Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Rahasia besar


__ADS_3

Keesokan hari nya putra sudah berangkat sekolah duluan, keadaan ku sudah baikan.


Sesampai nya di sekolah aku di buat bingung oleh sikap Mai yang berubah.


"Mai kamu kenapa sih?" tanya ku


Mai tidak menghiraukan aku, ia tetap berjalan lurus di koridor.


Aku mengejar nya.


"Apa aku buat kesalahan? kenapa mengacuhkan aku?" tanya ku.


Mai berhenti sejenak.


"Aku benci sama kamu!" pekik nya.


"Maksud nya ? aku gak ngerti kenapa kamu membenci ku?" tanya ku lagi.


Mai berlari ke taman sekolah, aku mengikuti nya.


"Berhenti mendekati ku!!!" pekik Mai.


Aku berdiri menunggu jawaban dari Mai.


Air mata nya keluar.


Aku semakin tidak mengerti.


"Aku tau ini bukan salah mu, aku iri, semenjak kamu datang, sahabat ku tertarik dengan mu, padahal kamu itu palsu, bersama ku selama ini tidak membuat mereka tertarik dengan ku lebih dari teman, aku ingin lebih, aku ingin di cintai, kau mengambil semua nya dari ku, kau merebut semua nya, aku benci kamu!" pekik Mai.


Aku menatap tidak percaya pada ucapan Mai. Mai yang ku anggap sempurna selama ini justru cemburu pada ku?


"Mai aku tidak pernah merebut siapa pun, aku juga gak mengambil siapa pun dari kamu. Kita semua sahabat. Aku bahkan sudah menolak Dimas. Lalu apa yang kau khawatir kan, kamu takut aku berubah pikiran dan mau menerima Dimas? mudah bagi ku untuk menerima Dimas tapi aku memikirkan mu, aku memikirkan perasaan mu, tapi kau masih menyalahkan aku, aku harus apa Mai, katakan aku harus apa!!!" balas ku.


Mai diam, ia menyeka air mata nya.


Gerimis mulai turun lagi, Mai berlari ke dalam kelas. Aku pun menyusul nya. Akhir akhir ini musim hujan.


Ku lihat tanda lahir Mai memudar? apa tanda lahir bisa pudar? mungkin saja seiring berjalan nya usia.


"Kau bukan Maisaroh kan" bisik ku di telinga Mai.


Ia sangat terkejut mendengar ku.


Aku tersenyum aneh dan berjalan ke bangku ku. Mai terlihat gelisah. Guru datang dan memulai pelajaran.

__ADS_1


Mai langsung melirik ke arah Maharani.


Maharani tertunduk takut.


Sementara Bimo di samping maharani fokus pada pelajaran.


......🌺🌺🌺......


Usai pelajaran mai langsung menyerang Maharani.


Di belakang selah mereka bertemu.


"Pasti kau kan!!!" pekik nya.


"Maksud nya apa?" tanya Rani bingung.


"Kau mengkhianati ku kan!!!" bentak Mai.


Sementara aku kelilingi mencari Maharani dan maisaroh.


Akhir nya ku temukan Rani sedang di cekik oleh Mai.


"Mai?? apa yang kau lakukan??" pekik ku sembari mempercepat langkah ku untuk menolong Maharani.


"Dia mengkhianati ku" pekik Mai.


Aku yang masih tidak percaya langsung mengambil tisu dan memegang paksa tangan kanan Mai. Itu bukanlah tanda lahir asli. Itu buatan, seperti pakai Henna warna cokelat.


Mai melepas paksa lengan nya.


Mai tertawa. Menyeramkan. Maharani berdiri di belakang ku.


Terlalu rumit untuk di cerna akal sehat ku.


"Kenapa kau menyelidiki aku? kau mau aku mati seperti dia?" balas Mai, dengan tatapan tajam dan menyeramkan. Aku sampai harus mundur karena Mai maju ke depan mata ku.


"Apa yang sebenarnya terjadi Mai, jelaskan" pekik ku.


Mai tertawa lagi. Syukur suasana sekolah sudah sepi karena sudah jam pulan sekolah.


