
"Kenapa kamu peduli banget sih sama Tante, tapi dengar dari cerita Maharani kamu emang anak yang seperti itu, peduli sekitar" ujar nya
Aku hanya tersenyum.
"Oh ya, yang masalah kemarin itu , kenapa Tante di tuduh pelakor?" tanya ku penasaran. Bahkan Maharani saja tidak tau, ia tidak pernah menanyakan nya.
"Kalo itu, sebenarnya di sebut pelakor kurang pas, soal nya aku memang pernah jalan sama suami orang, tapi cuma sekedar jalan, aku gak punya hubungan khusus, itu pun aku menemani nya jalan karena dia minta temani beli baju untuk anak nya yang ulang tahun" jawab nya.
Aku mengangguk.
"Terjadi lah kesalahan pahaman, mungkin istri nya pernah melihat kami jalan, salah ku juga sih, aku tergiur iming iming uang yang banyak hanya dengan menemani nya jalan jalan, kapan lagi cuma temani jalan jalan dapat uang banyak" jelas Tante Sifa.
Aku mendengus nafas berat.
Saat ini Tante Sifa memakai makeup tebal menor nya seperti biasa. Sehingga aku tidak bisa melihat wajah asli nya.
Tante Sifa mengeluarkan rokok di dalam tas nya. Aku terkejut bukan main. Tante Sifa memang bar bar. Baru saja ia ingin membakar batang rokok nya, seorang waiters menghampiri kami.
"Maaf Bu, tidak boleh merokok di dalam sini" seru nya.
"Sudah jelas kan Lidya, aku mau merokok, aku keluar duluan yah" ujar nya sembari melangkah menjauh dari ruangan.
Dari balik kaca cafe aku melihat nya menghisap rokok nya.
"Huft, masih terasa janggal" batin ku.
Aku keluar mengikuti Tante Sifa.
"Ada apa lagi?" tanya nya.
Aku menggeleng.
"Mau ku antar pulang?" tanya ku.
"Aku masih banyak urusan, kamu pulang saja duluan" jawab nya sambil merokok.
"Ya sudah, aku permisi Tante, jika ada apa apa hubungi aku" seru ku.
Aku tidak pulang, aku langsung ke kantor papa.
Hampir seluruh karyawan sudah mengenal ku. Jadi aku bebas keluar masuk kantor papa.
Papa baru saja selesai meeting dengan clien.
Ia keluar dari ruang rapat dan masuk ke ruangan pribadi nya. Aku mengikuti nya masuk.
Melihat ku datang tiba tiba papa sudah tidak terkejut lagi. Karena aku sudah biasa melakukan nya.
"Ada apa lagi?" tanya nya santai.
"Aku ingin bertemu keluarga mama yang masih hidup" ujar ku.
Papa menghentikan gerakan nya memainkan ponsel.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya nya.
"Pengen ajja ketemu, gak boleh?" proses ku.
Papa seperti keberatan.
"Terserah kamu" jawab papa singkat.
"Alamat nya di mana?" tanya ku.
"Mana papa tau' nenek dari mama mu juga sudah meninggal" jawab nya.
"Jadi papa gak tau keluarganya mama yang lain?" tanya ku.
"Mama gak punya saudara?" aku terus bertanya.
"Hem, setau papa sih mama kamu punya 3 saudara. Mama kamu anak ke 2.
Ia punya kakak laki laki dan adik perempuan. Tapi papa sendiri belum pernah bertemu dengan Mereka, karena selama pacaran dulu papa hanya sekali ke rumah Leni, mama kamu, itu pun hanya ada nenek dan mama mu saja di rumah, saudara nya sedang tidak di rumah. Ayah Leni sudah lama meninggal sejak ia masih kecil.
Papa hanya hadir saat pemakaman Leni, papa juga gak tau yang mana saudara Leni, dan sekarang mereka ada di mana pun papa tidak tau" seru papa.
Huft. Ternyata tak semudah yang ku bayangkan.
Aku duduk di kursi ruangan itu.
