
Sesampai nya di rumah Maharani.
Aku pun ikut mampir kesana.
Tante Sifa segera mandi dan berganti pakaian nya dengan daster.
Tante Sifa sangat cantik, meski memakai daster. Kulit nya putih bersih, mirip maharani.
Rambut pirang maron nya di ikat.
"Seperti nya aku harus potong rambut deh" seru Tante Sifa.
"Kenapa?" tanya Maharani bingung.
"Yah, mengantisipasi kejahatan orang lain, sakit tau rambut di tarik tarik" jawab Tante Sifa.
"Ran, buatin minum gih buat Lidya" ujar nya lagi ke Maharani.
"Gak usah repot repot deh, aku juga sudah mau pulang nih" seru ku.
"Kok gitu, ih Anggap ajja rumah sendiri, gak usah sungkan" jawab Tante.
Maharani sudah pergi ke dapur.
Beberapa saat kemudian dia datang membawa kan teh.
Huft niat ku pulang cepat jadi tertunda.
Aku ingin mengunjungi Mai seorang diri.
Aku segera menyelesaikan minum teh itu dan pamit pulang.
Ku bawa mobil ku menuju lapas tempat Mai berada.
Sesampai nya di lokasi.
Ku langkah kan kaki ku masuk.
Aku di beri waktu dan ruang oleh petugas.
Kini aku mai berhadapan sekarang.
Terhalang dinding pembatas transparan tapi ada bolongan nya lumayan banyak agar percakapan kami bisa terdengar satu sama lain.
"Hai Mai, hari ini adalah hari perpisahan sekolah, sekolah kita lulus 100%loh " ucap ku haru.
Mai tidak bergeming.
"Apa ini?" ujar nya saat menerima sebuket bunga dari ku beserta cemilan dan keperluan mandi.
"Itu hadiah perpisahan dari sekolah" ujar ku.
"Juara 1 umum?!" pekik nya.
Mai lalu membuang buket bunya itu, ia berdiri dan menginjak nya.
"Kau datang kesini mau pamer pada ku?!" bentak nya.
"Tidak Mai, aku hanya...." ucapan ku terhenti karena Mai memotong nya.
"Berhenti lah mengunjungi ku, aku benci sama kamu, benci sampai kapan pun, jangan pernah muncul lagi di hadapan ku, aku muak melihat mu!" bentak Mai pada ku.
"Tapi Mai" seru ku lirih.
"Kita bukan teman lagi, silahkan pergi, aku tidak butuh belas kasih mu" ucapan itu sungguh membuat ku sedih. Aku tertunduk lesu. Padahal niat ku ingin memberi tahukan kabar gembira kelulusan kami. Tapi sepertinya aku salah. Harus nya aku tidak membahas itu.
__ADS_1
"Maafkan aku Mai. Maafkan aku!" teriak ku sebelum ia menjauh.
Ia menatapku tajam lalu memberi ku salam jari tengah sembari perlahan berjalan menjauh dan di pandu petugas untuk kembali ke jeruji besi. Tidak terasa sudah kurang lebih 1 tahun Mai di sana. Jeruji besi yang dingin, seperti sikap nya saat ini.
Aku pulang dalam kehampaan.
Tiba tiba saja terlintas di benak ku untuk menjadi jaksa. Aku suka menyelidiki sesuatu.
Aku sudah berada di luar lapas.
Udara segar di luar dan langit biru di siang menjelaskan sore ini indah sekali. Ku tadahkan wajah ku ke atas.
Akhir nya aku temukan keinginan ku.
Aku akan kuliah hukum untuk kelak bisa menjadi jaksa. Aku akan membela orang orang yang tidak bersalah.
"Kau gila ya, senyum senyum sendiri menatap langit?" sapa seseorang tiba tiba di hadapan ku.
Sejak kapan orang ini di depan ku. Aku bahkan tidak menyadari nya.
"Bukan urusan anda om" ujar ku.
"Apa?! om kata mu?! aku masih muda ya, belum nikah, bukan om om!!" protes nya.
"Kalo bukan om om jadi apa dong!" balas ku sembari berjalan menjauh.
