
Rumah ku ramai saat ini. Semua keluarga datang termasuk opah dari Jakarta.
Kebetulan oppa sedang ke rumah papa.
Tapi opah tidak lama. Ia sudah pulang duluan sejak tadi. Pulang ke rumah papa. Maklum orang tua.
Acara sudah selesai tapi kami masih berkumpul.
Ada juga mertua ku datang.
" Lidya, sini deh, papa mau bicara" panggil papa.
Aku melangkah ke arah nya dan duduk di samping beliau.
"Kenapa pah?" tanya ku.
"Papa sudah bertemu pemilik villa itu, orang nya mau bertemu dengan mu" seru papa.
"Apa? kok bisa, ngapain coba dia mau ketemu sama aku?" jawab ku.
"Papa tidak sengaja cerita tentang kamu ke dia, sekarang papa bingung, dia sudah mau menjual nya tapi dengan syarat dia ingin bertemu secara langsung dengan kamu" ujar papa.
"Ribet amat yah tuh orang" jawab ku kesal.
"Ya udah nanti atur kan saja jadwal ku kapan bertemu dengan nya, oh ya papa harus menemani ku yah, tidak mungkin kan aku pergi sendirian?" pinta ku.
"Bagaimana yah ,papa lusa mau ke Jakarta antar opah dan mungkin agak lama, mau nyekar ke makan Oma dan pengajian. Tadi nya mau ajak kamu tapi kamu kan sedang hamil dan aktif kuliah, kamu bertemu dengan nya sama yugo ajja yah" jawab papa.
"Ih kok sama yugo yah? soal nya aku mau kasi surprise ke yugo saat dia ulang tahun nanti, kado nya villa itu" jawab ku.
Papa melotot.
"Kamu merengek minta itu semua untuk kado ulang tahun Yugo!" pekik papa.
"Ssttt, jangan nyaring nyaring pah, entar ketahuan rencana aku" jawab ku sedikit berbisik agar papa tidak berbicara nyaring.
Papa geleng geleng kepala.
"Papa mengira itu karena cucu papa, ternyata kamu gak ngidam. Hmm dasar kamu yah, itu villa untuk kamu bukan untuk menantu papa" protes papa.
"Iya iya, kan villa nya atas milik ku juga nanti, papa tenang ajja deh, kami kan suami istri. Harta ku harta nya juga, begitu pun sebaliknya, kami kan hidup bersama pah. Lagian tak seberapa kan bagi papa" jawab ku
"Tak seberapa? papa membayar mahal loh untuk tempat itu, karena sang pemilik terlihat berat untuk melepaskan nya" protes papa lagi.
"Maaf yah pah sudah menyusahkan mu, terima kasih banyak bantuan nya,papa tenang ajja deh, aku dan cucu papa baik baik saja" jawab ku.
Papa menghela nafas berat saat aku mengatakan rencana ku.
"Ya kamu memang harus baik baik saja, jika yugo menyakiti mu, papa tidak akan tinggal diam, kamu tau kan papa orang nya seperti apa, papa juga sering peringatkan yugo untuk menjaga mu dan tidak menyakiti" seru papa.
"Yeyy, jadi papa setuju dengan rencana ku" jawab ku.
Papa menggeleng.
"Tidak, papa berikan apa mau mu, setelah menjadi milik mu kan itu hak kamu, gunakanlah untuk kebaikan mu, bahagia lah, sudah banyak derita yang kamu alami dulu, maafkan papa yah" ujar papa.
__ADS_1
Aku memeluk beliau.
"Ihh kok melow melow sih, gpp kok pah. Itu kah masa lalu, aku juga minta maaf selalu kasar dan membantah papa" jawab ku.
Yugo terlihat menghampiri kami.
"Sayang, ada dimas tuh datang, sama Adit" seru yugo.
Aku lalu menoleh ke arah pintu masuk.
"Wah, aku kesana dulu yah pah, ada temen temen sekolah aku dulu datang" seru ku.
Pak rudi mengangguk, ia melihat putri nya sedikit berlari menghampiri mereka.
"Hati hati! jangan lari lari" papa mengingatkan ki seolah aku masih lah putri kecilnya.
