Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Berontak.


__ADS_3

"Maaf pak Rudi, calon menantu mu tidak bisa hadir, masih di luar kota, sibuk nyusun skripsi, kuliah nya akan segera selesai" ujar pak Eric bersemangat.


"Kuliah???, loh saya pikir anak kamu yang masih sekolah itu, yang di SMA pelita" ujar pak Rudi bingung.


"Oh, itu adik nya, dia masih sekolah, masih panjang perjalanan nya untuk menikah, yang saya maksud adalah anak saya yang sulung, yang sudah kuliah" jelas pak Eric.


Aku menatap tajam ke arah kedua orang tua ini. Tega sekali mereka menjodohkan anak nya.


"Lidya, ternyata jodoh kamu bukan dari sekolah yang sama dengan mu, tapi yang lebih dewasa, kamu pasti suka jika melihat nya nanti, tapi ia tidak bisa hadir Sekarang" seru papa.


"Jodoh ku??? kalian Tuhan!? rejeki jodoh dan kematian hanya Allah yang tau, semua itu di tangan Allah bukan di tangan kalian!!!" berontak ku.


"Lidya ,jaga sikap mu!!!" bentak papa.


"Aku , tidak akan menerima perjodohan itu!!!" pekik ku seraya pergi menjauh.


Tak sengaja aku menabrak seseorang.


Kami sama sama terkejut.


"Lidya?!" pekik nya


"Dimas?!" pekik ku hampir bersamaan.


Dimas memakai setelan jas hitam, membuat nya terlihat dewasa.


"Kamu ngapain di sini?" tanya nya.


"Harus nya aku yang tanya begitu!" jawab ku.


"Kok ngegas, kamu kenapa?" tanya Dimas bingung.


Papa dan pak Eric mendekati kami.


"Wah kalian saling kenal, iya sih wajar kalian kan 1 sekolah" seru pak Eric.


"Maksud nya apa ini?" tanya Dimas bingung.


"Wanita ini, adalah calon ipar kamu, dia akan papa jodoh kan dengan kakak kamu" jelas pak Eric.


Dimas terdiam, terpukul dengan pernyataan papa. Bagaimana bisa orang yang ia cintai jadi ipar nya?


"Maaf om, saya tidak mau di jodoh jodoh kan, saya punya pilihan sendiri" tegas ku.


"Lidya!!!" teriak papa.


Mama hanya diam saja, dia pasti juga mendukung perjodohan ini, agar aku dan putra tidak bersama.


Aku tidak menghiraukan nya.


Aku tetap berjalan keluar gedung.


"Gpp kok pak Rudi, di awal mungkin mereka akan menolak keras, tapi lama kelamaan mereka pasti akan menerima nya" seru pak Eric yakin.


Aku berlari keluar, ku buka sepatu hak tinggi ku. Menuju parkiran.


Dimas mengejar ku.


Ia melihat ku berjalan tanpa alas kaki.


Ia membuka jas nya dan menyelimuti ku dengan jas itu.


Ku tolak jas itu tapi Dimas memaksa.

__ADS_1


"Pakai lah, udara di luar dingin" seru nya sembari melepas kan sepatu nya.


"Sementara pakai lah sepatu ini dulu" ujar Dimas lagi.


"Kebesaran" protes ku.


"Gpp, sementara saja sampai parkiran, tapi maaf aku bawa motor, gak bawa mobil, aku antar pulang yah" tawar nya.


"Gak, aku bisa pulang sendiri, aku bisa menelepon supir di rumah" jawab ku.


"Udah deh, gak usah menolak" seru nya.


Akhir nya aku ikut juga, pulang di antar oleh nya.


Dimas berjalan tanpa alas kaki, hanya memakai kaos kaki.


Meski kebesaran aku tetap memakai nya, sementara sepatu ku di bawa oleh Dimas.


Ku rapatkan jas dari Dimas, udara malam itu semakin dingin.


Kami telah sampai di mana motor Dimas terparkir.


Sepanjang perjalanan aku memilih diam.


"Aku takut macet, maka nya pakai motor. Apa lagi tadi aku terlambat datang" jelas nya.


Aku masih diam.


Air mata ku mengalir.


"Lidya, kamu baik baik saja?" tanya nya.


