Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Malam.


__ADS_3

Setelah acara selesai aku segera bersih diri dan berbaring. Aku lelah sekali.


Yugo juga terlihat lelah. Saat ia ingin tidur di samping ku aku mengusir nya.


"Gak usah ikutan tidur di sini deh, kau tidur di sofa saja sana!" pekik ku.


Yugo mengerutkan kening nya.


"Maksud mu? enak aja! kalo mau pisah ranjang kamu ajja yang tidur di sofa!" balas dan tetap berbaring di samping ku.


Aku menguasai tempat. Ku tendang tubuh nya menjauh. Ia pun begitu. Aku jadi teringat drama korea. Ih jijik banget. Aku langsung bangkit dan mengambil satu bantal untuk tidur di sofa, untuk meminimalisir drama ini.


Selimut nya cuma satu?


Dengan kesal aku merampas selimut di ranjang hotel itu.


Yugo tentu saja tidak tinggal diam.


Setelah saling mengusir, sekarang kami seperti tarik tambang merebut kan sebuah selimut.


Tentu dia yang menang dengan tenaganya itu.


Dengan kesal aku mengambil remote ac untuk mengecilkan volume nya.


Yugo sudah mulai tertidur.


Ah syukur lah, setidak nya ia tidak menyentuh ku. Seperti ekspektasi ku selama ini.


Aku bernafas lega.


Aku mengganti baju, pakai baju tidur yang tertutup, celana panjang. Dan mulai tidur.


Jam 5 subuh tiba tiba aku terbangun mendengar suara adzan dari handphone yugo.


Kok aku di sini? Aku di tempat tidur memakai selimut, ku lihat yugo malah tidur di sofa. Ia pun terbangun mendengar alarm di handphone nya.


Aku kembali pura pura tidur.


Ku intip sedikit di balik selimut ia bangkit dari tidurnya dan menuju toilet.


Setelah itu ia hampar sajadah yang di sediakan pihak hotel. Ia mencari petunjuk arah kiblat yang biasa nya di siapkan juga oleh pihak hotel.


Yugo pun mulai sholat subuh.


Yugo sholat? what? sungguh di luar ekspektasi.


Aku masih pura pura tidur.


Ia mengambil Al'quran mini di dalam tas nya dan mulai membaca dengan suara yang sangat pelan nyaris tak terdengar mungkin dia takut aku terbangun.


Karena masih sangat mengantuk aku pun kembali tertidur pulas.


......🌺🌺🌺.......


Menjelang pagi.


Yugo membuka gorden dengan remote control.


Sinar matahari pagi mulai masuk melalui celah jendela.

__ADS_1


Aku pun terbangun.


"Hey anak gadis, jangan Bangkong, nanti rejeki di patok ayam" seru nya.


Aku mengerjapkan* mata ku yang berat untuk bangun.


*Mengedipkan


Berpura pura kaget dengan tempat ku tidur sekarang.


"Kok aku bisa tidur di sini?" tanya ku.


"Kamu jalan sendiri dalam keadaan tidur, tidak sadar, seperti zombi, lalu kamu tidur di situ deh" ujar nya mengada ngada.


"Zombi?" balas ku.


Yugo melemparkan handuk ke arah ku.


"Sudah, gak usah banyak mikir, mandi gih sana, kita kan mau jalan jalan honeymoon" Ujar nya.


"Honeymoon? hoeek" seru ku jijik.


Yugo tertawa.


"Jangan sok muntah gitu, muntah betulan nanti baru kapok, hari ini mungkin aku bisa menahan diri, besok besok bisa saja kan aku khilaf, toh kita sudah halal, aku berhak atas diri mu" seru nya.


Mendengar itu seketika aku merinding.


"Ihh, merinding, horor banget om" balas ku Sembari berlari ke kamar mandi.


Selesai mandi.


"Kamu keluar dulu om, aku mau ganti baju!" pekik ku.


Yugo malah tertegun terdiam melihat ku yang hanya memakai handuk.


Refleks aku berbalik badan.


"Apa yang kau lihat, tutup mata mu, dan keluar Sekarang, aku mau pakai baju!" bentak ku


Yugo menurut. Ia segera keluar kamar untuk memberikan ku ruang untuk memakai baju.


Yugo yang di luar lalu mulai berpikir.


