Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 71.


__ADS_3

Sesampai nya di lokasi aku dan kawan kawan pun langsung ke sebuah ruangan atlet.


Banyak sekali orang di sana. Dari berbagai bidang olahraga, voli, basket, futsal, badminton dan lain lain.


Hari ini semua perwakilan sekolah yang masuk final bertanding sesuai bidang olahraga masih masing.


Layak nya pesta rakyat, banyak jajanan di sediakan.


Aku memasuki gedung olahraga, Banyak sekali orang di sana. Tribun yang lebih besar, suasana yang lebih ramai.


Putra melambaikan tangan nya dari kejauhan.


Aku lihat Bimo datang bersama teman teman sekelas ku dulu, tumben dia tidak bersama Siska.


Maisaroh dan adit sudah duduk manis di bangku penonton. Aku tidak melihat Dimas.


Aku mengedarkan pandangan ku, mencari Dimas.


Apa dia belum selesai membersihkan toilet?


Ah aku baru ingat toilet di sekolah kan bukan cuma satu, banyak, belum lagi toilet khusus guru. Bisa menyita waktu seharian.


Adit melambaikan tangan dari tribun.


Aku membalas lambaian tangan Nya.


Tiba tiba dari belakang putra sudah menyikut kelapa ku.


"Aduh ,sakit ,putra! rese banget sih!" pekik ku.


"Lihat nih rambut ku jadi berantakan!" bentak ku. Bibir ku manyun karena ngambek.


"Lagi lambaikan tangan ke siapa sih?", tanya nya.


"Mau tau ajja" balas ku sambil merapikan kembali rambut ku.


"Semangat yah" seru putra.


Aku melihat putra sekilas, ada darah keluar dari hidung nya.


"Putra, kamu kenapa, kamu sakit, itu hidung kamu berdarah" tanya ku panik.


"Ah, oh ini, panas dalam biasa jja kok. Nanti juga hilang sendiri" jawab putra sambil mengelap darah itu dengan tangan nya.


"Aku ke toilet dulu yah" kata nya.


Aku menatap khawatir pada putra. Ingin sekali aku mengikuti nya ke toilet tapi pertandingan sebentar lagi akan di mulai.


Aku kembali menatap bangku penonton, Dimas belum datang.


Kami tengah berada di lapangan pertandingan. Lengkap dengan seragam voli khusus sekolah kami.

__ADS_1


Pertandingan pun di mulai. Awal saja aku sudah tidak konsentrasi. Mengingat Dimas dan putra yang tidak ada. Kenapa aku merasa kekurangan jika tidak ada mereka?.


Aku mencoba untuk tetap fokus dan konsentrasi seperti kata putra dulu, aku harus melupakan apa pun kejadian di luar lapangan.


Aku harus bisa profesional.


Putra kembali dan seperti biasa selalu kepedean duduk di bangku cadangan.


Aku bernafas lega.


Skor ketat sekali. 7-8. Kami kalan 1 poin.


Suasana sangat tegang mengingat ini adalah final. SMA n 9 , juara bertahan setiap tahun nya bersama SMA cahaya.


Namun SMA cahaya kemarin tumbang saat melawan SMA n 9. Jadi SMA cahaya berada di peringkat ke 3 sekarang.


Kami tidak tau apa kah bisa juara 1 atau tidak. Lawan kami bukan orang biasa. Mengingat sekolah kami tidak pernah juara bahkan tidak pernah masuk 3 besar sekali pun.


Sudah berada di posisi ini pun Adalah suatu keajaiban menurut ku.


Babak pertama kami kalah. Skor 20-25.


Kami saling menyemangati satu sama lain.


Setelah beristirahat sejenak babak kedua segera di mulai lagi.


Aku menyambut servis dari lawan. Mengarahkan ke Wulan. Pertandingan berlangsung seru. Penonton begitu antusias.


Kami kesulitan mengimbangi kekuatan tim lawan kami yang luar biasa. Kami masih tertinggal, skor 07-11.


Kami bertanding hanya untuk bertahan, untuk mencetak skor rasa nya sulit sekali.


