
"Kamu memang terlahir indigo? atau bagaimana?" tanya ku penasaran.
"Keturunan lebih tepat nya" jawab Maharani.
"Kamu gak takut?" tanya ku lagi.
"Perasaan, kita sudah bahas ini deh dulu, ya takut lah awal nya, lama kelamaan terbiasa meski tetap ajja ada momen menakutkan buat ku" jawab nya.
"Iya sih pernah bahas tapi gak detail kan" protes ku.
"Gak ada detail nya sih, ya gitu ajja, memang terlahir seperti ini, jika bisa milih aku juga gak mau begini." seru Maharani.
"Hem gitu, Tante kamu kerja di mana? ups, maaf jika pertanyaan ku terlalu jauh" ujar ku keceplosan.
"Gpp, santai saja, dia kerja di toko baju, sory mungkin kalian gak aneh melihat penampilan nya yang serba terang dan dandanan nya agak berlebihan. Sejak bercerai dia memang sudah seperti itu. Karena penampilan nya itu dia jadi terlihat seperti wanita nakal sekarang.
Padahal Tante itu asli nya cantik natural, gaya bahasa nya agak kasar, harap dimaklumi, tapi asli nya Tante baik banget kok, dia lah satu satu nya orang yang ingin aku bahagiakan di dunia ini, maka nya aku giat belajarnya agar dia bangga, meski dia tidak pernah datang mengambil kan raport ku" jelas Maharani.
Ku tatap asbak dan beberapa sisa potongan rokok di dalam nya.
"Siapa yang merokok?" tanya ku.
"Tante ku lah, masa aku" protes Rani.
Aku takut Maharani tersinggung jika aku membantu nya jadi ku ganti dengan menawarkan pekerjaan mungkin.
Tapi nanti saja aku tanya papa, siapa tau ada lowongan di perusahaan nya.
"Kok malah melamun?" tanya Rani.
"Eh gpp kok, jadi keseharian mu selain sekolah, mengurus rumah?" aku balik tanya.
"Iya, Tante yang masak, aku yang cuci baju, cuci piring dan menyimpun, kami berbagi tugas" seru nya.
Aku mengangguk. Ternyata ada banyak orang susah di sekitar ku, aku memang harus banyak banyak bersyukur.
"Di sini sebenarnya kurang aman, kadang ada preman yang mabuk di depan gang sana, tapi biasa nya malam sih Mereka beraksi, maka nya aku jarang jalan malam. Nanti kamu hati hati yah, jangan sampai malam deh, bukan ngusir yah" ujar Rani hati hati.
Aku mengangguk, refleks aku melirik jam dinding. Sudah pukul 17.00 . Jam 5 sore.
"Tapi tenang ajja, preman preman itu teman nya Tante ku, jika mereka mulai usil, bilang ajja kamu keluarga atau rekan nya Tante ku. Nama Tante ku Sifa. Jadi kamu bisa panggi dia Tante Sifa. Di jamin mereka gak berani deh mengganggu kamu, jika mereka tidak mabuk ,jika mereka mabuk sebaik nya menghindar sebisa mungkin" jelas Maharani seolah aku bakal sering melewati jalan ini.
"Haha iya iya" jawab ku.
"Eh, ada kue buatan Tante Sifa, enak loh, bentar yah" tawar Maharani.
Ia lalu melangkah cepat ke arah dapur.
Maharani keluar lagi dengan nampan berisi kue donat dan teh hangat manis.
"Wah repot repot. Aku masih kenyang nih kan kita abis makan berat", protes ku. Bisa gagal diet.
__ADS_1
"Gpp cicipi ajja sedikit" seru nya.
Akhir nya aku mengambil sepotong donat yang ada di meja itu.
Aku mulai mengunyah.
"Wah, enak banget, lembut, gak terlalu manis", puji ku kesekian kali nya untuk Tante Sifa.
"Dia memang jago masak dan buat kue" seru nya.