Aku tidak menjawab. Aku merapatkan tangan ku ke pinggang nya karena Dimas menambah kecepatan.


Sesampai nya di rumah.


Aku tidak menawarkan Dimas untuk masuk tapi ia tetap masuk.


Kami duduk di ruang tamu sekarang, aku mengembalikan jas nya.


"Makasih yah" ucap ku.


"Kamu baik baik saja? aku juga tidak menyangka orang tua kita akan menjodohkan kalian, aku pun terpukul mendengar nya" jelas Dimas.


"Iya aku gpp kok, aku juga akan menolak nya, jadi jangan khawatir" seru ku.


"Aku mau istirahat, pulang lah Dimas" seru ku.


"Kau mengusir ku?" protes nya.


"Iya, kenapa?" jawab ku singkat.


"Wah, jujur sekali kamu Lidya Wijaya, ya sudah, kalo begitu istirahat lah dengan tenang, Sampai jumpa besok di sekolah" seru nya sembari pamit.


Ku lirik jam dinding besar di ruang tamu.


Pukul 21.25


Papa dan mama belum pulang.


Aku tidak peduli jika papa akan memarahi ku karena sikap ku tadi.


Aku rindu putra, putra yang selalu ada untuk ku, putra yang selalu menenangkan aku.

__ADS_1


Sedang apa dia sekarang. Seminggu lagi kami akan ujian Nasional.


Apa dia tidak mau pulang?


Ku langkahkan kaki ku naik ke atas kamar ku,


Ku buka gaun ku perlahan dan berganti dengan piyama tidur.


Ku buka kotak kecil di bawah meja belajar.


Ku pandangi foto mama.


"Mah, apa yang harus aku lakukan sekarang, Lidya mulai dewasa mah, Lidya takut, Lidya ingin menjadi putri kecil nya mama saja, dunia ini keras mah, Lidya juga ingin hidup bersama orang yang Lidya cintai, apa itu mustahil? apa itu salah? apa Lidya gak berhak bahagia?" seru ku pada sebuah foto mama yang tersenyum manis.


Mamah cantik, tapi kenapa aku jelek yah? papa pun tampan. Aku ikut siapa? ah tidak penting lagi sekarang juga aku sudah cantik.


Ku tutup kembali kotak itu dan masuk ke dalam kamar mandi untuk persiapan tidur.


Ku basuh wajah ku dengan air dan sabun cuci muka.


Setelah itu aku menyikat gigi.


Aktifitas rutin sebelum tidur.


Tidak lupa aku mengambil skincare di atas meja rias. Ku pakai ku tepuk tepuk wajah ku.


Ku raih handbody dan mulai mengaplikasikan nya ke tubuh ku.


Ku kecilkan AC dan mematikan lampu.


Saat nya untuk tidur.


......🌺🌺🌺......


Keesokan harinya ,aku sudah berseragam rapi hendak turun.


Ku lihat papa sedang sarapan. Aku jadi kehilangan selera untuk makan pagi itu.


Tanpa pamit aku langsung melangkah keluar rumah.


"Lidya!!!" panggil papa nyaring, aku tidak menghiraukan nya.


Aku tetap berjalan keluar.


Ku nyalakan kunci mobil ku, dan segera masuk.


Tanpa menoleh aku segera tancap gas menuju sekolah.


Baru sampai di sekolah, Dimas sudah menyambut ku.


"Hay" sapa nya.


Aku menatap nya sesaat dan kami berjalan menuju kelas bersama.


"Dimas!" panggil Maharani.


"Tuh di cariin maharani, berhenti lah membuntuti ku" seru ku sembari masuk ke dalam kelas.


"Ah ,tidak terasa Minggu depan sudah ujian ajja, detik detik terakhir nih di sekolah" seru Sri.


"Iya nih, sedih banget, sekolah tinggal beberapa hari lagi, mulai Jumat kan sudah libur, masa tenang sebelum ujian" jawab yang lain.


Aku hanya diam dengan pikiran ku sendiri.

__ADS_1


Pada akhir nya aku kuliah untuk membantu perusahaan papa. Gpp sih, aku juga gak punya cita cita yang pasti. Tapi Masalah perasaan aku gak mau di paksa. Batin ku.


__ADS_2