Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Episode 45.


__ADS_3

Keesokan hari nya.


Aku melangkah ke dalam kelas.


Suasana masih sepi penghuni. Mungkin aku turun sekolah nya terlalu cepat.


Maharani belum datang, biasa nya dia selalu hadir paling cepat.


Aku mulai duduk di bangku ku. Udara masih pagi. Jam 06.50. Sementara jam pembelajaran berlangsung mulai jam 07.15.


Masih ada waktu untuk sarapan dan lain lain.


Aku sudah sarapan di rumah.


Aku berjalan ke luar kelas. Melihat pemandangan dari lantai 3.


Baru sedikit murid murid yang datang.


"Pagi bener datang nya, kesambet apaan", seru Dimas yang baru hadir.


"Harus nya aku yang bilang begitu, kok kamu cepat datang nya" kata ku.


"Biar bisa ketemu kamu, firasat ku mengatakan bahwa kamu akan datang lebih cepat hari ini hahaha" canda Dimas.


Aku mencubit lengan nya. Akhir akhir ini Dimas berubah. Dulu dia suka sekali mengganggu ku, sekarang dia terlihat lebih baik.


"Aku taruh tas dulu yah" seru Dimas.


Aku tidak menjawab.


Kembali aku menikmati suasana pagi di sekolah, sungguh menyenangkan.


Dimas dari belakang mengetuk kepala ku.


"Ihh apaan sih, hobby banget gangguin orang" protes ku.


"Abis nya kami cantik sih, gemesin" kata Dimas.


"Hmm, kalo aku ternyata asli nya jelek apa kalian akan tetap mau berteman dengan ku?" tanya ku tiba tiba.


"Kok ngomong gitu sih, ya gak mau lah. Ogah, hahahaha, becanda zeyeng" jawab Dimas sambil menyentil jidat ku.


"Serius?" tanya ku.


"Apa sih yang gak buat lili, mau donk" jawab Dimas.


Aku mengeluarkan handphone ku, ku scroll galeri. Lalu ku tunjukan pada Dimas.


"Ini siapa?" tanya Dimas.


"Ada orang aku Nemu foto nya di sosial media, kalo wajah dan badan ku kayak gitu kira kira bagaimana? apa ada yang mau sama aku?" tanya ku.

__ADS_1


Entah kenapa kalo sama Dimas aku tidak keberatan jikalau pun dia mengetahui masa lalu ku.


Dimas berpikir sejenak lalu tertawa terbahak bahak.


"Ihh lucu ya?" aku mulai cemberut.


Dimas mencubit pipi ku.


"Hey, kenapa kau menanyakan itu. Harus nya kamu bersyukur berparas cantik, menurut ku semua manusia di dunia ini pasti punya cinta, Tuhan pasti kasih seseorang untuk bisa mencintai kita apa ada nya.


Karena cinta itu gak hanya dari paras, tapi dari hati. Memang sih gak munafik rata rata orang akan menilai dari wajah dulu.


Tapi setelah mengenal lebih jauh kita akan sadar cinta dan kenyamanan hati gak bisa di ukur hanya dari kecantikan luar saja, tapi dari dalam.


Karena cinta yang tulus dari hati akan membuat orang nyaman dan menetap, jika hanya melihat dari fisik saja itu nama nya nafsu" jelas Dimas.


Kalimat Dimas kali ini benar benar menampar ku, aku mulai menyesali perbuatan ku. Tapi nasi sudah menjadi bubur ayam. Aku harus melanjutkan hidup ku yang sekarang.


"Tumben sekali kamu bijak seperti ini" kata ku sambil terharu.


"Alah, alay lu, emang kenapa sih tanya begituan. Kamu lagi jatuh cinta?" tanya Dimas.


"Ya gak lah, kan cuma nanya doang," pekik ku sambil memukul kecil lengan Dimas.


Dimas bertubuh lebih tinggi sedikit dari Adit. Adit tinggi nya175 cm, sedangkan dimas tinggi nya mencapai 178 cm.


Adit datang melihat keakraban kami.


"Ada yang cemburu nih" kata Dimas.


