Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Gelap


__ADS_3

"Kenapa memang nya?" ujar Sumiati tanpa rasa takut.


"Tidak. Tidak ada apa apa, aku hanya tidak suka membahas nya" jawab al.


"Ya udah maaf" jawab Sumiati.


"Tapi aku belum selesai loh Alfaro, aku masih punya fakta lain tentang Arya" jawab Sumiati.


Alfaro menatap tajam ke arah Sumiati.


Suasana kian menegang kan.


"Mau tau kenapa aku kuliah di sini? aku memang berniat untuk membuka kasus itu kembali" tegas al.


"Mau aku bantu?" tawar Sumiati.


"Tidak perlu, aku akan balas dendam atas kematian kakak ku yang tidak wajar itu. 10 tahun sudah berlalu, tak di temukan pelakunya bahkan kasus ini di tutup dengan alasan hanya kecelakaan. Aku tidak bisa terima begitu saja. Aku akan membunuh pelaku nya dengan tangan ku sendiri, nyawa harus di bayar dengan nyawa" ucap nya.


Aku terdiam.


Alfaro terlihat seperti psikopat sekarang.


"Gak baik balas dendam, lebih baik doakan saja semoga kakak mu damai di alam sana, pelaku nya juga pasti dapat Ganjaran nya kelak" nasehat ku.


Giliran al yang menatap ku tajam.


"Tidak, kapan, kapan pelaku itu dapat Ganjaran nya, aku tidak bisa menunggu terlalu lama, sudah cukup lama aku menanti kan saat ini" tolak al.


"Sudah 10 tahun berlalu, kau yakin bisa mencari pelaku nya? bisa saja orang itu sudah tidak di sini kan, atau keluar negeri mungkin, logikanya ajja deh, pelaku pasti melarikan diri sejauh mungkin setelah melakukan tindakan kriminal, tapi entah lah, siapa tau pelakunya orang yang kuat otoritas nya di kampus ini sehingga ia bisa membungkam saksi dan membayar mahal pihak berwenang, kita tidak tau kan, tapi kembali lagi ke kamu sih, silahkan lanjutkan apa pun yang kau inginkan" seru ku.


Alfaro menatap ku.


"Mau kah kamu membantu aku mencari pelaku nya?" tawar al.


Aku menatap nya datar.


"Tidak" jawab ku.


Sumiati memukul kepala Alfaro dengan kertas.


"Yee, di tawarin tadi kagak mau, giliran ke lidya, malah minta tolong, ketahuan banget modus nya, awas lo ya!" protes sumi.


Aku tertawa kecil.


"Apaan sih lo, mukul mukul, kalian beda, lo sumi dia lidya, dan sejak awal kan memang aku tertarik dengan nya bukan sama kamu" jawab al.


"Pandai ya cakap mu" seru sumi.

__ADS_1


"Sudah sudah, apaan sih kalian ,kok malah berantem di sini" ujar ku.


"Lo makan apa sih bisa putih begini kulit nya?" tanya Alfaro.


"Makan tanah, gila ya pertanyaan mu, ini keturunan" jawab ku.


Iya benar, aku memang keturunan berkulit putih. Aku tidak pernah merubah warna kulit. Dulu itu aku hanya gendut dan jelek?


Ah aku begitu menyesal merubah nya tapi apa mau di kata. Nasi sudah menjadi bubur ayam.


"Oh begitu, hm entar pulang jalan jalan ke rumah ku mau?" ajak al.


"Mau banget" jawab sumi antusias.


"Aku ngajak lidya ya bukan kamu" ucap al.


"Aku gak bisa, ngapain aku jalan jalan ke rumah mu" tolak ku.


Sumi mendengus kesal.


"Lo gila ya, ngajak bini orang jalan ke rumah lo" jawab sumi.


"Bukan urusan mu" seru al.


"Lidya itu sahabat ku jadi yang berhubungan dengan nya adalah urusan ku" tegas sumi.


Aku berdiri dan menjauhi mereka. Rasa nya kepala ku pusing sekali.


