Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 22


__ADS_3

1 jam kemudian papa datang.


"Aku kenapa?" Tanya ku bingung. Aku benar benar lupa apa yang terjadi.


"Kamu kecelakaan," jawab papa saya singkat.


Aku memegang wajah ku yang bengkak dan sakit.


Papa terlihat menyesal dengan perbuatan nya kepada ku. Karena nya wajah ku hancur.


"Tenang saja, papa sudah siapkan rencana baik untuk mu." ucap nya.


Papa? sejak kapan diri nya menyebut papa di hadapan ku.


"Maafkan papa, papa dengar kamu ingin operasi, apa pun keinginan mu papa akan mendukung berapa pun biaya nya". Ujar papa pada ku.


Dari mana dia tau, aku bahkan belum membahas nya, apa Mai?


Kalimat itu sungguh di luar dugaan ku. Aku tidak menyangka papa akan mengatakan itu.


Aku girang tak terkira. Memang itu yang aku ingin kan.


"Aku juga ingin pindah sekolah, selama ini aku jadi bahan bullian teman teman di sekolah, apa lagi jika aku tiba tiba berubah drastis, mungkin tidak ada yang mengenali ku, setalah tau aku operasi plastik aku yakin mereka akan tambah mengejek ku" kata ku.


Papa menatap ku datar.


"Oke" jawab papa singkat.


Seminggu kemudian.


Hari ini aku keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


Papa menguruskan kepergian ku keluar negeri untuk melakukan operasi besar besaran.


Ia mengutus anak buah nya untuk menemani ku selama aku di sana.


Aku menghubungi Mai ,aku mengatakan akan segera ke luar negeri untuk operasi. Mai tersenyum senang mendengar nya.


Liburan setelah ujian sudah berlalu seminggu, jadi tinggal seminggu lagi.


Tapi aku akan libur sangat panjang kali ini.


Aku ingin ke rumah Bimo untuk mengucapkan selamat tinggal tapi berat rasa nya, aku merahasiakan apa rencana ku.


Dan pada akhir nya aku hanya mengutus orang untuk memberi tahukan Bimo bahwa aku sakit dan harus berobat ke luar negeri.


Bimo berkali kali menghubungi ku tapi aku tidak mengangkat nya.


Maafkan aku bimo, sahabat terbaik ku, aku tidak akan pernah melupakan mu.


Operasi ku berhasil, aku sangat bahagia, rasa nya beban dalam hidup ku lepas semua, tidak bosan bosan nya aku bercermin.


Wajah ku cantik, dan badan ku langsing. Sudah sebulan penuh aku dalam perawatan intensif.


Entah berapa biaya yang telah papa keluarkan untuk ini dan hingga kini aku masih tidak percaya melihat diri ku sendiri.


Tubuh ku sangat ringan sekarang, aku harus apadtasi dengan berat badan ku yang sekarang.


Dokter sampai menangis haru melihat hasil karya nya yang berhasil.


Setelah benar benar pulih aku kembali ke Indonesia, tanah kelahiran ku.


Pengawal membawa kan koper ku saat turun dari mobil, aku membuka kacamata hitam ku menatap rumah ku dari luar.

__ADS_1


Siang itu panas terik. Aku melangkah masuk ke dalam rumah.


"Maaf nona, lagi mencari siapa di sini" tanya bi Minah kaget saat aku tiba tiba duduk di sofa, masuk tanpa permisi.


Aku rindu sekali dengan bi minah.


Aku berdiri dan melangkah ke arah bi Minah.


Dia sangat terkejut melihat sikap ku.


Aku langsung memeluk nya erat


"Aku kangen banget sama bibi" ujar ku. Mata ku berkaca kaca. Bi Minah semakin tidak mengerti.


"Aku Lidya bi" kalimat ku membuat bi Minah syock, aku sampai harus memapah nya untuk duduk di sofa. Bi Minah sangat terkejut melihat perubahan ku.


"Astaga, beneran ini non Lidya?, tanya bibi tak percaya. Aku hanya mengangguk.


"Wah, bibi sangat geram dengan tuan. Bibi ingin sekali melaporkan nya ke polisi karena kasus kdrt. Kalo bukan karena non Lidya menahan bibi waktu itu mungkin tuan sekarang sudah di penjara" jelas bi Minah.


"Sudah lah bi, lupakan hari itu. Ambil hikmah nya saja, berkat hari itu aku bisa secantik ini" kata ku bangga dengan tubuh ku meski palsu.


Saat di luar negeri aku mengingat kejadian itu, bukan kecelakaan seperti kata papa, papa sengaja karena sangat marah pada ku.


"Emang gak sakit operasi begitu, tapi cantik banget non, hasil nya natural" puji bi Minah pada ku.


Aku tersenyum simpul.


"Terkadang untuk cantik kita harus berkorban, rasa sakit operasi ku tak seberapa dengan sakit akibat perlakuan papa dan teman teman ku di sekolah, ohh ya bibi gak perlu masak terlalu banyak lagi seperti dulu, lambung ku sudah kecil, gak bisa makan banyak" seru ku.


"Siap non, bibi lanjut kerjaan dulu yah. Istirahat lah di kamar, tuan mungkin sore baru pulang" ujar nya lagi.

__ADS_1


__ADS_2