
Tante Sifa seperti tidak ingin Maharani melihat foto itu.
"Bukan foto penting kok" ujar Tante Sifa sembari berjalan menjauhi Maharani.
Maharani menatap nya bingung.
Tante Sifa menyembunyikan album itu cukup lama, lama sekali bahkan Maharani tidak pernah melihat nya.
Tante Sifa menyembunyikan album itu.
Setelah itu Tante Sifa kembali memakai make up menor nya untuk keluar rumah, ia akan berangkat kerja. Tante sifa memang jarang pulang ,kadang pulang tengah malam.
Maharani menatap nya curiga.
"Tante tidak menyembunyikan apa pun dari aku kan?" tanya nya.
"Tidak dong, udah yah, Tante berangkat kerja dulu" pamit Tante sifa.
.......🌺🌺🌺.......
Pagi itu. Di rumah.
"Aku ingin ke makam mama" seru ku ke papa.
Papa tidak menjawab seruan ku.
Aku menghentikan langkah nya saat hendak keluar berangkat kerja.
"Berhenti lah mengganggu papa, papa gak ada waktu untuk menemani mu" ujar papa.
Aku menunduk lesu.
Papa menepuk pundak ku.
"Nanti jika papa ada waktu yah, akhir akhir ini papa sibuk sekali" jawab papa menyemangati ku.
"Janji?" seru ku.
"Iya janji" Jawab nya.
Hem, setidak nya papa mau menziarahi makam mama. Wajah yang tak pernah aku lihat di dunia ini seumur hidup ku.
"Ada apa dengan mu, akhir akhir ini sering merengek ke papa mu?" tanya mama Mona.
Aku menoleh ke arah nya.
"Bukan apa apa, oh ya, bagaimana kabar putra di sana, apa dia baik baik saja?" tanya ku.
Mama tidak langsung menjawab. Raut wajah nya seketika berubah.
"Iya dia baik baik saja ,kamu gak perlu khawatir, dia bisa jaga diri sendiri" jawab mama.
"Oh, syukur lah" jawab ku singkat.
"Lidya, mama mau bicara" ujar nya sembari mengajak duduk di kursi dekat kolam. Tempat favorit kami.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya ku.
"Mungkin putra tidak akan pulang lagi kesini" jawab mama.
Jedarrr!!!!
Suara petir terdengar tiba tiba bersama dengan perasaan tidak enak di hati ku.
"Kenapa?!" tanya ku.
"Setelah selesai kuliah nya putra akan langsung ke Kalimantan, pulang ke kampung halaman nya, ia ingin menjaga nenek nya di sana, dan mungkin akan menikah dengan orang di sana, jadi mama mau kamu lupakan perasaan mu pada nya"jelas mama.
"Tidak! pasti terjadi sesuatu, putra gak mungkin meninggalkan aku seperti ini, jika pun kami tidak bersama, bukan kah dia kakak ku, dia pasti kembali sebagai saudara ku!" pekik ku.
"Tenang lah!" bentak mama.
"Tentang? setelah mendengar semua ini aku harus tenang? atau jangan-jangan kamu yang menyuruh nya untuk menjauh dari ku?!" balas ku. Aku kehilangan selera untuk memanggil nya mama.
"Jangan suuzon kamu, mama cuma ingin yang terbaik untuk kalian berdua" seru nya.
"Yang terbaik untuk kami? atau yang terbaik untuk kamu? kami sudah mengalah dengan perasaan kami, harus kah kamu memisahkan kami bahkan sebagai saudara tiri? apa aku gak berhak punya saudara?" pekik ku.
Mama hampir putus asa menenangkan ku.
Mama terdiam mendengar jawaban ku.
Bulir bulir air mata ku mulai keluar.
"Aku sadar diri kok, aku gak mungkin bisa bersama nya lebih dari saudara, tapi aku sayang banget sama putra. Jadi ijinkan aku tetap menyayangi dia sebagai kakak ku" pinta ku.
Tidak, dia harus merahasiakan sakit nya putra sesuai permintaan putra.
Putra gak mau melihat Lidya sedih.
Mama diam saja. Tidak bergeming dan pergi meninggalkan ku.
Sebenarnya Hati nya hancur melihat anak nya sakit. Ia juga belum mendapatkan donor yang cocok untuk putra.
......🌺🌺🌺......
"Papa besok berangkat ke Jakarta, ke rumah Oma, oma sakit" ujar papa tiba tiba.
"Sakit apa?" tanya ku.
"Biasa lah orang tua, kata nya sering sesak dada nya" jelas papa.
"Oh, semoga Oma lekas sembuh" seru ku.
"Kamu mau ikut?" tanya papa.
"Gak bisa soal nya besok ospek mahasiswa baru" jawab ku.
"Wah, besok sudah ospek? waktu tidak terasa ya" ujar papa.
Aku hanya mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah, papa akan pergi sama mama, jadi kami baik baik di rumah yah, jangan suka keluyuran gak jelas" nasehat papa.
"Siap bos ku" jawab ku.
Papa mengelus rambut ku.
"Anak papa sudah besar, cantik lagi" puji nya.
"Hemm. Gombal, memuji atau mengejek nih" protes ku.
"Jika butuh apa apa hubungi saja papa atau sekertaris papa di kantor" seru papa.
"Baik lah, hati hati di jalan yah, salam sama Oma dan opa" jawab ku.
"Iya, belum lagi, masih malam ini, besok baru berangkat, ya sudah papa mau lanjut packing barang, mungkin papa agak lama sampai Oma kamu sembuh, kamu gpp kan sendirian?" jelas papa.
"Iya gpp, tenang ajja, aku kan sudah besar" jawab ku mantap.
"Iya, tetap saja kamu anak gadis nya papa, jadi Jaga diri yah" nasehat papa.
"Siap komandan" jawab ku.
......🌺🌺🌺......
Pagi itu aku sibuk mempersiapkan kan ospek ku ,sedang papa dan mama bersiap untuk berangkat ke Jakarta.
"Papa berangkat yah, ingat, jangan nakal" seru papa.
"Nakal ah" jawab ku.
"Kok gitu, gak boleh nakal" ujar papa.
"Papa ajja nakal bisa sukses" balas ku.
"Gak gitu juga konsep nya, papa kan cowok" jawab papa.
"Tetap ajja, nakal tetap nakal. Emang cowok ajja yang boleh nakal, ?" protes ku.
"Papa blokir ATM mu jika kamu nakal" ancam papa.
"Haha, panik gak, panik gak, panik gak, ya panik lah, jangan dong papah ku sayang, nanti aku shopping bagaimana dong" goda ku.
"Udah ah, ladeni kamu bisa bisa papa dan mama mu ketinggalan pesawat" ujar nya Sembari pamit, aku melihat keluar teras. Papa dan mama masuk ke dalam mobil di antar supir.
Aku melambaikan tangan dari jauh.
Ah, bebas sekali rasa nya. Entah aku mesti senang atau kesepian di rumah sebesar ini.
Ku kuncir 6 rambut pendek sebahu ku sesuai permintaan senior kami.
Memakai ransel dan sebuah papan nama dari karton besar.
Ku pakai kaos kaki yang warna nya beda sebelah sesuai permintaan senior lagi dan lagi.
Aku bercermin.
__ADS_1
"Hay mahasiswi baru, selamat menjalani kehidupan baru" kata ku pada diri sendiri.