Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Toko buku.


__ADS_3

Hem. Kalo cuma jadi cs alias cleaning servis sih gak mungkin juga. Pasti gak enak lah sama Tante nya Maharani.


Aku keluar menuju ruang makan.


Putra tidak terlihat di mana pun.


Praangg!!!


Suara sesuatu seperti habis di lemparkan. Menimbulkan bunyi keras dan mengundang siapa pun yang mendengar nya.


"Cukup mas!!! selama ini aku hanya menahan diri, kau sudah keterlaluan??!" pekik Mama Mona.


Papa yang cukup terkejut akibat lemparan benda itu pun berdiri.


"Terus Mau kamu apa??? hah, masalah kecil di besar besarkan, lagian kamu punya bukti?" tanya papa.


"Bukan bukti lagi tapi aku melihat dengan mata kepala ku sendiri!!!" pekik Mama lagi.


"Apa yang kau lihat belum tentu benar. Hilang kan sifat cemburu buta mu itu!!!" sergah papa.


Aku mematung memandang mereka.


Dari belakang putra menarik ku untuk naik ke atas.


Aku menghempaskan tangan itu.


"Aku lapar!!!" pekik ku.


Tapi putra tetap menarik tangan ku menjauh dari sana.


Putra mengambilkan kunci mobil dan membawa ku ke sebuah warung makan tradisional.


Aku bahkan masih memakai baju tidur.


"Apa kau bisa makan dalam situasi seperti tadi itu?" bentak putra.


"Kenapa emang nya, tidak ada yang menghalangi ku bahkan jika terjadi pembunuhan di hadapan ku" ujar ku santai.


"Kau benar-benar tidak bisa membaca situasi, mereka butuh waktu" seru putra.


"Mereka, bukan aku, aku juga butuh waktu untuk makan, tapi mereka mengacaukan kedamaian di rumah" protes ku.


"Apa kau benar benar tidak di didik sopan santun?!" pekik putra.


"Apa? didikan sopan santun?!" hahaha. Pendidikan macam apa itu?" tanya ku.


Putra memejamkan mata nya sesaat lalu mulai duduk menenangkan diri.


"Maaf" kata nya singkat.


"Untuk apa? toh aku memang benar tidak ada yang mendidik sopan santun dari orang tua sejak aku lahir" jawab ku santai sambil.


"Ya udah makan lah, nanti dingin makanan nya" ajak putra mengalihkan pembicaraan.


Ada apa dengan papa? mereka bertengkar di depan kami? haha lucu sekali.


Selesai makan putra mengajak ku ke sebuah toko buku. Kata nya ada buku penting yang harus dia beli.


"Sebentar lagi ujian nasional, kita harus banyak belajar" seru putra sembari tangan nya sibuk mencari buku di rak rak toko buku itu.

__ADS_1


"Ya, tapi gak juga mengajak ku kemari dengan penampilan ku Seperti ini" protes ku saat sebagian pengunjung mulai menatap ku aneh karena aku memakai baju tidur karakter berwarna pink.


"Haha maaf, soal nya tadi buru buru, gpp tetap cantik kok" seru nya.


Benar benar menyebalkan anak ini , gak berubah. Tapi aku suka gimana dong?


Ku lirik seseorang seseorang yang tidak asing sedang duduk membaca buku.


"Maharani? bukan nya dia takut jalan malam? apa mungkin dia jalan sama Tante nya yang nyentrik itu?" batin ku.


Baru aku hendak menyapa nya seseorang mendekati Maharani.


Dimas? aku terpaku sesaat.


Mereka akrab?


Dasar Dimas, kata nya mau nunggu aku eh cepat banget Deket sama yang lain.


Astagfirullah, Kenapa juga aku harus begini?


Bukan kah aku menyukai putra?


Hay Lidya, sadar, kau gak punya hak menyukai banyak pria, cukup satu di hati mu, setia lah.


Tapi kan putra saudara ku, jalan kami sulit jika bersama.


Sebenarnya ada siapa di hatiku ini.