Sumiati panik tapi tidak mampu mengangkat ku. Akhirnya Alfaro yang membawa ku ke ruang kesehatan yang baru.


"Lidya kenapa?" tanya al.


Sumi menggeleng.


"Aku tidak tau, tadi dia baik baik saja" jawab sumi.


Sumi lalu memberikan minyak kayu putih.


Tidak lama kemudian aku pun tersadar.


"Lidya lo udah sadar, ?" tanya sumi khawatir.


Aku menatap Sumiati bergantian dengan al.


"Aku kenapa?" tanya ku.


"Tadi kamu pingsan di kantin" seru sumiati.

__ADS_1


"Ah benar kah, aku juga gak tau kenapa. Kepala ku tiba tiba pusing dan semua terasa gelap , mungkin kurang darah, aku memang sering anemia. Maaf yah" jelas ku.


"Ya ampun, kamu begadang yah semalem, maka nya jangan keseringan main nya tengah malem, subuh ajja hahaha" seru sumiati.


"Yee, gak tiap malam juga kali" jawab ku.


"Wah berarti kalo ga malam siang yah wkwkwk, hm Jangan jangan udah jadi tuh dede bayi nya" ujar sumi senang.


"Hust. Jangan dulu deh, entar gak bisa fokus kuliah nih, masih lama. Kita ajja baru semester 2" protes ku.


"Lah mana kita tau kan rejeki, lo cek gih nanti" pinta sumi.


Alfaro sudah pergi sejak tadi.


"Duh kok aku baru kepikiran sih, dampak nya menikah ya bisa hamil. Mudahan gak deh yah, belum siap nih, masih 19 tahun. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan" jawab ku.


"Haha ada ada deh kamu nih lid, kam ada suami kok takut hamil sih" ujar sumi.


"Bukan takut hamil, aku takut dengan kehamilan itu mengganggu kuliah ku, entar kalo melahirkan cuti lagi dong. Makin lama nanti aku lulus nya, bisa bisa kamu duluan lulus tinggalin aku. Belum lagi anak aku nanti kasian banget gak bisa aku jaga karena sibuk" jawab ku.


"Udah deh, kamu gak usah khawatir, anak itu rejeki dan amanah, aku yakin kamu pasti bisa" seru sumiati.


"Kelas udah selesai kan? pulang yuk" ajak ku.


Sumiati mengangguk.


Al datang membawa kan aku susu kotak.


"Aku dengar kamu kurang darah, nih di minum, gak baik kurang darah dengan perut yang kosong" seru al sambil pamit pulang.


Aku menatap susu kotak itu.


"Ada bener nya juga, kamu minum dulu deh susu nya, lagian nunggu jemputan pasti lama kan" ujar sumi.


Aku mengangguk dan meminumnya.


"Aku rindu bawa mobil, biasanya aku bisa kemana saja yang aku mau, bawa mobil sendiri, sekarang udah gak bisa. Yugo gak izinkan aku bawa mobil, karena lokasi rumah kami yang jauh dari kota" ucap ku sambil minum susu kotak itu.


"Yang sabar yah, semangat dong" jawab sumi sembari memeluk ku.


Aku menatap wanita cantik berdiri di seberang kami. Seperti nya aku pernah melihat nya. Tapi kapan yah. Oh iya aku ingat. Aku bertemu dengan nau di toilet waktu itu.


"Aku parno deh kalo kamu tiba tiba melihat ke satu arah. Jangan begitu dong, kamu serius gak indigo? kamu cek gih" seru sumi.


"Indigo? di cek? bagaimana cara cek nya?" tanya ku bingung.


"Iya juga sih, ah nanti kita pikirkan" jawab sumi.

__ADS_1


"Tapi aku tidak merasa ada yang aneh kok, yang aku lihat semua baik baik saja, bukan sosok hantu menyeramkan seperti yang ada di film atau yang kamu ceritakan itu" jawab ku.


Sumi menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


__ADS_2