"Heh, dasar bocah ingusan!" umpat nya.
Aku tidak menghiraukan nya dan membunyikan kunci mobil ku.
Kenapa harus ada dia di mana mana sih, bikin bad mood ajja.
Dasar penghancur mood.
Ada apa lagi kali ini, belum sempat aku masuk ke dalam mobil.
Belum sempat aku berkata kata ia merebut kunci mobil ku dan masuk ke dalam mobil.
What?! apa sih mau nya orang ini.
Aku membuka mobil ku.
"Heh, siapa yang ijinin kau masuk ke dalam mobil ku?! dasar maling" pekik ku.
"Gak usah bacot deh, masuk lah, aku numpang, mobil ku mogok!" balas nya.
"Apa?! jadi begini cara mu minta tolong? kau bahkan gak tau cara bilang tolong? manusia jenis apa sih kau ini" protes ku.
Ia malah menarik tangan ku untuk masuk dan dia yang menyetir mobil ku.
"Bawel!" ujar nya.
Huft. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya untuk menahan emosi jiwa yang aku rasakan.
Mobil bergerak maju perlahan dan mulai berjalan menjauh dari lapas.
Ada keperluan apa sih dia di lapas.
"Kau pasti bertanya tanya kenapa aku ada di sekitar lapas kan?" seru nya tiba tiba.
Aku menatap tidak suka ke arah nya.
"Ge er banget sih om" jawab ku.
Aku terkejut karena mobil di rem mendadak.
__ADS_1
Ku pikir dia marah karena aku memanggil nya om ternyata tidak, ia tiba tiba turun dari mobil.
Ku lihat ia di balik kaca mobil.
Ternyata ada seekor kucing yang hendak lewat di jalan besar.
Ia menggendong kucing itu menuju tempat yang tidak di lewati kendaran.
Sisi lain dari mr.galak, baik pada kucing, yah dia baik sama hewan tapi tidak pada sesama manusia.
Ia kemudian kembali ke mobil dan mengendarai nya.
"Kenapa? aku keren yah" ucap nya percaya diri.
"Najis!" umpat ku.
"Kasar banget sih jadi cewe" kata nya.
Tahan Lidya jangan terpancing emosi.
Aku sedang berusaha untuk tidak meladeni kegilaan mr.galak ini.
Aku diam saja sembari melihat pemandangan jalan.
"Kau ngapain ke lapas?" tanya nya.
"Bukan urusan mu" balas ku.
"Aku ke lapas karena sedang menjenguk teman ku yang di fitnah memperkosa, padahal ia tidak bersalah, wanita itu di perkosa orang lain tapi ia malah menuduh teman ku, miris sekali, padahal ia niat nya membantu justru malah terjebak" jelas nya tanpa aku bertanya.
Aku menatap lurus ke depan jalan, tidak menatap nya sama sekali.
"Kok diam saja" ujar nya.
"Aku gak nanya" jawab ku.
Yugo tersenyum sinis. Lalu tertawa.
Aku tidak menghiraukan nya.
"Aku singgah sebentar yah, mau beli sesuatu" seru nya.
Aku masih tidak menghiraukan nya.
Ia turun dari mobil dan masuk ke sebuah minimarket.
Aku melihat kunci masih di tempat nya.
Segera aku pindah posisi dan tancap gas meninggalkan mr.galak itu.
Aku tersenyum menang.
Tidak ada alasan ku untuk berbaik hati menolong orang seperti nya.
Aku segera pulang ke rumah.
Yugo keluar dari minimarket dan mendapati mobil ku sudah tidak ada.
Padahal ia membelikan ku minuman.
Ia menatap kecewa pada minuman itu, ia lalu merogoh kantong celana nya untuk mengambil ponsel, rencana nya ia akan menghubungi Dimas untuk menjemput nya.
"Loh, kok ponsel ku gak ada, astaga, ketinggalan di mobil si bocah" umpat Yugo.
Sesampai nya di garasi mobil rumah ku, aku baru sadar ponsel nya mr.galak tertinggal di dalam mobil ku.
__ADS_1