Kenapa aku bingung. Padahal sudah jelas kan aku bahkan sudah menyatakan nya pada pria di samping ku ini.


Gak gak ,aku gak suka Dimas.


"Lagi liatin apa sih?" Tanya putra .


"Eh bukan apa apa. Sudah dapat buku nya?" tanya ku balik.


"Sudah nih, kamu juga wajib punya buku ini buat melatih ngerjain soal ujian nasional.


Aku mengangguk pelan.


Putra mengambil 2 buku yang sama


Tak ku sangka Dimas ternyata melihat kami.


Dengan percaya diri dia melambaikan tangan ke arah kami.


"Itu Dimas kan, kesana lah dulu, aku mau bayar buku ini" seru putra.


Aku hanya memasang ekspresi datar.


Karena malu dengan baju tidur ku. Lagian kemarin kan aku marah karena dia membohongi ku soal ulang tahun nya itu.


Gengsi dong langsung say hello setelah apa yang terjadi.


Dimas malah berdiri nyamperin aku.


"Sombong banget neng, haha, tapi wajar sih, kamu kan tuan putri, anak sultan" ujar nya.


"Garing" jawab ku singkat.

__ADS_1


Maharani menatap kami dan melambaikan tangan nya. Aku tersenyum dan menuju ke arah nya. Meninggal kan Dimas.


"Kamu di sini juga?" seru Maharani.


"Eh iya, kamu? kok bisa jalan malam?" tanya ku.


"Dimas meminta ku untuk mengajari nya, karena sebentar lagi ujian nasional, jadi dia yang menjemput ku untuk mencari buku dan materi untuk latihan" jawab Maharani.


"Oh gitu, jadi Dimas ke rumah mu?" tanya ku.


"Iya dia jemput aku dari rumah, dan sudah ijin sama Tante ku" jawab nya.


"Oh syukur lah kalo begitu" ujar ku.


Dimas datang dan langsung duduk di samping Maharani untuk melanjutkan belajar nya.


"Kalian belajar di sini?" tanya ku sambil melihat sekeliling.


"Gak, biasa nya di rumah Dimas, atau jika aku tidak bisa keluar Dimas belajar di rumah ku" jawab Rani.


Biasanya? berarti sudah sering.


Dasar Dimas aneh ,kalo ada Maharani ngapain juga dia selalu mengajak ku kemana mana menemani nya. Kan bisa minta Maharani menemani nya


"Haha ada apa dengan pakaian mu itu, lucu banget deh, ke toko buku pake baju tidur haha kocak" seru Dimas sambil menertawai ku.


"Loe ajja yang gak ngerti fashion. Ini lagi jaman pake baju tidur jalan jalan" Jawab ku ngasal.


Putra menepuk pundak ku dan membuat ku sedikit terkejut.


"Ayo pulang, kita juga harus belajar" ajak putra.


"Eh iya, ran aku balik duluan yah" pamit ku pada Maharani saja.


Dimas dan putra saling pandang dengan tatapan aneh yang sulit sekali ku artikan.


Ada apa dengan mereka?


Putra merangkul pundak ku mulai melangkah menjauh dari sana.


Dimas hanya bisa diam diam memandang ku semakin menjauh dari mereka.


Raut wajah ceria nya berubah murung.


"Dimas fokus!!!" bentak Maharani sambil menunjuk ke arah buku.


Syukur toko buku ini memfasilitasi meja dan bangku untuk pembaca walau jumlahnya sangat sedikit.


Kami telusuri jalan menuju parkiran. Ku tatap langit malam ini. Cerah. Banyak bintang meski bulan tak terlihat di mana pun.


Kemana bersembunyi nya bulan itu?


Sepanjang jalan aku memiliki diam. Aku sibuk dengan pikiran ku sendiri.


"Tumben diam, biasa nya rusuh, kamu kenapa?" seru putra.


"Apa papa dan mama baik baik saja sekarang?" tanya ku mengalihkan dari pikirkan ku yang lain.


"Semoga saja, dalam rumah tangga kan sudah biasa terjadi pertengkaran" jawab putra sambil menatap ku.

__ADS_1


__ADS_2