sarah sambil memeluk erat adik bungsu nya itu. Air mata mereka mengalir seolah tidak ingin berpisah.


"Eh ,kamu sudah ketemu Indra? ku dengar dia sakit dan belum menikah lagi" kata Bu Sarah. Indra adalah bapak kandung nya putra.


"Eh, sebaik nya kami tidak bertemu lagi, kakak tau sendiri dia seperti apa, bisa jadi dia menghancurkan rumah tangga baru ku ini, putra juga tidak ingin bertemu dengan nya" seru mama.


"Benar kah? hm ya sudah semoga saja dia cepat sembuh dari sakit nya" seru Bu Sarah.


"Dia sakit apa memang nya?" bisik mama.


"Kanker darah" jawab Bu Sarah.


Mama terkejut mendengar nya ,tapi karena ada papa ia enggan membahas lebih lanjut.


"Jadi kapan rencana kalian pulang?" tanya Bu sarah.


"Besok kak"jawab mama.


"Hm baik lah ,hati hati yah nanti" seru Bu Sarah.


Dalam hati kecil mama terbesit rasa iba setelah mendengar mantan suami nya sakit.


Tapi ia tidak berani untuk sekedar menjenguk mantan suami nya itu.


Ia pun diam diam menyuruh putra untuk melihat ayah nya yang sakit.


Putra sempat menolak tapi aku membujuk nya untuk melihat bapak nya. Aku pun ikut menemani nya.


Setelah pamit ke papa dengan alasan jalan jalan kami pun menuju rumah sakit tempat ayah putra di rawat. Berbekal info dari keluarga ayah nya putra mereka tau di mana ruangan nya.


Ada seorang nenek tua menjaga bapak nya putra.


Dia adalah ibu nya pak Indra, nenek nya putra.

__ADS_1


"Assalamualaikum nek" seru putra sembari Salim punggung tangan tua nenek nya.


"Putra?" tanya nenek itu.


"Iya nek, maafkan putra ya nek. Putra jarang menjenguk nenek" seru putra merasa bersalah.


"Gpp, cucu nenek sudah makan? ini uang jajan untuk putra.


Putra menangis dan memeluk nenek nya


Aku tidak pernah melihat putra menangis seperti ini.


Aku pun ikut menangis.


"Putra sudah besar nek, uang nya nenek simpan saja, nenek sendiri sudah makan belum?" tanya putra sambil menyeka air mata nya.


"Nenek sudah makan kok" jawab nenek sambil tersenyum. Tangan kecil keriput nya memegang tangan putra.


"Bapak sakit apa nek?" tanya putra.


"Kanker darah, harus nya nenek saja yang sakit, nenek kan sudah tua" seru nenek.


"Hus, nenek gak boleh ngomong begitu" ujar putra.


Baju nenek lusuh, khas orang tua.


Aku tidak tega melihat nya.


Putra lalu membetulkan hijab nenek yang miring.


"Nek, yang sehat dan kuat yah, putra sayang sama nenek" seru putra.


Diam diam aku berunding dengan dokter itu.


"Apa tidak pilihan lain dok?" tanya ku saat dokter memberi tahukan kondisi dan solusi untuk penyakit beliau.


"Dia butuh donor Sum sum tulang, dan itu sangat sulit untuk menemukan yang cocok" ujar dokter.


"Lakukan yang terbaik untuk nya dokter, jangan lupa menghubungi saya jika dapat pendonor. Saya akan membiayai seluruh pengobatan nya tapi tolong rahasiakan ini dari keluarga beliau yah" seru ku.


"Baik lah, saya akan berusaha semaksimal mungkin" seru dokter.


Aku pamit dan kembali ke ruangan itu.


"Dari mana?" tanya putra.


"Dari toilet" jawab ku.


Aku melirik ke arah mereka. Nenek tertidur sejenak, putra menggendong nya ke sofa.


"Aku ingin melihat rumah nenek" ujar ku tiba tiba.


"Apa sempat, besok kita sudah balik loh" seru putra.


Aku melihat langit sudah mulai gelap, magrib tiba. Putra sholat di rumah sakit.


Ku lihat seorang wanita paruh baya datang membawa tas.


"Mak, biar aku yang jaga, mamak pulang ajja" ujar wanita itu.


Wanita itu adalah Tante nya putra, adik dari pak Indra.

__ADS_1


Nenek tersenyum.


Tante Luna menatap putra sesaat.


"Putra?" tanya nya.


"Iya Tante" putra pun menyalami nya.


"Sejak kapan kamu di sini, kalo begitu tolong bawa nenek mu pulang yah" seru Tante Luna.


"Iya Tante" jawab putra sembari memapah nenek untuk berdiri.


"Ini siapa putra?", tanya Tante Luna menunjuk ke arah ku.


"Saudara tiri ku" jawab putra singkat.


"Oh iya, Tante sudah dengar,wanita itu sudah menikah lagi" seru Tante Luna sambil tersenyum ringan. Terkesan tidak tulus dalam senyum nya itu.


"Aku pamit Tante" seru putra sembari membawa nenek. Putra terlihat tidak ingin memperkenalkan aku dengan mereka. Mungkin saja mereka tidak akur.


Sesampai nya di rumah nenek langit sudah gelap.


Rumah nenek berada di cukup jauh dari kota. Alamat nya di juata.


Aku merebahkan diri di tempat duduk rumah kayu itu. Ku perhatikan sekeliling rumah. Nenek membuat kan kami teh melati.


"Ayo di minum" seru nenek. Kami pun minum.


"Nenek tinggal sama siapa di rumah ini?" tanya ku.


"Sama Indra, bapak nya putra, cuma berdua, bapak nya putra ini lah yang menjaga nenek sekarang" jawab nenek.


"Tapi dia malah sakit, jadi nya malah nenek yang menjaga nya hehe" seru nenek sambil tersenyum.


Putra membantu menutup jendela rumah nenek yang masih terbuka. Ia memandang ke samping rumah itu dan terdiam sejenak.


Ternyata orang yang tinggal di samping rumah ini adalah kenalan nya putra.


Putra menatap rumah sebelah.


"Ada apa?".tanya ku sembari ikut melihat ke arah sana.


Putra tidak menjawab.


Aku melihat ada gadis cantik seumuran dengan kami tengah bercengkrama dengan keluarga nya.


Gadis itu tersadar sedang di perhatikan. Ia pun menatap kami.


Putra lalu bersembunyi.


"Siapa dia?" tanya ku.


Putra tidak menjawab.


Tidak lama kemudian gadis itu datang mengetuk pintu.


Putra membuka nya, membuat gadis itu terkejut bukan main. Hampir saja kue yang ia akan beri ke nenek jatuh di lantai. Aku segera menyambut kue itu.


"Putra???" pekik gadis itu.


Lama mereka saling pandang tidak percaya. Seolah sudah lama sekali tidak bertemu.

__ADS_1


__ADS_2