"Siap bos" jawab ku.
"Dimas, adit, apa kabar, ya ampun Kangen banget sama kalian" seru ku sembari mempersilahkan mereka untuk duduk dan mencicipi makanan.
"Alhamdulillah baik" jawab dimas dan adit hampir bersamaan.
Aku tersenyum.
"Kalian masih kompak yah, makan dulu deh baru nanti kita ngobrol-ngobrol, Roni gak ikut?" tanya ku.
"Dia kuliah di luar kota" jawab adit.
"Oh begitu" Jawab ku.
"Hm, Maharani udah gak ada kota ini, dia pulang kampung bersama mama eh tante nya" jawab ku.
"Oh pantas saja aku tidak pernah melihat nya" seru adit.
"Kenapa, lo kangen?" tanya dimas tiba tiba.
"Haha , apaan sih dim, kan cuma nanya, dia kan bagian dari kita dulu" jawab adit.
"Bagian dari kita atau dari kamu?" seru dimas.
Kami lalu meledek adit.
Aku bersyukur sekarang dimas mau bicara dengan ku. Setelah kejadian itu, saat aku menikah, aku sungguh kehilangan sahabat ku yang dulu.
"Makasih banyak yah sudah mau datang" seru ku.
Dimas menyendok makanan ke mulut nya. Adit pun sama. Perlahan mereka kunyah makanan itu.
"Iya sama-sama, enak banget ini, kamu yang masak?" tanya adit.
Aku menggeleng.
"Gak kok, katering hehehe" jawab ku.
Yugo melangkah mendekati kami,ia pun ikut duduk bersama kami.
__ADS_1
Dimas hanya diam.
"Apa yoga menemui mu?" tanya yugo.
Dimas masih mengunyah makanan nya.
Aku menepuk paha yugo.
"Nanti ajja tanya nya, dia kan masih makan" protes ku.
Yugo lalu pergi mengambil kan mereka minum.
Setelah selesai makan kami ngobrol lagi.
"Apa yoga ada menemui mu?" tanya yugo lagi.
Dimas mengangguk.
"Iya, kenapa?" jawab ku sedikit ketus.
Suasana jadi tegang dan canggung. Apa aku harus pergi untuk memberi mereka ruang privasi?
Aku meng kode adit untuk pergi juga.
Baru saja hendak pergi tangan yugo menahan ku.
Adit sudah buru buru pergi untuk sementara ,ia mengambil kue sambil menikmati pemandangan di teras rumah kami.
Aku pun kembali duduk.
"Apa yang yoga katakan pada mu" tanya yugo.
"Hm, kak yoga ingin membawa mu ke Amerika untuk tinggal bersama nya di sana" jawab Dimas.
Kak yoga? dimas kok terkesan lebih hormat pada yoga dari pada Yugo. Soal nya dimas memanggil yugo tanpa gelar kak di depan nya.
"Apa? dia mau membawa mu? kamu gak tau? dia lah yang menyebabkan keluarga kita bangkrut seperti ini" jelas yugo.
"Gak mungkin" bantah dimas.
"Kau tau apa, anak kecil, tanya saja pada papah dan mamah, anak kecil seperti mu tau apa tentang kesulitan orang tua, tau mu hanya bermain-main, menghambur kan uang dan melawan orang tua" seru yugo.
Aku memegang lengan yugo.
"Sudah" bisik ku sambil menggelengkan kepala supaya yugo berhenti memarahi dimas.
Bukan salah dimas, orang tua mereka lah yang tidak adil dalam memperhatikan anak anak mya sehingga dimas tumbuh besar menjadi anak yang kasar dan nakal, syukur nya ia mau kuliah.
"Tidak ada juga yang meminta aku untuk di lahir kan di keluarga ini!" benyak dimas balik.
Yugo kian panas.
Aku menahan yugo dan menenangkan nya agr tidak terbawa emosi.
Papa dari kejauhan sampai menoleh mendengar suara dimas yang lantang.
__ADS_1
Baru saja dimas mau menemui kami, plis yugo jangan membuat nya pergi lagi. Aku tidak nyaman dimas mengasingkan diri seperti tidak mengenal kami.