Aku bahkan nambah lagi. Wah bahaya ini.
Ku lirik lagi jam dinding, sudah setengah 6 sore.
"Aku pulang deh, takut kemalaman ,takut preman ,haha" ujar ku.
"Oh ok ok, aku antar kamu sampai depan yah" pinta nya.
Ia lalu mengikuti ku keluar dan mengunci pintu rumah nya.
Kami menyusuri jalan , sudah tidak seramai tadi mungkin karena sudah sore.
Sesampai nya di depan gang tempat aku memarkirkan mobil ku.
Maharani melambaikan tangan nya.
"Makasih banyak yah Rani, kapan kapan aku boleh kan main lagi kesini" ujar ku.
Aku tersenyum dan melambaikan tangan juga sembari menatap Rani dari balik kaca spion mobil ku yang mulai bergerak meninggalkan tempat itu.
Ku telusuri jalan yang lumayan jauh dari kota.
......🌺🌺🌺......
Sesampai nya di rumah.
"Dari mana saja?" tanya putra.
"Aku ke rumah Maharani" jawab ku.
"Ke rumah Maharani atau jalan jalan lagi sama Dimas" ejek putra.
"Terserah deh, mau percaya atau gak" jawab ku.
"Lain kali jangan suka bohong lagi yah.
Karena dampak dari bohong itu buruk sekali, mungkin bisa menyelamatkan mu sementara tapi menghancurkan mu selama nya. Aku hanya mengingatkan saja, jangan meruntuhkan kepercayaan orang pada mu" nasehat putra.
"Iya bawel" seru ku.
Ku lihat papa sedang duduk santai di ruang tamu.
__ADS_1
Tumben jam segini sudah pulang.
"Papaaaa" seru ku manja
Ia memasang wajah bingung. Karena tumben aku memanggil nya manja seperti ini.
"Ada apa? pasti ada mau nya nih" jawab papa menebak.
"Ih emang gak boleh gitu anak manja manja dengan papa nya sendiri" protes ku.
Padahal memang ada mau ku haha.
"Langsung ke inti nya saja, mau apa?" seru papa sambil sibuk dengan ponselnya.
"Ada lowongan pekerjaan gak di tempat papa?" tanya ku.
Papa mengerutkan keningnya.
"Ada sih, tapiii hanya orang orang hebat yang ada di sana ,papa gak terima sembarang orang" seru papa.
Aku pun cemberut.
"Sekali sekali gpp lah ambil orang biasa, yah yah yah" rayu ku.
"Memang nya siapa yang mau kamu rekrut?" tanya papa.
"Tante nya teman ku" jawab ku.
"Lulusan apa? kantor papa itu jika lulusan SMA cuma bisa jadi cleaning servis saja, minimal S1 baru bisa di kantor" seru papa.
"Yah kok cuma cleaning servis sih"Jawab ku lesu.
Tapi aku belum tanya Maharani sih Tante nya lulusan apa.
"Sudah lah, berhenti terlalu baik sama orang, naik sana pergi mandi, bau asem, tuh seragam sekolah dari pagi kan?" ujar papa sambil menutup hidung nya.
"Ihh masa sih bau" ujar ku yang tidak terima kenyataan sambil mencium kiri kanan ketiak ku.
Dengan kesal aku pun naik ke kamar ku untuk mandi, sebentar lagi magrib.
Putra seperti biasa sudah bersiap untuk ke masjid.
Kangen banget sama dia, tapi gak bisa terlalu dekat jika di rumah. Takut di lihat mama.
Ku buka gagang pintu kamar ku.
Ku nyalakan air dan mulai berendam di bathtub penuh busa.
Ah nyaman nya. Batin ku.
Selepas mandi aku sholat magrib dan mulai membaca Alquran. Meski masih terbata bata.
__ADS_1
Putra tersenyum mendengar ku membaca Alquran pelan pelan, dari balik pintu ia mendengar nya hingga aku selesai.