
Real life, kita gak bakal selama nya bisa bersama teman kita yang dulu saat masih sekolah.
Hidup berjalan dan hari berganti.
Memang sih Bisa saja sekedar temu kangen sebulan sekali? tapi kan gak bisa sering, Karena punya kesibukan masing-masing. kecuali jika kita kerja di instansi yang sama, di tempat yang sama, tapi kemungkinan nya kecil sekali.
Pasti banyak yang kuliah di luar kota, ada yang kerja di luar kota, ada yang jadi polisi mungkin, jadi TNI, guru, bahkan dokter, atau apa pun itu, banyak juga yang langsung menikah setelah lulus SMA.
Jadi, peran yang hilang jangan di cari.
Mereka sudah punya kehidupan mereka masing masing, tapi tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali bertemu suatu saat nanti dalam waktu yang tidak di sangka sangka.
π Love you all β€οΈ
Pengalaman author.
......πΊπΊπΊ......
Huft jadi gak semangat kuliah.
Aku satu kampus dengan maharani dan Bimo tapi kami beda jurusan.
Sepulang kuliah aku melihat papa sedang istirahat di teras samping rumah.
Melihat kedatangan ku papa lalu masuk ke kamar nya dan keluar lagi membawa sebuah album foto lama kemudian dia menyerahkan album foto itu pada ku.
"Apa ini?" tanya ku.
"Buka lah" jawab nya.
Aku pun duduk di samping beliau dan membuka album itu.
"Ini siapa?" tanya ku.
"Itu mama sama papa saat masih kelas 2 SMA dulu. Kan kamu yang ingin melihat nya, saat di rumah oma. Papa menemukan itu, ternyata opa yang diam diam menyimpan nya, bahkan oma mu tidak tau" jelas papa.
"Opa memang baik" seru ku.
Ku buka lagi album foto itu.
"Apa tidak ada foto keluarga nya mama?" tanya ku.
__ADS_1
"Tidak ada. Ambil lah, album itu sekarang milik mu" ujar papa.
"Benar kah, makasih papa" jawab ku.
Aku melihat lagi foto papa dan mama memakai seragam putih abu-abu tersenyum manis menghadap ke kamera.
Aku pun ikut tersenyum haru melihat senyum mereka, senyum wanita yang telah melahirkan aku. Seketika air mata haru keluar.
"Mama, aku merindukan mu meski aku tidak pernah bertemu dengan mu" seru ku.
Papa menepuk pundak ku.
"Sabar yah" ujar papa.
Aku masih menatap foto foto itu.
Papa memang sejak dulu tampan wajar jika mama menyukai nya.
Ah mereka pasangan yang serasi.
Aku menutup album itu dan membawanya masuk ke dalam kamar ku.
Menjelang sore aku siap siap untuk jalan ke luar. Aku ingin sekali membeli buku baru.
Aku terdiam melihat seorang pria paruh baya berdiri di depan pagar rumah ku.
Siapa?" batin ku.
Aku menemui satpam penjaga rumah ku untuk menyuruh nya untuk tidak menghalangi jalan.
Aku sedikit parno melihat orang asing seperti itu.
Satpam segera menyuruh nya pergi aku pun langsung tancap gas saat satpam membukakan pagar.
Pria tua itu masih menepi dan melihat ke arah ku. Aku sempat bergidik ngeri dan takut ketika melihat nya sekilas tadi. Ada luka bacotan di wajah nya.
Sesampai nya di toko buku. Aku memilih milih buku yang akan aku beli.
"Lidya wijaya, lama tidak jumpa" ujar nya dari belakang ku.
"Dimas!" pekik ku sumringah. Aku sangat merindukan dimas. Sudah lama kami tidak berjumpa.
__ADS_1
"Santai ajja kali. Kayak lama gak jumpa ajja, padahal memang lama hahahaha" tawa nya.
Aku dan dimas mengambil tempat duduk menepi untuk ngobrol agar tidak menggangu yang lian dengan kebisingan kami.
"Dari mana saja?" tanya nya.
"Harus nya aku yang bertanya seperti itu" ujar ku
"Ah biasa lah, kita kan sedang kuliah sekarang, sibuk masing masing" ujar nya.
"Iya sih, kenapa bukan kamu sih yang sering aku temui, aku selalu bertemu dengan kakak mu yang menyebalkan itu, bikin bad mood ajja!" ujar ku.
Dimas tertawa.
"Dia memang menyebalkan, sejak kecil kami juga tidak pernah akur, papah dan mamah sampai lelah melihat kelakuan kami" jawab dimas.
"Kok ada yang mau sama dia ya, kasihan sekali pacar nya itu" ujar ku.
Dimas terkejut.
"Kok kamu tau kak yugo punya pacar?" tanya nya.
"Ya tau lah, dia selalu membangga bangga kan pacar nya itu ketika bertemu dengan ku" jawab ku.
Dimas tertawa lagi.
Dan aku semakin cemberut.
"Lama kelamaan kamu kok mirip kakak mu yang menyebalkan itu sih, gak sukaaa!" pekik mu.
"Loh kok ngegas. Haha setidak nya aku tidak brengsek seperti dia kan?" seru dimas.
"Iya sih" jawab ku singkat.
"Senyum dong, aku rindu" ujar nya.
Aku tetap cemberut.
Dimas terpaksa menggunakan jari nya ke wajah ku untuk membuat ku tersenyum.
Aku pun tersenyum walau terpaksa.
__ADS_1
"Nah gitu dong, kan cantik kalau senyum" ujar nya menimpali.