"Papa masih sibuk, jika sudah selesai urusan mu pulang lah" kata papa sembari berdiri.
Papa menoleh sesaat.
"Ya sudah, line 22 jika ingin panggil ob, mereka akan melakukan apa yang kamu minta, di buatkan minum mungkin. Tapi jangan suruh yang aneh aneh ya" jelas papa.
"Siap bos" jawab ku.
Aku pun duduk di bangku CEO kebanggaan papa. Ku putar bangku itu. Ah membosankan. Ku tatap gedung gedung di luar sana, di balik kaca ruang kerja papa.
Tiba tiba pintu diketuk dan masuk lah seorang office boy.
Ia meletakkan secangkir coklat panas ke meja papa.
Aku memutar kursi ku kembali.
OB itu tidak terkejut karena bukan papa yang duduk di sini.
"Ini di suruh pak Rudi, silahkan di minum non" ujar nya.
"Oh , terima kasih yah" jawab ku.
Coklat hangat? lumayan lah.
Baru saja aku angkat cangkir minuman itu untuk mencicipi nya, ponsel ku tiba tiba berdering.
Ku letakkan kembali cangkir itu ke meja dan melihat siapa yang menelepon.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya ku.
"Papa lupa membawa berkas yang ada di meja, sebentar lagi sekertaris papa akan datang mengambil nya." ujar papa.
"Iyaa" jawab ku singkat.
Harus kah memberitahukan aku hal ini? nda penting banget.
Kembali aku mengambil cangkir itu.
Coklat kok aroma nya aneh yah.
Ku teguk sedikit, aku baru sadar itu bukan murni cokelat tapi kopi. Ada kopi nya.
Tubuh ku tiba tiba bereaksi, keringat dingin mengucur dari dahi ku, dada ku tiba tiba sesak.
Aku beringsut jatuh ke lantai sambil memegang dada ku.
Sekertaris datang dan langsung syock mendapati ku terjatuh di lantai. Ia segera menelpon papa dan memanggil ambulans.
Tidak lama kemudian ambulans datang membawa ku. Kantor jadi heboh.
Papa terpaksa membatalkan rapat siang itu.
Di rumah sakit.
"Apa yang terjadi? kenapa dia tiba tiba sakit?" tanya papa pada sekertaris nya.
"Kurang tau pak, saya datang dia sudah jatuh ke lantai memegang dada nya, badan nya dingin" jawab sekertaris papa.
Papa segera masuk ke ruangan ku. Ruang rumah sakit ruang VVIP.
Setelah di beri pertolongan pertama aku pun mulai tenang.
"Dokter, ada apa dengan anak saya?" tanya papa saat dokter keluar dari ruangan ku.
"Alergi, itu reaksi alergi , seperti nya ia mengkonsumsi sesuatu yang membahayakan untuk nya, tapi syukur cepat ditangani, sekarang dia baik baik saja, anda bisa menemui nya, saya permisi dulu yah pak" ujar dokter itu sopan.
Papa bernafas lega dan segera masuk ke dalam menemui ku.
Aku sudah baik baik saja sekarang, posisi ku berbaring.
Papa dan sekertaris nya menemui mu, aku berusaha untuk duduk.
"Tidak usah bangun, baring saja, tadi kamu habis minum apa, apa kamu minum kopi?" tanya papa.
"Loh, bukan nya papa yang suruh ob untuk memberikan minuman itu ke aku, aku pikir cokelat panas ternyata ada kopi nya. Cokelat kopi. Papa tau sendiri kan aku alergi kopi" protes ku.
"Papa tidak pernah menyuruh ob membuat kan minuman untuk mu, kan papa bilang ke kamu jika ingin sesuatu request sendiri mau apa ke ob" protes papa.
"Jadi siapa yang menyuruh nya, yang tau aku alergi kopi kan cuma papa?" jawab ku.
"Ya sudah, kamu jangan banyak pikiran, istirahat lah dulu, tenang saja, papa akan cari tau siapa yang memberi kan mu kopi itu" tegas papa.
__ADS_1