"Maksud nya?" tanya ku.


"Haha gpp, ini rahasia para lelaki", jawab dimas tiba tiba.


Tidak terasa bel tanda masuk berbunyi.


Aku dan Dimas masuk ke dalam kelas. Saking asik nya bercerita sama Dimas aku sampai tidak melihat Maharani sudah masuk ke dalam kelas. Padahal dia lah yang ku tunggu pagi itu.


Pelajaran bahasa indonesia berlangsung. Membuat ngantuk beberapa siswa.


"Bahasa Indonesia itu penting, beda dengan matematika dan yang lain, dalam ujian bahasa Indonesia jawaban di pilihan ganda nya pasti mirip mirip, beda dengan matematika yang ilmu pasti. Jadi sebenar nya bahasa Indonesia itu lebih rumit dari pada matematika, tak jarang siswa akan terkecoh dengan jawaban mereka sehingga nilai bahasa Indonesia mereka pun jatuh. Begitu banyak siswa yang meremehkan pelajaran ini, jadi mulai sekarang fokus lah dan belajar lebih giat. Semua pelajaran itu penting, jangan anggap remeh " Jelas Bu nila sebelum memulai pelajaran nya.


Kalimat Bu nila serasa ber dongeng sehingga sebagian murid pun ngantuk di buat nya.


Aku hampir tertawa melihat Dimas yang hampir jatuh dari bangku nya karena menahan kantuk.


Bu nila melanjutkan pelajaran nya. Aku fokus memperhatikan nya.


Tiba tiba ada yang melempari ku kertas.


Aku melihat ke sekeliling. Siapa sih yang iseng begini. Ku lihat Dimas hampir tertidur di bangku nya. Dan gak ada yang menunjukan gerak habis melempar.

__ADS_1


Aku pungut kertas itu lalu ku baca.


"Jangan sok jadi pahlawan kesiangan, urus saja urusan mu atau kau akan menanggung akibat nya"


Anonim.


Aku melipat rapi surat itu lalu aku masuk kan ke dalam kantong seragam ku.


Selesai pelajaran Bu nila, aku pun maju ke depan kelas.


"Teman teman, siapa tadi yang melempari ku kertas ini" kata ku sambil menunjukan surat itu.


Tidak ada yang mengaku.


Maisaroh pun ke maju ke depan kelas untuk melihat isi surat itu.


"Tulisan siapa ini,!!?" pekik Maisaroh.


Semua diam. Tidak ada yang berani pada Maisaroh.


"Jika tidak ada yang mengaku kita geledah ajja tulisan mereka" kata Dimas.


Adit hanya diam, mungkin dia masih kesal karena aku dekat sama Dimas tadi pagi. Itu kata Dimas. Dimas bilang Adit suka pada ku. Tapi aku tidak mau ge er. Apa lagi percaya perkataan Dimas.


Melihat Dimas dan Maisaroh membantu ku mencari pelaku akhir nya Adit ikut serta menggeledah tulisan pada buku mereka.


Saat Maisaroh berhadapan dengan Maharani ia melihat raut wajah janggal di mimik wajah nya.


Maharani melindungi semua buku nya.


Membuat Maisaroh harus merampas salah satu dari buku nya.


Teman teman sekelas mulai heboh karena insiden ini.


Semua mata tertuju pada Maharani.


Maisaroh sedikit kesulitan merampas buku itu. Tapi akhir nya ia berhasil.


Maisaroh segera membuka dan melihat tulisan tangan Maharani.


Maisaroh kecewa karena tulisan nya juga bukan tulisan yang sama pada surat itu. Maisaroh menggeleng ke arah ku.


Hasil geledah kami nihil. Aku melihat sekilas senyum sinis dari Maharani.


Jadi siapa pelaku nya?


Adit menepuk pundak ku.


"Sudah lah, jangan di ambil pusing, mungkin hanya orang iseng saja" kata Adit menenangkan aku.


Aku sedikit kesal. Dan mulai mencerna kata kata di dalam surat itu.

__ADS_1


Apa kah pelaku mengetahui tindakan ku selama ini? tapi dari mana dia tau?


__ADS_2