"Haha iya benar aku Maimunah, selama ini aku menyamar menjadi diri nya, mereka salah merundung orang, mereka mengira Maisaroh saat itu adalah aku. Dan aku membiarkan itu, aku ingin maisaroh merasakan jadi aku, aku gak ngerti juga kenapa Maisaroh tidak berusaha untuk menepis kesalahan mereka, padahal ia jago karate, mungkin saja karena di keroyok? entah lah, aku juga heran kenapa Maisaroh diam saja ketika mereka mengira dia itu aku" jelas Mai.


Aku terduduk lesu. Kenapa begitu rumit kenyataan ini.


Maharani menatap Mai.

__ADS_1


"Maafkan aku Mai, bukan aku yang membocorkannya identitas mu, aku tidak pernah mengkhianati mu, aku menyimpan rapat rahasia mu itu, meski kau memutuskan persahabatan kita karena ingin menjalani hidup sebagai Maisaroh, meski kau membenci ku karena mengetahui siapa kamu sebenarnya" jelas Maharani sedih.


"Apa lagi yang kau sembunyikan, kau sungguh kejam Mai, bisa bisa nya kau membiarkan saudara mu di rundung, dan di lecehkan seperti itu", ujar ku.


"Aku tidak diam saja, aku menangkap pelaku nya kok, sudah lama aku ingin membalas kan dendam ku itu pada mereka , kedatangan mu memudahkan aku menangkap mereka" jelas Mai.


Aku tidak habis pikir, aku sungguh tidak benar benar percaya semua ini. Tega sekali Mai.


Mai menyeringai melihat ku.


"Masih banyak hal yang belum terungkap, harus kah aku ceritakan semua nya?" seru Maharani.


Mai hanya diam.


"Maafkan aku Li, aku sudah berbohong pada mu, sebenarnya yang membeli peringkat ku adalah Maimunah, itu lah mengapa dia bisa selalu peringkat satu di kelas menggantikan Maisaroh. Padahal dia tidak pandai apa pun" seru Maharani.


Mai menyerang Maharani.


"Apa kau bilang? tidak pandai apa pun?" bentak Mai sambil meremas kerah seragam Maharani.


"Memang benar kan, kau berlindung di balik nama besar Maisaroh yang pandai karate, itu lah alasan mengapa tidak ada yang berani menyentuh mu, padahal jika mereka nekat pasti kau tidak bisa apa apa dan berakhir tragis seperti saroh. Akui saja lah" seru Maharani melecehkan sahabat lama nya itu. Sahabat yang sangat berubah semenjak hidup sebagai orang lain.


Aku terdiam tidak mampu berkata apa pun.


Ku lihat Mai menangis.


"Aku iri dengan nya yang terlahir cantik, aku bahkan ingin sekali membunuh nya ketika orang tua ku sangat perhatian dengan nya , sedangkan aku bagai anak tiri yang terbuang, Maisaroh mendapatkan segala nya sedangkan aku tidak. Belum lagi di sekolah semua memandang kami bagaikan langit dan bumi, kau tau itu sangat menyakitkan" ujar Mai.


Kami bertiga terduduk di taman itu, sibuk dengan pikiran masing masing.


"Apa benar Maisaroh mati bunuh diri, kau tidka membunuh' nya kan!!" seru ku.


Mai menatap ku tajam.


"Jika aku membunuh nya sudah dari dulu aku di penjara kan" jawab nya santai.


"Kau mendorong nya hingga jatuh dan membuat semua seolah bunuh diri" kata Maharani tiba tiba.


"Apaa?!!" pekik ku tidak percaya.


Mai terkejut mendengar pernyataan Maharani.


"Hey, jangan sembarangan ,kau bisa kena pasal pencernaan nama baik loh" seru Mai.


"Pencemaran Mai, bukan pencernaan" ralat ku.

__ADS_1


"Yah, itu lah maksud ku" jawab nya.


"Aku saksi, melihat dengan mata kepala ku sendiri Mai, selama ini aku gelisah, hidup ku tidak pernah tenang karena aku membiarkan kau membunuh nya, dan aku tidak pernah mengungkapkan nya, kau pikir hidup ku mudah setelah melihat semua itu, aku kasihan pada mu karena aku teman mu, kau mengalami banyak ketidak Adilan, maka nya aku diam saja selama ini, tapi ini sudah keterlaluan Mai, sudah saat nya semua terungkap" jelas Maharani.


__ADS_2