Badan dari tim sebelah juga tinggi dan berisi. Mereka berkulit sawo matang, nyaris tomboi semua. Sementara tim kami kayak model, feminim banget.


Aku mulai kehabisan tenaga. Skor masih tertinggal jauh 10-18.


Harus kah menyerah sampai di sini?


Aku menatap Wulan yang juga kelelahan.


Melanjutkan pertandingan hingga akhir. Memang tidak nya kami sudah berjuang.


Kami kalah lagi babak ke 2 skor 19-25.


Aku sudah tidak berdaya lagi. Menerima kekalahan dengan lapang dada.


Tidak ada babak ke 3. Karena sudah 2 babak kami kalah. Jadi mutlak SMA n 9 menang juara 1. Kami juara 2.


Selesai pertandingan kami saling bersalaman dengan lawan kami.


Tidak ada ekspresi kecewa dari pak dewan, pelatih kami. Ia justru menyemangati kami saat pertandingan selesai.

__ADS_1


"Tidak apa apa, kalian sudah berjuang hingga sejauh ini, bapak bangga pada kalian dam sangat bersyukur, ini keajaiban untuk sekolah kita" seru pak dewan terharu.


Kami saling merangkul.


Tiba saat nya pembagian hadiah untuk kami.


SMA n 9 berdiri di atas Sebagai pemenang juara 1. Kami SMA pelita berdiri di samping kanan nya Sebangau juara 2. Sementara SMA cahaya ada di sebelah kiri, posisi juara 3.


Senyum bahagia menghiasi wajah kami semua. Kami di beri piala medali dan buket bunga.


Sembari berfoto kami mengangkat piala juara 2 untuk sekolah kami SMA pelita.


Ada kepala sekolah dan pelatih di samping kami tersenyum bangga. Pertama dalam sejarah SMA pelita menang dalam event seperti ini. Bidang olahraga lain di sekolah kami sudah kalah di awal pertandingan dulu. Seperti futsal dan basket.


Setelah bubar Dimas baru datang dengan nafas tersengal sengal.


Di tangan nya ada buket bunga dan kartu ucapan selamat untuk ku.


"Kau terlambat?" kata ku.


"Maafkan aku tadi ada...", tiba tiba Dimas kesakitan tepat di depan ku.


"Dimas, apa yang terjadi!!!" teriak ku histeris.


Aku lihat bunga itu terlepas dari tangan nya yang berdarah.


Dimas memekik menahan sakit. Memegang lengan nya.


Mendengar ku berteriak putra dan kawan kawan Segera mendekati kami.


Dimas segera di bopong ke dalam mobil putra di bawa ke rumah sakit. Aku Sampai lupa buket bunga dari Dimas itu yang jatuh di lantai. Aku pun ikut ke sana.


Adit yang terlambat menghampiri kami memungut buket bunga itu. Ia membaca tulisan dalam kartu ucapan.


Adit meremas kertas itu dan membuang bersama bunga nya.


Adit lalu menyusul kami ke rumah sakit bersama Maisaroh yang baru tau kejadian karena dari toilet sedari tadi.


Dengan panik Maisaroh menyusul kami.


Setelah di beri obat penahan sakit Dimas sedikit tenang.


Kami masih menunggu nya di luar dengan cemas.


Ibu Dimas segera datang untuk melihat keadaan nya.


Dan di situ lah aku baru tau Dimas adalah anak broken home, iya hanya tinggal bersama ayah nya yang baru saja bercerai dengan mama nya.


Setelah bisa di kunjungi aku segera masuk. Ku lihat Dimas terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Ia menatap ku saat aku masuk.


"Maaf aku terlambat datang untuk menonton pertandingan mu, selamat yah" ujar nya pada ku.

__ADS_1


"Astaga Dimas, kau masih sempat memberi ku selamat? pikirkan lah keadaan mu, kau bahkan tidak tau kan jika kami kalah" jawab ku.


"Kau tetap juara kok, bagi ku" jawab dimas tiba tiba. Teman teman mulai mundur keluar seolah memberi kami ruang untuk ngobrol.


__ADS_2