
Sebenar nya putra malu karena aku mengetahui kemiskinan nya. Tapi apa boleh buat, mereka keluarga sekarang.
Aku tidak peduli, aku beli semua, sampai parfume, pewangi ruangan dan lain lain.
Setelah puas berkeliling. Kami pun meletakan barang barang di bagasi mobil.
Putra melirik ku merasa tidak enak.
"Sudah lah, terima saja, itu rejeki mu" kata ku saat melihat ekspresi putra.
"Uang mu bisa sebanyak itu?" Ujar putra.
Putra syock karena aku menghabiskan uang 15 juta dalam sehari karena membeli segala keperluan putra. Untuk isi kamar nya.
"Hehe kau lupa kalau papa itu sultan?" Kata ku.
Tabungan putra selama ini bahkan tidak sebanyak total belanjaan ini.
Seperti dapat uang kaget. Putra sedikit terharu tapi ia menyembunyikan air mata haru nya.
Mobil kami melaju menuju pulang ke rumah.
"Singgah Makan dulu yuk" ujar ku.
"Di mana?" tanya nya.
"Di restoran dekat sini saja", jawab ku.
"Gak usah restoran deh, kita ke rumah makan Biasa saja yah" tolak nya.
"Ya udah sembarang deh", Akhir nya aku menurutinya.
Selesai makan kami pun pulang. Di bantu satpam, supir dan beberapa pembantu yang bekerja di rumah ku kami keluarkan barang barang. Mobil toko furniture pun datang membawa lemari baru dan tempat rak buku.
Aku hanya jadi mandor mereka hingga semua barang barang sudah sampai di kamar putra. Aku mulai mendekor kamar putra. Ia hanya mengikuti saja apa kata ku.
Menjelas malam semua sudah rapi.
Sprei baru, bantal baru.
"Nah ini baru mantap" seru ku memuji hasil karya ku sendiri.
Aku berbaring di kasur empuk nya kamar putra.
"Terima kasih banyak yah" seru nya.
Putra mengambil sapu untuk membersihkan sisa sisa debu sebagai langkah terakhir.
"Hey, apaan sih. Suruh pembantu saja" protes ku saat putra mulai menyapu.
"Aku tidak biasa manja, gpp kok. Lagian ini kamar ku, harus nya memang aku yang bersihkan" jawab nya.
Aku jadi malu sebagai perempuan aku bahkan tidak pernah pegang sapu. Semua serba tersedia. Semua pembantu yang bereskan. Kerjaan ku cuma makan tidur. Pantas saja badan ku gendut waktu itu.
Selesai menyapu putra mencoba baring di spring bed kasur empuk nya.
"Masya Allah, enak banget" puji nya.
"Nyaman kan" seru ku.
"Besok papa dan Oma kembali ke rumah ini setelah 3 hari di hotel. Siapkan mental mu yah, jangan lemah" nasehat ku.
"Memang nya papa mu jahat?" tanya nya.
__ADS_1
"Bukan papa tapi Oma" jawab ku.
"Oh nenek kamu?" seru nya.
"Iya" jawab ku.
Setidak nya sudah ada teman ku untuk mengadu nasib ketika Oma mulai kasar.
"Udah larut aku balik ke kamar ku yah, jika ada apa apa telepon ajja, setiap kamar ada telepon rumah nya kok. Bisa nyambung ke dapur juga ke ruang tamu. Pokok nya nyambung ke seantero rumah besar ini. Fungsi nya ya biar gak boleh balik memberi info karena lumayan jauh. Nanti kita house tour deh, kalo Oma sudah pulang ke Jakarta" kata ku.
Aku pun balik ke kamar ku. Ku lirik sekilas betapa bahagia nya putra dengan kamar baru nya itu. Aku pun tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam kamar ku.
Saat masuk ke kamar ku lihat handphone ku berdering, ada chat masuk.
"Sekali lagi terima kasih ya :)" chat putra pada ku.
"Sama sama, tidur gih. Besok sekolah" balas ku.
Aku pun ke kamar mandi yang ada di dalam kamar ku, seperti biasa ritual sebelum tidur. Sikat gigi cuci muka, pakai skincare dan handbody.
Setelah itu ku mati kan lampu dan tertidur lelap.