"Lah, ngapain aku keluar, toh sudah suami istri, ngapain malu, ah dasar bocah" umpat yugo.


"Hay bro, masih pagi kok udah ngomel aja sih, mending sarapan yuk" ajak dimas.


"Kau gak pulang?" tanya yugo.


Dimas tersenyum sinis.


"Pulang?haha kau takut aku mengacaukan honeymoon mu!" balas dimas.


Yugo hanya diam. Ini masih pagi untuk bertengkar dengan siapa pun.


"Sarapan lah duluan, aku masih menunggu lidya" jawab yugo.


Dimas memandang nya aneh.

__ADS_1


"Menunggu nya? kok di luar?" tanya dimas bingung.


"Iya karena dia lama banget dandan, aku cape nunggu jadi jalan jalan deh di luar hotel sambil nunggu" jawab yugo bohong.


Ia tidak mungkin bilang kalo lidya gak mau melihat nya pakai baju. Nanti orang mengira pernikahan nya tidak normal, yah memang tidak normal sih, karena mereka tidak saling mencintai.


Dimas tersenyum simpul, ia tau watak lidya, dia tau pasti yugo di usir dari kamarnya sendiri.


"Oh ya udah kalo gitu, aku pergi sendiri, lagian siang ini aku cek out dan pulang ke rumah, Aku sengaja' menginap. Capek banget bolak balik, jauh" protes dimas.


Sementara di dalam kamar aku bersantai setelah memakai baju. Yugo mulai lelah menunggu ,masa ganti pakaian sampai selama ini, hampir 1 jam. Yugo pun masuk kembali ke dalam kamar.


Ketika melihat aku santai main ponsel sambil baring yugo dengan geram merampas handphone ku.


"Ternyata kau sudah selesai pakai baju sejak tadi? kenapa nda bilang sih?! kau pikir enak menunggu, aku mau sarapan, terserah mau ikut atau tidak" pekik yugo marah.


Aku hanya tersenyum menang, karena berhasil mengerjai yugo.


Yugo benar-benar pergi sendirian menuju restoran hotel untuk sarapan. Ia marah karena sikap lidya.


Perut ku lapar, dan aku pun menyusul nya ke restoran.


Sesampai nya di sana yugo sudah hampir menghabiskan sarapan nya.


Aku muncul membawa piring ku ke hadapan nya. Dimas mengamati kami dari jauh.


"Bagaimana? enak? kau pasti tidak akan tahan menghadapi aku, ini baru se perkecil dari pemberontakan ku" bisik ku.


"Pemberontakan? kayak pki ajja lo pake berontak segala" balas yugo.


Yugo menatap ku tak kalah sinis.


"Kita lihat saja nanti" ujar nya lagi


Rintik hujan mulai terdengar turun dari langit ke bumi.


Aku tersenyum.


"Seperti nya langit berpihak pada ku, kita tidak bisa jalan jalan honeymoon seperti ekspektasi mu itu" ujar ku.


Yugo malah tertawa.


"Bukan kah justru bagus hujan hujan begini untuk pengantin baru?" balas nya.


Aku terdiam. Seperti nya aku salah kata. Aku lupa ,otak mesum pria dewasa di hadapan ku ini.


"Jangan harap bisa menyentuh ku!" pekik ku.


"Hahaha, kau takut? takut apa?" tanya Yugo masih tertawa.


"Sudah, gak usah di bahas!" balas ku.


"Haha, kau takut ya di perkosa oleh suami mu sendiri? haha konyol" tawa yugo terdengar semakin menyebalkan.


Aku menghentak meja membuat sebagian orang melihat kami.


Karena risih di perhatikan aku pun pergi dan tidak jadi sarapan tapi Yugo menahan tangan ku untuk pergi dan mempersilahkan aku untuk kembali duduk untuk melanjutkan sarapan.


"Tenang lah, aku tidak akan menyentuh mu sampai kita siap, sampai ada perasaan di antara kita" bisik yugo.

__ADS_1


Bagaimana pun juga Kalimat itu menjadi kalimat penenang untuk saat ini. Sungguh aku tidak siap untuk itu, menerima kenyataan terpaksa menikah dengan orang yang tidak aku cintai saja sudah beban mental buat ku, apa lagi jika harus di paksa melakukan hubungan suami istri untuk saat ini.


__ADS_2