Keesokan hari nya subuh itu, putra membangunkan ku.
"Hey bangun, sholat subuh" seru nya.
"Apa? sholat?" tanya ku.
"Iya, kamu gak sholat? muslim kan?" balas putra.
"Kamu duluan ajja deh" jawab ku lalu melanjutkan tidur.
Putra geleng kepala sambil keluar rumah menggunakan motor karena jarak masjid yang lumayan jauh jika berjalan kaki.
Jam 6 pagi aku bangun bersiap ke sekolah.
Aku mandi dan bersiap siap.
Putra sudah siap berseragam untuk berangkat.
"Pagi banget, baru juga jam 6.35. Sarapan dulu" seru ku saat melihat putra mulai turun.
"Sarapan? aku tidak terbiasa sarapan" jawab nya singkat.
"Kalo gitu biasakan mulai sekarang biar fokus belajar nya" ujar ku.
Putra menurut, ia pun ikut sarapan bersama ku.
Pantas saja putra bertubuh kurus tinggi. Sarapan saja malas.
"Mau turun sekolah bareng?", tawar nya.
"Em, kita kan beda sekolah, jauh lagi" kata ku.
" Gpp, aku antar kamu dulu baru ke sekolah ku" jawab nya.
"Em, terserah kamu deh" akhir nya aku nurut juga.
Selesai sarapan aku pun mengikuti putra, dia membawa mobil yang di berikan papa.
Sesampai nya di sekolah aku pun turun dari mobil lalu. Dari jauh aku melambaikan tangan ke arah nya.
Seseorang menepuk pundak ku.
__ADS_1
"Ciehh di anterin. Kemaren kata nya orang jahat?" kata Maisaroh.
Aku hanya tersenyum ringan.
Lalu Dimas datang dan langsung merangkul ku.
"Hay, cantik cantik lagi bicara in aku yah?" kata Dimas ge er.
"Iiuuhh, gak lah yauu" kata Maisaroh.
Adit pun datang. Tumben kami datang bersamaan.
Kami pun menuju kelas. Semua mata tertuju pada kami. Berasa jadi artis dadakan part 2.
Sesampai nya di kelas kami pun duduk di tempat kami masing-masing.
Hari ini pelajaran seni budaya lagi.
Guru menyuruh kami berkelompok untuk mengerjakan tugas.
1 kelompok 3 orang.
Kelompok ku bersama Maisaroh dan Maharani.
Sementara Adit dan Dimas sekelompok dengan yang lain.
Tugas nya terakhir di kumpul Minggu depan.
Jadi masih banyak waktu. Tugas nya membuat miniatur rumah/bangunan menggunakan stik kayu es cream.
Bel pulang berbunyi, aku menuju gerbang sekolah menunggu putra datang menjemput.
"Cieh di jemput kakak ganteng" seru Maisaroh.
"Apaan sih" balas ku.
Putra memang ganteng, kulit nya putih, badan nya tinggi tapi agak kurus.
"Kenalin donk sama kami" seru Dimas yang tiba tiba muncul.
Adit pun muncul dengan motor nya.
"Tumben gak bawa mobil?" tanya Adit.
"Aduh ada yang ketinggalan gosip nih. Lili kan di jemput sama kesayangan nya"jawab Maisaroh.
Adit diam saja. Dengan ekspresi tidak suka mendengar nya. Dia memang tidak melihat dengan siapa aku di antar sekolah tadi pagi.
"Becanda Bambang, gitu amat ekspresi nya, hhahaahaaa" tawa Maisaroh.
Tidak lama kemudian putra pun datang, mereka semua menatap putra yang menghentikan mobil nya tepat di depan mereka.
"Oh sama kakak nya" kata Adit bernafas lega.
Sesaat aku perkenalkan putra kepada mereka.
Lalu aku pun pamit ke untuk pulang duluan.
Setelah aku jauh, Maisaroh langsung nyeletuk ke Adit.
"Kalo suka itu yah di tembak, entar keburu di ambil orang lain baru nyesel" jelas Mai.
Adit diam saja.
__ADS_1
"Bener tuh, gentle donk, kalo kelamaan, awas ajja gue tikung" kata dimas. sambil menertawakan Adit.